Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Misteri Anggrek Bulan

14 Mei 2017   18:39 Diperbarui: 14 Mei 2017   18:43 556
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Suara anjing hutan yang merintih rintih tadi berubah ritme menjadi salakan salakan liar tanpa henti.  Diselingi satu suara lain yang aku kenal dan sering lihat di televisi, burung hantu!  Suasana sangat menyeramkan.  Aku teringat saat dulu terbirit birit ketakutan menonton The Ring.  Ya ampuuunn, ini di luar nalar dan kedewasaanku.  Jauh melebihi kekuatan sombongku.

Seluruh tubuhku diguyur keringat yang membanjir.  Untung saja sedikit rasa malu yang tersisa masih bisa kupertahankan.  Aku berhasil tidak kencing di celana!

Energi yang ada di dalam tubuhku lewat bolong bolongnya sholatku, sering batalnya puasaku, tidak adanya wiridku, sudah habis tersedot oleh hawa hitam kelam yang kini menerjang kami berdua.  Kepalaku pusing bukan main.  Tubuhku menggigil.  Gigiku beradu gemeletukan menahan rasa dingin aneh yang masuk ke dalam setiap lubang dalam tubuhku. Aku memasuki fase trance yang tidak bisa dikendalikan.

Aku lihat Pak Karyo juga mengalami hal yang sama.  Lebih parah malah.  Tubuhnya meliuk liuk seperti cacing dipanggang.  Aku sempat melihat sorot matanya sesaat.  Merah tembaga!  Tapi wajahnya seputih kertas tanpa noda.

Aku tidak tahan lagi.  Ini tidak bisa diteruskan.  Terlalu berbahaya!

Sekuatnya aku berlari ke arah Pak Karyo.  Aku tarik lengannya yang sekarang mencoba mencekik lehernya sendiri.  Telinga, hidung dan mulutnya mulai mengalirkan darah.  Selamat!  Di saat saat kritis itu aku berhasil menyeret pergi Pak Karyo.  Secepat cepatnya aku berlari pergi dengan masih menyeret Pak Karyo.  Peduli setan dengan Anggrek Bulan!  Ini benar benar di luar kuasa nalarku.

Aku tidak tahu berapa lama dan berapa jauh jarak yang aku tempuh.  Bahkan arah yang aku tuju pun ngawur.  Aku seperti diberi kekuatan oleh setan kuburan.  Dan setan itu membawaku sampai ke pinggir jalan yang entah dimana.

Ya Tuhan, setan setan memburu kami sampai di sini.  Mata mata bercahaya sebesar bola lampu halogen berhasil mencapai kami.  Aku sudah tidak punya sisa kekuatan lagi.  Tubuhku ambruk bersama Pak Karyo yang kelihatan sangat kesakitan.  Aku hanya ingat mata mata bercahaya itu menyeretku ke dalam perutnya yang panas.  Suara suara derum mengerikan memecah udara malam yang mati.  Aku sepertinya sudah mati!

----

Aku terbangun dengan kepala berat seperti diganduli batu batu puluhan kilo.  Telingaku berdenging.  Keringat sudah habis tuntas.  Aku masih hidup!  Terimakasih Tuhan!

Aku berusaha keras menyadarkan diriku untuk memeriksa sekeliling.  Tapi itu hanya sepersekian detik saja.  Hantaman palu godam menghajar kepalaku dengan telak.  Semua warna berubah putih pucat.  Menarikku dalam pusaran yang ganjil.  Menuju suatu tempat jauh di bawah.  Sebuah ngarai yang terkira dalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun