Mohon tunggu...
Muhammad FishalPutra
Muhammad FishalPutra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2019. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia. saya menyukai dan memiliki minat pada sastra, pendidikan, dan psikologi.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Kritis atau Sekadar Narsistik?

30 Juni 2022   16:51 Diperbarui: 30 Juni 2022   17:16 58 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Indonesia merupakan negara demokrasi dimana kekuasaan tertinggi ada pada rakyat. Dimana semboyan atau falsafah yang sering kita dengar adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. 

Oleh karena itu, segala bentuk keputusan tertinggi ada di tangan rakyat. Sebagai lanjutan dari hal tersebut, rakyat berhak menyuarakan haknya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyat juga berhak mengkritik mengenai apa yang dilakukan oleh wakil mereka yang duduk di parlement.

Selama ini sudah kita ketahui beberapa kejadian dimana rakyat mengkritik atau memberi masukan kepada pemerintah agar pemerintah tetap dijalurnya dalam mewakili hak-hak mereka. Beberapa aksi menyuarakan pendapat juga dilakukan, baik melewati sebuah karya sastra, melewati artikel-artikel yang ditulis ataupun berunjuk rasa secara langsung. 

Tentu saja, dalam menyampaikan suatu kritik harus melewati berbagai proses pemikiran kritis sebagai upaya wujud mengemukakan hal-hal yang mendesak dan harus segera diperbaiki. Akan tetapi,di era sekarang yang serba moderen ini, dengan masifnya penyeberan internet dengan beriringan semakin banyaknya pengguna sosial media kritik cenderung hanya sebatas trend mengikuti saja. Banyak sekali ditemui bentuk-bentuk yang mereka anggap “kritik”, namun pada hakikatnya bukanlah kritik. 

Melainkan ejekan semata, atau bahkan sekedar mengikuti trend yang sedang ramai apalagi ditengah-tengah panasnya politik saat ini. Kaum milenial ditengah majunya teknologi informasi begitu mudah dalam menyebarkan atau mengeluarkan kata-kata yang mana bagi mereka itu menyuarakan “suara rakyat” dengan dalih kebebasan berekspresi dan bersuara. 

Secara kuantitas memang banyak sekali para kalangan yang berteriak lantang dengan mengangkat “tangan kirinya” sampai tidak sadar bahwa mereka menyenggol kiri-kanan mereka dengan tangan kanan. Mencoba membenarkan apa yang dilakukan dengan dalih bahwa yang lebih tinggi mencontohkan. 

Banyak yang mengucapkan “Demi kebaikan bersama, demi kedaulatan bersama dan demi kita semua” padahal dihati dan otak mereka masih memikirkan demi nama pribadi dan golongan mereka yang terangkat. Alhasil demokrasi tidak lagi suci kembali.

Kebanyakan dari para milenial ini cenderung melakukan kritik yang kurang berkualitas, hanya sebatas pada ejekan atau cemoohan tanpa adanya data pendukung dan bagaimana cara memperbaiki hal yang dikritiki tersebut. Alhasil jatuhnya merendahkan sautu pribadi bukan terfokus kepada apa yang disoroti. 

Oleh karena itu, perlu adanya pembelajaran mengenai bagaiman cara memberi kritik yang baik. Menurut saya sendiri ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum kita memberikan sebuah kritik, yaitu sebagai berikut.

Fokus Kepada Permasalahan Bukan Pada Individu

Ketika kita mengkritik sesuatu tentu saja ada dua hal yang memotivasi kita untuk melakuakn hal tersebut, yang pertama karena kita amat peduli hal yang kita kritik, kedua karena  kita membenci hal yang kita kritik. Tentu saja ketika kita memberikan kritik kita harus pada posisi netral. Dimana bertujuan agar tulisan kita tidak condong rasa terlalu membenci sehingga mengakibatkan opini yang kita keluarkan menjadi subyektif dan tidak relevan lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan