Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Lainnya - Sosiolog Pertanian dan Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Matinya Oskar Si Kadal Jakarta

20 Agustus 2021   08:34 Diperbarui: 20 Agustus 2021   08:36 273 19 12
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Matinya Oskar Si Kadal Jakarta
Ilustrasi kadal pohon (Foto: DSlight_photography/Shutterstock via kompas.com)

Seekor kodok, seekor kadal pohon, berekor-ekor tikus, dan seekor kucing. Itulah hewan-hewan utama yang berkeliaran di pekarangan depan rumah Engkong Felix. Selain burung gereja, tawon, capung, kupu-kupu, belalang, kumbang, laba-laba, ulat, dan kutu daun. Juga, tentu saja, cacing yang sibuk swakawin di dalam tanah. 

Dari empat ekor hewan utama tadi, kodok dan kadallah yang paling berguna menurut Engkong.  Dua hewan predator serangga kecil itu berguna menekan populasi nyamuk Aedes aegypti di pekarangan. Dengan begitu risiko terkena demam berdarah dengue (DBD) bisa diminimalisir.

Si Kodok dulu diculik Engkong dari Taman Langsat Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sengaja dilepas di pekarangan untuk menjadi predator nyamuk. Tapi akhir-akhir ini kodok itu tak pernah kelihatan lagi. Jadi tak ada lagi yang perlu dikisahkan tentang dirinya.

Karena itu Si Kadallah yang menjadi tumpuan utama Engkong untuk menekan populasi nyamuk di pekarangan. Merujuk film animasi Oscar's Oasis, Engkong menamainya Oskar Si Kadal Jakarta. Tak pernah jelas asal-usulnya. Tiba-tiba saja dia sudah ada di pekarangan. Sepertinya, Oskar adalah karunia.

Kebalikan dari kodok dan Oskar Si Kadal, tikus dan kucing sama sekali tiada guna menurut Engkong. Tikus bahkan sangat merugikan. Kerjanya cuma mengasah gigi, mengerati tanaman bumbu-bumbuan seperti sereh, jahe, dan kencur. 

Puas merusak, tikus-tikus lalu pergi. Mereka meninggalkan tahi berserak atau menumpuk di pojok pekarangan -- sepintas mirip kismis.

Si Kucing, datang sore pulang pagi,   seharusnya menjaga keamanan pekarangan. Sekurangnya menangkapi dan membunuhi tikus perusak tanaman. 

Tapi itu utopia. Faktanya kucing itu takut pada tikus-tikus besar yang ada di pekarangan. Kucing itu pulang pagi sambil meninggalkan onggokan tahi . Engkong tak akan pernah memerlukan tahi kucing,  sekalipun misalnya sedang jatuh cinta sejuta rasa.

Engkong curiga antara kucing, penjaga keamanan dan tikus-tikus, para pencuri dan perusak itu terdapat semacam kolusi. Kucing tak akan menangkap para tikus, sejauh tikus-tikus itu tak mengganggu tidur Si Kucing di atas keset pintu. Dan satu lagi, tikus tak boleh makan daun kemangi kegemaran kucing.

Begitulah, para tikus merajalela keliaran, mencuri, merusak, dan berak (baca: menista) di depan kucing. Kucing pura-pura tak melihat. Atau sekalian dia pura-pura tidur seolah segalanya baik-baik saja.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan