Mohon tunggu...
Ika Mulya
Ika Mulya Mohon Tunggu... Melarung Jejak Kisah

Pemintal Aksara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Serial | Percakapan-Percakapan yang Tertinggal (4)

1 April 2020   08:47 Diperbarui: 1 April 2020   08:43 52 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Serial | Percakapan-Percakapan yang Tertinggal (4)
sumber: Pixabay

Masihkah menginginkanku jadi pendampingmu?


Sesederhana itu pertanyaanku, Sayang. Seringan embusan angin yang mengantarkan hening pada persuaan kita di sini. Ya, di teras rumahmu ini, yang masih saja kuimpikan sebagai tempat terbaik menghabiskan sisa usia.

Detik berdetak. Senyap terus merayap. Sebaris pertanyaan kian mengendap.

Kau dan aku kini bak petarung yang sedang terdesak di sudut paling gelap. Bahkan lentera asa dan bara tekad yang sempat menyala-nyala tak cukup jadi penerang. Jalan keluar terlalu gelap, juga sempit. Sedemikian menghimpit hingga kita lupa bahwa masih ada doa-doa yang bisa dilangitkan. Setidaknya, begitulah yang saat ini berputar-putar di benakku.

"Jadi kau hanya akan berdoa agar ibumu merestui kita?" Kata-katamu menyiratkan keraguan terhadap kekuatan doa. "Sampai kapan begini terus?" Semakin jelas gurat ketidakberdayaan kau tampakkan.

Duhai lelaki kesayangan, tentu saja tidak hanya doa. Beribu penolakan telah jelas-jelas kutunjukkan pada mereka. Tidak ada yang mampu melepas selubung cintamu yang telah membebat kuat hati ini. Tidak akan ada. Siapa pun itu. Tidak juga dia yang bergelimang harta, ataupun kedudukan.

"Lalu?"

Seketika aku merasa kau tengah menghujamkan tantangan besar lewat tatapan mata. Pada manik cerlang itu, kau juga sedang mengukur kedalaman cintaku, bukan? Siapa takut!

Demi kau, lelaki pemilik senyum paling menawan, akan kubuktikan. Meskipun berkali-kali air mata pernah tumpah ruah, perempuan yang kau sayangi ini pantang menyerah. Aku petarung cinta sejati.

"Tak terbesit sedikit pun aku meragukan cintamu. Tapi, di titik ini, buatlah aku memantapkan langkah majuku, Sayang."

Separuh jawaban sudah kugenggam. Kau masih ingin bertarung. Setengahnya lagi masih tertutup aura ketidakyakinan. Sulit kuraih, kecuali melesapkan seluruh kecemasanmu lebih dulu.

"Kau akan hidup hanya dengan bergelimang cinta, bukan harta. Hinaan pasti mendera. Bahkan mungkin tanpa jeda. Sanggupkah?" tanyamu dengan tatapan paling kusuka. Teduh.

Aku belum kehabisan logika, Sayang. Tentu saja ada yang tidak bisa kita tebus dengan cinta. Namun, masih ada bahu untuk memikul beban bersama. Masih ada tangan yang bisa saling genggam, mengalirkan segenap kekuatan. Aku yakin, kita bisa melewati badai terdahsyat sekali pun.

"Love will keep us alive."

Kau senandungkan sebaris lirik lagu kesukaan. Pelan, tetapi jelas terdengar. Menyeret ingatanku pada percakapan pertama kita. Eagle benar, katamu saat itu. Cinta akan membuat kita bertahan hidup.

Kau pun tersenyum.

Pada senyummu itu aku melihat sebuah keyakinan terbit. Memancar terang. Membawa selaksa sukacita kian menjulang, menembus langit harapan.

Masihkah menginginkanku jadi pendampingmu?

Kusuarakan lagi pertanyaan yang sama. Di mana pun, perempuan  butuh kepastian.

Kau mengangguk mantap. "Tentu saja, Sayang."

Hening.

Keriuhan telah berpindah ke hati kita. Seketika semburat semringah menghias langit jiwa. Lihatlah, semudah itu kita melewati celah masalah. Bukankah semua ini karena kekuatan cinta?

"Apa yang akan kau lakukan? Maksudku selain berdoa?"

Sampai kapan pun, aku adalah perempuan bersahaja yang paling kau cinta, Sayang. Akan kubuktikan materi bukan segalanya. Bahkan jika perlu, aku akan bersumpah. Apa pun yang terjadi, tidak akan pernah mengiba-iba, mengharap derma pada mereka. Tidak akan!

"Akan kubuktikan pula. Aku lelaki yang membuatmu bahagia. Sebahagia-bahagianya. Sekarang dan selamanya."

Senja luruh.

Kini kita adalah sepasang petarung dengan dada yang menyala-nyala. Cinta telah menumbuhkan segalanya. Arah yang benderang. Sayap-sayap kekuatan siap dikepakkan.

"Bagaimana andai restu tak juga jadi milik kita?" Kau bertanya seraya merenggangkan pelukan. Ada gurat nakal membayang di paras tampanmu.

Terkadang cinta tetap bisa bersatu, walaupun tanpa restu. Dan aku bisa senekat itu.

Kau cubit mesra hidungku, dekapan kembali dieratkan. Perlahan hangat menyusup lembut. Percakapan senja berakhir. Tidak ada yang tertinggal, kecuali hening.

Hari-hari ke depan adalah waktunya pembuktian ditunaikan.




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x