Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Sebuah Retret di Kilometer Seribu Kompasiana

14 Desember 2020   17:28 Diperbarui: 17 Desember 2020   18:30 437 42 42 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sebuah Retret di Kilometer Seribu Kompasiana
Ilustrasi dari idntimes.com/pixabay/earthroom

Kaum tua menyediakan bahu untuk pijakan kaum muda, agar mereka dapat melihat lebih luas dan jauh ke depan. 

Suksesi itu niscaya. Sebab jika tidak begitu, maka perkawinan janganlah membuahkan anak. Supaya dunia berakhir, menyusul kematian lelaki dan perempuan terakhir.

Bertahan itu tidaklah salah.  Tapi, sungguh, tiada eloknya bila aku, si tua ini,  menolak turun dari panggung, senyampang orang muda sudah selayaknya berdiri di sana. Di manakah letak kepantasannya, orangtua merampas masa depan dari genggaman anak.

Ada titik waktu hening. Alangkah indahnya bila aku boleh diam dalam hening itu. Diam, mengalami diri serupa perigi bening di tengah ladang.  Barangkali saja, suatu ketika, ada dua tiga kelana muda melintas di situ. Lalu, siapa tahu, mereka sudi melepas dahaga, dengan satu dua ciduk airnya.

Biarlah kaum muda mengambil selaut riuh di ajang juang, sedangkan bagi kaum tua, cukuplah sisakan setitik hening di liang tapa.

Retret itu diam. Dialah liang tapa yang hening, ruang dan waktu bagiku untuk menepi dari riuh ajang juang. Dalam diam itu, pikiranku lepas meniti waktu ke masa lalu, menyisir segenap lakon yang telah kumainkan. Lalu memamah ulang setiap lakon itu, membuang sepahnya, mengambil sari terbaiknya, dan membagikannya kepada kaum muda yang sudi.

Berbagi itu bajik. Dialah makna terindah dari tahun-tahun sarat berkah yang telah kulalui. Tahun-tahun aku diizinkanNya menghirup udara dan menadah cahaya tanpa bea. Durhakalah aku pada Tuhanku bila maslahat, yang kuraih berkat udara dan cahaya cuma-cuma, tak hendak kubagikan kepada kaum muda yang sudi berdiri di bahuku.

Enam tahun telah lewat. Itulah penggal masa, tahun-tahun aku, si tua ini, melangkah tertatih di jalan Kompasiana, hingga tibalah aku di titik Kilometer Seribu. Ribuan butir pikiran, tersaji dalam seribu tulisan yang mengemas ratusan ribu kata, telah kuhaturkan ke hadapan khalayak. Saatnya kini, di sini, sebuah retret untukku, sebuah hening untuk berbagi dalam diam.

Metode mengayakan logika, humor mengayakan etika, dan puisi mengayakan estetika; senyawa ketiganya adalah  jiwa sebuah tulisan.

Setiap kata punya makna. Maka hendak kubagikan makna dari ratusan ribu kata dalam seribu tulisanku, utamanya kepada kamu, wahai, kaum muda. Walau pun kutahu, makna keseluruhan kata-kataku itu tiada berarti dibanding makna satu kata dari sabdaNya. Tapi, kuingat Dia pernah  bersabda, persembahan janda miskin itu lebih besar daripada persembahan pengkotbah kaya. Sebab janda itu memberi dari kekurangannya, sedangkan pengkotbah memberi dari kelebihannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x