Mohon tunggu...
Moh Tamimi
Moh Tamimi Mohon Tunggu... Jurnalis, Traveler, Guru.

Mahasiswa Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Kerumunan Hitam (Para Pencari Keadilan di Depan Istana)

23 Februari 2021   16:20 Diperbarui: 23 Februari 2021   16:41 73 1 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Moh Tamimi*

Aku melihat kerumunan para pemuda di depan Istana Merdeka Republik Indonesia, Jakarta Pusat, mengenakan bayu dan payung hitam. Mereka berdiri tidak teratur, salah satu di antara mereka memegang megaphone sambil berteriak lantang, lalu disambut dengan teriakan yang lebih keras lagi oleh kerumunan di depannya.

"Hidup korban!" ungkap pria yang memegang megaphone sambil mengepalkan tangan kiri.

"Jangan diam," sambut orang-orang kerumunan itu dengan lantang sembari mengepalkan tangan.

"Jangan diam!" Teriak pria itu lagi.

"Lawan!" Hening seketika.

Aku semakin mendekati kerumunan itu. Pemuda-pemuda di sana ada yang memegang kamera, ada yang memegang spanduk, ada pula yang menyebarkan pamflet, tidak ada satu pun yang kukenal. Sebagian yang mengenakan payung hitam berdiri di tepi jalan menghadap ke arah seberang, gedung istana, ada pula yang menyandang ransel sambil memegang bendera merah putih yang diikat pada tongkat kayu dan diselipkan di ranselnya seperti seorang tentara memanggul laras panjang.

Orang-orang semakin banyak berdatangan, kerumunan itu semakin merapat ke sebuah titik menghadap tiga buah kursi. Aku mendekat ingin memastikan apa yang terjadi. Di depan kerumunan berbaris rapi para polisi yang telah membuat pagar betit. Jalanan tetap riuh, motor-mobil berseliweran tiada henti.

Saat itu aku masih belum mengerti apa yang mereka kehendaki. Aku tanya kepada seorang di antara mereka, apa yang terjadi. Orang itu menyebutkan bahwa itu adalah aksi kamisan untuk menyuarakan penegakan berbagai kasus hak asasi manusia yang tidak pernah ditangani secara serius sampai saat itu, sejak orde baru, puluhan tahun silam.

Tiga kursi kosong tadi mulai diduduki tiga orang laki-laki yang berbeda stile: ada yang berambut gondrong dengan mengenakan kaos dan celana jeans, ada seorang tua dengan rambut yang tak lagi lebat serta memutih, dan satunya lagi adalah seorang pemuda bertubuh atletis.

Dengan semangat berkobar-kobar, mereka bercerita tentang sebuah tragedi yang mereka alami di masa silam, merekalah saksi mata sebagian dari sekian banyak pelanggaran HAM yang sampai saat ini masih belum diketahui kejelasan hukumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN