Mohon tunggu...
Muhammad Zaiin
Muhammad Zaiin Mohon Tunggu... Mahasiswa - MAHASISWA AL HIKMAH INSTITUTE MAKASSAR

Manusia bebas

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Manusia dalam Tinjauan Filsafat

3 Juli 2021   15:12 Diperbarui: 3 Juli 2021   15:40 465
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak syak lagi bahwa manusia dengan segala macam kompleksitasnya adalah menjadi manifestasi penciptaan Tuhan yang sangat sempurna. Konsep manusia telah menjadi subjek bahasan yang maha besar dalam berbagai macam disiplin keilmuan. 

Dari berbagai macam dimensi dan struktur yang menjadi elemen-elemen dasar penyusunan manusia telah menjadi sub-sub turunan yang dapat kita jumpai di berbagai macam disiplin ilmu-ilmu. Namun dalam konteks Filsafat diskursus mengenai manusia itu ditinjau dari perspektif bahwa manusia sebagai satu realitas yang utuh. 

Manusia dilihat sebagai suatu keseluruhan yang ada (wujud). Bahwa persoalan-persoalan yang menjadi sorotan filsafat bukanlah pada hal-hal partikular atau bagian-bagian dari manusia. Filsafat tidak berbicara tentang bagaimanakah mekanisme atau cara kerja organ-organ tubuh manusia, seperti hati, paru-paru, dan lain sebagainya. 

Namun Filsafat dalam hal ini sebagai salah satu ilmu yang mencoba menyingkap apa yang menjadi hakikat dasar (esensi) dari manusia. Sederhananya, karena ada sebagian pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia mengenai dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebarang ilmu kecuali filsafat dan akan menjadi fatal jika hal itu dipaksakan untuk dijawab oleh ilmu-ilmu lain.

Pertanyaan-pertanyaan Filosofis berkenaan dengan manusia yang menuntut jawaban yang rasional dan logis dapat kita jumpai dalam kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan hal ini merupakan sifat alamiah manusia (fitrah). Bahwa manusia selalu mempertanyakan siapa Aku, dari manakah Aku, dan mau ke mana Aku. 

Apakah manusia adalah satu realitas yang bergerak menuju satu tujuan tertentu ataukah tidak. Apakah kematian adalah akhir dari kehidupan. Sebagaimana pandangan paham materialisme bahwa kematian adalah kehancuran itu sendiri. ataukah kematian hanyalah sebagai jalan bagi manusia untuk melanjutkan kehidupan di alam yang lain. Apakah ada yang menciptakan manusia. Jika ada, seperti apakah sosok pencipta itu, mampukah manusia mengenal-Nya ataukah tidak, dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan lainya. 

Dari kesadaran inilah manusia sadar bahwa mengenal diri dan tujuan hidup adalah hal yang sangat esensial dan menjadi substansi dasar dari hidup ini. Dan dari kesadaran ini pula manusia paham bahwa tidak ada satu disiplin ilmu pun kecuali Filsafat yang mampu menjawabnya. Sehingga mau tidak mau, manusia mesti menerima Filsafat sebagai satu-satunya jalan untuk menuju pada hakikat dan kesejatian dirinya.

Namun hal yang perlu diperhatikan ialah, Filsafat dalam konteks ini tidak sepenuhnya mandiri dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan, melainkan ia butuh pada ilmu-ilmu tambahan guna mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, kemudian melakukan suatu studi dan analisis kritis dalam mencapai konklusi-konklusi logis lagi rasional. Sehingga dalam pembahasan ini konsep manusia tidak hanya di tinjau dalam perspektif Filsafat semata melainkan dalam sudut pandang Agama, dan juga Tasawuf yang mana "Insan Kamil" adalah menjadi poros  dan orientasi kajiannya. 

Akan tetapi pertanyaannya, mengapa Filsafat menjadi ilmu yang sangat signifikan dan mengambil peran yang prinsipil dalam masalah ini. Alasannya ialah karena keuniversalan hukum-hukum yang ada di dalam Filsafat. Sehingga tawaran Filsafat mengenai tujuan manusia berlaku pada semua manusia tanpa terkecuali. 

Maka dari itu sumbangsih Filsafat atas manusia adalah sangat besar karena tujuan-tujuan yang di tentukannya memiliki garansi argumentatif secara rasional dan mendapatkan legitimasi dan validasi di dalam teks suci Alquran dan pernyataan-pernyataan para Nabi.

Hal ini menjadi keniscayaan, sebab manusia adalah maujud yang kompleks maka dalam menyelami hakikat eksistensinya butuh pada kajian mendalam dan mesti melibatkan berbagai disiplin ilmu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun