Mohon tunggu...
Muhammad Zulfazaki
Muhammad Zulfazaki Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa/Universitas Syiah Kuala

Untuk hobi dan hal-hal yang saya sukai di waktu senggan setelah berkuliah adalah mengupgrade softskill di bidang foto & videografi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Pengalaman Sebulan Mengikuti Program PMM2 di Universitas Jember

21 September 2022   09:30 Diperbarui: 21 September 2022   11:43 1425
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

                                                                                                    Foto Bersama di Universitas Jember

Perkenalkan nama saya Muhammad Zulfazaki, salah seorang mahasiswa Universitas Syiah kuala yang sedang menjalani program pertukaran mahasiswa di universitas jember tahun 2022. Disini saya ingin berbagi pengalaman seputar hal apa saja  yang pernah saya alami di kampus kebanggaan masyarakat jember. Namun, sebelum itu saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu dan sedikit biografi kampus asal saya.

Seperti yang telah tertera di atas nama saya adalah Muhammad Zulfazaki. Saya berasal dari Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Saya adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Salah satu universitas jantung hati rakyat Aceh. Saya mengambil Program S1 Pertanian, di program studi proteksi tanaman. 

Sekarang saya telah meranjak ke semester 3. Berbicara seputar pertukaran mahasiswa tentu tidak terlepas dengan adat, budaya sekitar kita. Nah, seperti yg di ketahui untuk budaya dan adat di Aceh itu sangat kental dengan syariat Islam. Mulai dari kuliner yang serba halal, pakaian yang harus menutup, dll.

Kita beralih ke Jember, tepat nya sekitaran ruang lingkup universitas jember. Adapun culture shock yang saya rasakan selama perkuliahan di sini adalah belum bisa beradaptasi dengan waktu. Yups, berbeda dengan di Aceh yg biasanya Maghrib berkisar jam 18.45 hingga 18.50. akan tetapi, disini sudah isya dan suasana sudah kian menggelap. Selain itu, saya sangat terkejut pada saat terjadi perubahan jadwal dimana pada mulanya jadwal perkuliahan saya ad di pagi hari berubah menjadi malam tepat nya jam 19.00-20.40 WIB. 

Karena saya mengira kegiatan perkuliahan hanya terjadi di pagi hingga sore, namun ternyata masih berlanjut hingga malam hari. Berbeda dengan di kampus asal saya yg kegiatan perkuliahan dimulai pukul 8 dan berakhir pukul 6 sore dan tidak ada kegiatan apapun pada malam hari bahkan mungkin ada sebagian yg langsung ditutup gerbag nya dan baru akan di buka besok paginya.

Seperti rumor yang mengatakan bahwa biaya hidup Jember sangat murah, yups saya sangat setuju. Harga makanan disini sangatlah murah jika di bandingkan dengan di Banda Aceh disini jauh lebih murah. Selain itu aneka kuliner disini masih sangat pas di lambung masyarakat Aceh. Mengapa? Karena kulinernya masih tidak jauh berbeda dengan berbagai kuliner di Aceh atau dapat dikatakan mungkin hanya beda penyebutan namanya saja. Walaupun ada juga beberapa kuliner disini yang tidak ada di Aceh. Fix bagi kalian yang ingin ke jember, kalian wajib cobain deh nasi rawon atau nasi sotonya, harganya masih di bawah 10.000 an.

Untuk pengalaman berbudaya disini dapat saya katakan masih sangat kental dengan budayanya dan adat istiadat setempat. Dimana seperti pengalaman yang pernah saya dapatkan dari Modul Nusantara. Tepat nya waktu itu kami berkunjung ke salah satu desa yang ada di Jember tepat nya desa Tanoker.

whatsapp-image-2022-09-21-at-11-01-11-632a8d8c8c39af614139c358.jpeg
whatsapp-image-2022-09-21-at-11-01-11-632a8d8c8c39af614139c358.jpeg
                                                                                                        Foto Bersama di Desa Tanoker

Disana kami melihat betapa kental nya adat istiadat setempat. Mulai dari kami datang yang di muliakan dengan pemberian jaan nur (sejenis daun kelapa muda yg di lilitkan menyerupai mahkota) mereka menyambut kami dengan sangat istimewa mereka memberlakukan kami layaknya saudara mereka sendiri. Dan saya sangat salut dengan hal dan tradisi itu. Kemudian kami di jamu dengan berbagai minuman khas setempat dan berbagai buah-buahan lokal. Seperti teh arab (di Aceh bandrek), minuman bunga Telang, dan lain lain.

Selain itu kami juga pernah ke museum huruf dimana ada banyak sekali wawasan yg terbuka disana. Mulai dari mana pertama kali haruf itu berkembang, ada jenis apa saja hingga sampai bagaimana huruf itu masuk ke Nusantara. Dan saya rasa hal itu semua tidak mungkin saya dapatkan di tempat lain tanpa mengikuti program pertukaran mahasiswa merdeka 2 ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun