Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen : Tamu Marianem

16 November 2021   01:12 Diperbarui: 16 November 2021   01:28 120 12 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen : Tamu Marianem

Di Kampung kami, Marianem adalah nama seorang penyanyi dangdut. Semua orang yang tinggal di kampung kami mengenalnya, baik tua maupun muda.  Suaranya amat merdu dan mendayu. Semua orang yang mendengarkan suara perempuan itu saat bernyanyi diatas panggung, pasti akan tergila-gila.

Selain memiliki suara yang indah, Marianem dikaruniai Sang Maha Pencipta wajah yang cantik. Semua lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda. Dan para lelaki normal pasti ingin meminangnya menjadi istri. Apalagi Marianem berstatus jomblo. Tepatnya seorang janda yang sudah lama ditinggal pergi suaminya tanpa kabar berita. Tak heran bila banyak lelaki yang mengejar. Ingin menyuntingnya sebagai istri.  Anehnya hingga detik ini, tak seorang pun lelaki yang nyangkut di hati penyanyi dangdut itu.
" Allah Belum memberi jodoh," jawab Marianem saat ditanya kapan menikah. 

Dan frasa Allah belum memberi jodoh menjadi jawaban pamungkasnya dalam memenggal pertanyaan orang-orang tentang status dirinya.

Permasalahan tiba-tiba muncul dan menjadi bahan perbincangan warga Kampung, ketika pada suatu senja yang indah dimana gerombolan burung-burung camar sedang menari-nari di langit yang biru, Marianem kedatangan seorang tamu dari Kota. 

lelaki dari Kota itu sungguh sangat rindu dengan suara Marianem yang lama tak terdengar, maklum, semenjak era Corona datang, Marianem tak manggung. Ada surat larangan dari instansi terkait yang melarang adanya keramaian. Tepatnya kegiatan yang mengundang keramaian. Salah satunya pentas musik.

Lelaki dari Kota itu hidup menduda. Istrinya wafat saat dia melahirkan anak pertamanya yang kini menimba ilmu di sebuah Pesantren. Sehari-hari lelaki itu bekerja sebagai pengajar pada salah satu sekolah menengah pertama di Kota.

Lelaki itu datang ke rumah Marianem dengan diantar oleh para perangkat Desa. Dan Marianem menerimanya dengan senang hati. Keramahan Marianem dalam menyambut tamunya dari Kota membuat obrolan mereka sore itu menukik hingga matahari sudah lelap dalam peraduannya. Seiring hadirnya cahaya rembulan yang mulai datang menghampiri bumi.  

Lelaki Kota itu dengan sikap yang hormat dan dengan tutur kata yang sopan, meminta izin kepada Marianem untuk bermalam di rumah penyanyi dangdut itu. Marianem kini dalam posisi berbalut dilema. Apakah mengizinkan lelaki yang jauh-jauh datang dari Kota menginap di rumahnya atau menyuruhnya pergi dan menginap di tempat lain. Persoalannya di Kampung mereka tak ada penginapan. Dan kalau menyuruh lelaki Kota itu pulang, kendaraan umum tak ada lagi.
" Mohon izinkan saya menginap di sini. Saya bisa tidur di teras rumah Adek," pinta lelaki Kota itu dengan nada sopan bercampur
rengekan bak anak-anak kepada Marianem. 

Penyanyi dangdut itu terdiam. Mulutnya terkunci dengan sangat rapat. Belum terdengar jawaban dari mulutnya.
" Saya masih setia menunggu jawaban Adek," sambung lelaki Kota itu saat melihat Marianem belum memberi jawaban.
Dan seandainya, Marianem mengizinkan lelaki Kota yang bukan muhrimnya menginap di rumahnya, apa kata dunia. Para warga pasti membicarakannya. Walaupun dalam hati kecilnya jujur, penyanyi dangdut itu merasakan sangat kesepian. Dan untuk mengusir kesepiannya, Marianem akhirnya menyalurkan bakatnya sebagai penyanyi. dan mendapat respon luarbiasa dari para penggemar musik.  

Kepala Marianem tiba-tiba mendadak pusing. Tablet pil anti pusing yang telah diminumnya, belum mampu menghilangkan kepalanya yang mendadak pusing. Akkhirnya solusi pun didapat. lelaki Kota itu menginap di Pos Ronda. Dan Marianem akan menyenandungkan suaranya untuk lelaki Kota itu lewat seperangkat alat karaoke yang ada di rumahnya.
" Maafkan saya Pak. Saya sangat keberatan kalau bapak menginap di rumah ini. Maklumlah saya seorang janda. Mohon bapak mengerti dengan perasaan saya dan etika kehidupan di kampung ini. Tapi saya akan menyanyikan beberapa lagu untuk Bapak lewat alat karaoke,"jawab Marianem dengan diksi yang amat sopan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan