Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Revolusi dalam Semalam

10 Juli 2019   08:55 Diperbarui: 10 Juli 2019   11:23 0 10 6 Mohon Tunggu...
Puisi | Revolusi dalam Semalam
Ilustrasi Foto dari Tribunnews.com

Hari kemarin di depan pintu kamarku masih ada taman bunga menyajikan serangkai ceria dan aroma wangi.  Hari ini di depan pintu kamarku tiba-tiba ada jalan tol berisi aneka kendaraan yang lalu lalang melolohkan bising dan bau asap. Tadi malam aku  telah pindah kamar kontrakan ke sebuah rumah terpenggal di tepi jalur tol.

Hari kemarin ketua partai itu masih memeluk isterinya di atas ranjang empuk sehangat bulu angsa di kamar tidurnya yang jembar mewah. Hari ini tiba-tiba ia terbangun pagi di atas bangku kayu dingin sempit di sebuah kamar tidur yang adalah kakus dan kamar mandi.  Tadi malam ia ditangkap aparat pemberantasan korupsi dan dijebloskan ke ruang tahanan.

Hari kemarin petani itu masih tertawa gembira saat menjanjikan sepasang anting emas untuk isterinya tercinta.   Hari ini ia pulang kepagian dari sawah dengan genangan air di mata memohon maaf kepada isterinya karena harus ingkar janji. Tadi malam banjir bandang telah datang menghanyutkan bulir-bulir padi siap panen di sebidang sawahnya.

Hari kemarin pengembara tua itu diiringi alunan oboe Nella Fantasia masih memberitahu padaku rencananya pergi ke sebuah negeri yang damai dan indah.   Hari ini jasadnya terbaring sepi di dasar kapling satu kali dua meter yang digali sebagai tempat perhentian terakhir baginya.   Tadi malam malaikat maut telah datang menjemput rohnya tanpa didahului sepucuk surat pemberitahuan.**

Jakarta, 10 Juli 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x