Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Suara-suara dari Balik Tembok

27 September 2021   06:39 Diperbarui: 27 September 2021   06:40 97 22 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Suara-suara dari Balik Tembok
Sumber: Kompas.com

Ini cerita tentang adikku. Yang entah kenapa mendadak menjadi pendiam. Dan kadang seperti sedang mendengarkan pembicaraan. Kepalanya seperti sedang mengangguk mengiyakan orang yang ada di depannya. 

Juga cerita tentang rumah tua yang aku dan keluargaku tinggali sekarang. Ayahku anak bungsu. Dua kakaknya bekerja di kota lain dan tinggal di sana. Akhirnya, diputuskan rumah itu untuk ditinggali ayah setelah kematian nenek. Kakek sendiri sudah lebih dulu pergi ke dunia sana. 

Ayah bilang, rumah itu dibeli kakek setelah geger 65.  Tadinya, ayah sekeluarga tinggal di pinggir kota. Kemudian kakek membeli rumah ini yang berada di tengah kota. 

Tapi, aku sendiri pernah dengar selentingan dari tetangga, kalau rumah yang aku tinggali ini hasil kakek merebutnya. Rumah ini milik partai terlarang. Ketika geger 65, mereka di tangkap dan dibuang. Rumah ini langsung dimiliki kakekku yang merupakan aparatur negara. 

Entahlah. 

"Ada apa, Dik? "

Adikku tak marnjawab. Dia malah melengos menandakan kalau dirinya tidak suka ditanya atau bahkan dicampuri urusan pribadinya. 

"Cerita ke kakak. "

Raut mukanya langsung bersungut. Sorot matanya berubah begitu tajam. Seperti hendak menerkam musuh paling dibenci. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan