Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Politik

Panggung Permainan Penyusunan Anggaran ala Anies Baswedan

1 November 2019   09:06 Diperbarui: 4 November 2019   09:46 0 2 4 Mohon Tunggu...
Panggung Permainan Penyusunan Anggaran ala Anies Baswedan
ilustrasi: Ansor

Menyusun anggaran dalam setahun kedepan untuk kemakmuran, kok dibilang mencari panggung? Padahal kan itulah panggung yang sebenarnya, untuk memberikan tontonan pada rakyat. Sudah ada dari dulu dan tidak perlu dicari!

Kehebohan Di Media Sosial, Tren Baru Mengawal Anggaran

Ketika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat kehebohan soal "kejanggalan" rencana anggaran Ibu Kota di media sosial maka kehebohan pun melebar menjadi skala nasional. Massa di sosial media menjadi terbelah dua. Ada yang terang-terangan mendukung langkah PSI tetapi ada juga yang 'mati-matian' membela Anies Baswedan sebagai gubernur pilihan.

Saya sih tidak akan berbicara banyak mengenai apa dan bagaiamana menyusun anggaran untuk kebutuhan pemerintahan, nggak paham. Tetapi saya hanya ikut nimbrung sebagai bentuk perhatian seorang manusia di pelosok desa pada negerinya yang kebanyakan "drama".

Era media sosial hari ini memang membuka siapa saja untuk menggelar panggung pertunjukan. Apabila kita ingin dianggap berprestasi, ya viralkan lewat media sosial apa yang kita lakukan. Termasuk, prestasi para politisi ketika bekerja mengawal duit rakyat.

Sebagai partai pilihan rakyat, PSI pun ingin dilihat "bekerja" memperhatikan satu-persatu item rencana anggaran Ibu Kota sampai menemukan lem Aibon dan pulpen yang harganya "lumayan" bikin bingung. Ketika diumumkan di media sosial, ya mereka tidak sedang menciptakan panggung, tetapi _itulah panggung mereka_.

Kalau Pak Anies menyinggung jika PSI mencari panggung, itu salah besar. Toh, panggungnya sudah ada. Mereka kan tinggal memainkan peran masing-masing dalam drama perpolitikan ini. Adegan demi adegan, kita disini ya sedang menonton.

Adegan penyusunan anggaran kali ini mulai masuk kedalam adegan yang seru. Manusia-manusia diatas panggung, mulai 'mencuri perhatian' penonton. Nah, kita yang mulai merasa bosan dengan tontonan yang monoton mulai tertarik untuk kembali memfokuskan perhatian.

Kalau begini kan semua kebagian untung. Media jadi ada berita, pemirsa kembali menonton TV, provider  kembali bergairah karena orang jadi sibuk lagi main internet. Saya pun jadi ada inspirasi membuat oponi di Kompasiana...he...he....

Nah, ke depan sepertinya kehebohan tentang penyusunan anggaran akan menjadi tren perbincangan media sosial. Biasa, diawali di media sosial kemudian media arus utama ikut-ikutan menonton "keributan".

***

Kan kita ini negara demokratis, dimana begitu bangga dengan konsep trias politika. Eksekutif, legislatif dan yudikatif plus media sosial. Eh, namanya seharusnya berubah ya?

Dalam era media sosial, peran anggota legislatif bisa tergerus bahkan tergantikan dalam hal mewakili rakyat mengawasi anggaran. Sekarang rakyat lebih memilih Facebook, Twitter dan koleganya dalam urusan mewakilkan aspirasinya. Ya kan?

Saya sih berharap Bapa/Ibu para anggota dewan sudah harus mulai sadar akan tren ini.  Tidak usah lagi melihat fenomena "lem Aibon" ini sekedar keributan belaka. Tetapi, juga bukan sebagai bentuk gangguan kemapanan sistem pemerintahan. Apalagi menuduh saingan politik mencari "keributan".

(Diramu dari berbagai sumber)


VIDEO PILIHAN