Monique Rijkers
Monique Rijkers profesional

only by His grace

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Melalui Yahya Cholil Staquf, Seharusnya NU Bisa Jembatani Perdamaian Israel-Palestina

10 Juni 2018   07:53 Diperbarui: 11 Juni 2018   12:48 2585 4 1
Melalui Yahya Cholil Staquf, Seharusnya NU Bisa Jembatani Perdamaian Israel-Palestina
tangkapan layar AJC South Florida

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH. Yahya Cholil Staguf memilih membatalkan rencananya berpidato di Global Forum AJC di Yerusalem setelah kabar kehadirannya pada acara tahunan komunitas Yahudi Amerika itu beredar luas kemarin. 

Sebetulnya pada 10 Mei 2018, AJC sudah menginformasikan kehadiran Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu dalam situs mereka. AJC South Florida pun sudah mempromosikan Gus Yahya sebagai pembicara yang sudah konfirmasi akan datang. Bahkan dengan bangga memuji NU sebagai organisasi Muslim terbesar di dunia.

Berbicara di depan 1600 orang Yahudi tentang Indonesia dan Islam tentu sebuah kesempatan besar dan penting setelah peristiwa Mako Brimob, Bom Surabaya dan sejumlah aksi terorisme dalam waktu yang berdekatan. Berbicara di sebuah forum global organisasi Yahudi Amerika yang sudah berusia 116 tahun tentu sebuah langkah maju dalam mengambil peran untuk mempromosikan Indonesia, negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia. 

Saatnya membawa usulan-usulan upaya perdamaian konflik dunia (Suriah, Rohingya, Yemen, Palestina, Afghanistan) yang bisa dilakukan oleh Indonesia untuk disodorkan kepada AJC yang cukup berpengaruh dalam berbagai keputusan politik di Amerika.

Namun yang terjadi, Gus Yahya yang juga duduk dalam Konsil Pluralisme Beragama dan Toleransi Amerika-Indonesia (USINDO) dan Direktur Hubungan Antar Agama Bayt ar-Rahmah, sebuah LSM yang memfasilitasi ekspansi global NU malah memilih mundur sebagai pembicara. Jika saya menilai posisi beliau yang begitu mentereng, sikap anti-Israel masyarakat dan pemerintah Indonesia seharusnya tidak membuat Gus Yahya ciut. 

Justru pasca demo 411 dan 212 dengan polemik seputar Al-Maidah 51, masyarakat butuh orang-orang yang membangun jembatan, bukan membangun tembok. Inisiatif mendamaikan Israel dan Palestina bisa dimulai justru oleh NU diikuti pemerintah Indonesia, mumpung sudah menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Namun Gus Yahya sudah membuang jembatan, menampik kesempatan itu, sungguh sangat rugi.

Gus Dur pada tahun 2002 pernah diundang menjadi pembicara di acara Global Forum AJC. Gus Dur menggunakan momen penting tersebut untuk memperkenalkan Islam yang lembut. Pengalaman itu ditulis Gus Dur untuk koran Kedaulatan Rakyat yang dimuat ulang di sini: Ketika berada di Washington DC, penulis menghadiri Konvensi American Jewish Committee (AJC).

Mengapakah hal itu penulis lakukan, padahal AJC adalah sebuah organisasi yang mungkin tidak disenangi jumlah sangat besar kaum muslimin? Jawabannya sederhana saja: bahwa kalau tidak kita terangkan pada mereka, mereka tetap tidak akan tahu selamanya tentang sisi-sisi lembut dari Islam. Mereka hanya tahu kelompok-kelompok teroris dan dan kelompok-kelompok keras lain dalam Islam. Karena itulah penulis menerima undangan mereka untuk berbicara dalam konvensi/kongres organisasi tersebut pada tanggal 8 dan 9 Mei tahun 2002 (Sumber: gusdur.net).

Contoh lain adalah Imam Shamsi Ali yang bermukim di New York. Ia malah pernah menjadi anggota Muslim-Jewish Council AJC pada 2016. Saat menjadi anggota Muslim-Jewish Council AJC tidak pernah ada penolakan dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. 

Lantas mengapa sekarang masyarakat dan sejumlah pihak di Indonesia menanggapi negatif kedatangan Gus Yahya ke acara Global Forum AJC? Apakah hanya karena Global Forum AJC berlangsung di Israel? Jika karena lokasi acara tersebut di Israel sehingga harus ditolak, hal ini menunjukkan betapa kuatnya sentimen anti-Israel di Indonesia, sentimen yang berusaha dihapus oleh Gus Dur, Bapak Pluralisme Indonesia. 

Sebagai pendiri yayasan Hadassah of Indonesia, saya pernah diundang ke Forum Global AJC pada Juni 2017 di Washington DC, Amerika Serikat. Saya sangat menyayangkan keputusan Gus Yahya membatalkan kehadirannya tersebut. Selama mengikuti acara Global Forum AJC selama tiga hari, saya menilai materi acara ini sangat positif. Selain menghadiri sejumlah pertemuan umum dengan topik yang beragam, peserta dapat memilih topik sesuai minat dalam kelompok yang lebih kecil.

Salah satu program yang menarik banyak peminat adalah "Buka Puasa Muslim dan Yahudi".  Begitu banyak orang Yahudi tertarik mengenal komunitas Muslim, ingin mencoba makanan Indonesia dan senang berinteraksi langsung dengan orang Indonesia. Animo yang besar terhadap Islam ini, tentu hal yang patut saya syukuri karena menunjukkan orang Yahudi tidak anti atau membenci Islam. 

Ada pula pemberian penghargaan Unity Award yang diberikan kepada Rabbi Dov Haiyun, Amir Muhammad Sharif Ode, and Father Yousef Yakoub (pemimpin agama Yahudi), Islam Ahmadiyah, dan Kristen Maronite di Haifa, Israel ini menolong sinagoga yang terbakar saat kebakaran hutan November 2016.

Saya berharap kelak suatu saat peraih Unity Award AJC berasal dari Indonesia untuk menunjukkan bahwa di Indonesia memiliki umat beragama yang toleran dan cinta keberagaman serta mendukung perdamaian Israel dan Palestina. Mari kita buktikan bahwa kita ini bukan kaum baper yang memusuhi sebuah negara (Israel) tanpa berupaya mencari solusi melalui forum-forum global. (Monique Rijkers)

#HadassahofIndonesia
#Indonesiatoleran

*Dukung Gus Yahya berbicara di depan Komunitas Yahudi Amerika di Israel