Mohon tunggu...
Mila Vanila
Mila Vanila Mohon Tunggu...

Seorang perempuan yang senang berenang dalam kata-kata dan senang merias wajah..

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Buku Kadaluarsa

28 Oktober 2014   02:10 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:31 193 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Buku Kadaluarsa
141441159228971643



Read Book See the world,

Ungkapan itu selalu benar adanya. Lewat buku kita bisa menjelajah waktu, ke masa lalu bahkan ke masa yang akan datang. Seperti ketika saya di kenalkan buku nya Alvin Toffler yang berjudul CULTURE SHOCK. Buku yang terbit sekitar tahun 70an di baca ayah saya pada masa nya dan di perkenalkan pada saya di tahun 90an dan buku ini pula yang member saya gambaran tentang dunia internet di tahun 90an, tentang revolusi digital, komunikasi futuristic dan masih banyak lagi pikiran-pikirannya membawa kita ke masa depan…dan kini kita mengalami nya. Bahwa nanti ada masanya kita akan hanya tinggal click terbuka lah jendela dunia. Kita bisa menjelajah kemana saja.

Belum lagi buku tentang biografi para tokoh yang seakan membuat kita mengenal lebih jauh lagi pemikiran dan alas an mengapa mereka di kenal di seantero dunia. Dan buku serial atau pun ensiklopedia yang sangat saya suka.. waktu saya SD ada ensiklopedia serial bernama HASTA KARYA ANAK-ANAK yang terdiri dari 12 buku yang berdiri sendiri. Ada yang judulnya anak-anak sejagat, bagaimana kerjanya, bumi dan antariksa, dunia binatang, matematika ria dan masih banyak lagi hingga ada yang judulnya petunjuk bagi orang tua. Masing-masing buku itu menarik isi nya menurut saya. Menambah wawasan dan ternyata ketika saya SMP saya senang sekali kalau ada tugas membuat makalah untuk diskusi kelompok… buku-buku tersebut tentu menjadi sumber referensi saya dan tentunya wawasan kita semakin luas. Penyesalan terbesar saya adalah saya tak mampu menjaga buku tersebut hingga hanya tersisa beberapa buku dengan kondisi sampul tebalnya tak terawat lagi. Mungkin dahulu ketika rumah orang tua saya sedang di renovasi. Tapi saya harus membeli buku itu kembali, untuk anak-anak saya nanti dan paling tidak sebagai saksi sejarah pengetahuan yang datang dari masa lalu.

Sebenarnya dengan membaca buku kita bisa memperkaya diri kita dengan ilmu dan pengetahuan tetapi semua kembali pada diri kita. Apakah kita mempertahankan RASA INGIN TAHU selalu menggelora di setiap tarikan nafas kita. Satu pesan ayah saya yang sangat menempel di pikiran saya hingga hari ini adalah… tak ada BUKU USANG, buku akan selalu baru bagi yang belum pernah membaca nya.

Printed Books VS Digital Books

Buku ibarat cinta pertama bagi saya. Kehadiran buku selalu menggairahkan hari-hari saya. Sedari kecil buku sudah menjadi teman akrab saya. Saat paling bahagia adalah ketika ayah saya menjadwalkan pergi ke Gramedia. Gramedia sebagai toko buku paling top se antero Indonesia. Kemana saya melangkah, tempat paling asik selain mencari ke khas an daerah saya selalu mampir di Gramedia. Mau sedang jalan-jalan atau tugas kantor pengen nya ke gramedia membeli buku. Belum lagi kalau ada cuci gudang. Senang bukan kepalang rasa nya.

Kembali lagi pada kisah kecintaan saya pada buku adalah kisah masa kecil. Ayah saya doyan baca buku dan mengkoleksi nya bahkan kadang kalau ada buku bagus seringnya ia  membeli banyak buku dengan judul yang sama dan di bagikan kepada kawan-kawannya atau siapa saja yang di rasa pas untuk menerima bacaan itu.

Ternyata juga ibu saya senang membaca buku tetapi ketika kesibukannya merawat anak-anak dan mengurus salon kecantikannya seperti nya waktu untuk membaca menjadi hal yang langka. sedih juga mendengarnya saat ia bercerita. begitu besar pengorbanan seorang ibu, mengorbankan kesenangan nya demi anak-anaknya dan rumah tangga nya. Belum lagi kalau dengar cerita ibu-ibu yang kehilangan identitas nama nya ketika nama nya berubah menjadi nama anaknya. Seperti Mama Kayla, Ibu Keshya. Untung untuk satu hal ini tak terjadi pada ibu saya. Ia tetap menggunakan nama nya walau di belakangnya ia persembahkan untuk suami tercinta nya .. hahahaha.

Bila teman-teman masa kecil saya mengoleksi mobil-mobilan atau boneka-boneka lucu. Berbeda dengan saya. Buku adalah koleksi saya. ada ritual sebelum tidur yang selalu saya lakukan, yaitu saya selalu menebar buku di sekeliling tempat tidur saya sebagai pagar penjaga. Entah mengapa? tetapi saya merasakan nyaman tidur di temani buku-buku itu. Seperti ada yang menjaga hingga terbangun nanti. Tapi bukan berarti buku nya hanya jadi pagar yaaa… di baca sih sudah pasti.

Senang rasa nya tenggelam dalam tumpukan buku. Mau di toko buku, perpustakaan ataupun penyewaan buku. Saya senang ke perpustakaan-perpustakaan sekolah, atau mulai banyak perpustakaan swasta atau organisasi yang menurut saya cukup memuaskan dahaga untuk membaca buku. Juga sempat pada masa nya mewabah penyewaan buku. Bisa membaca buku tanpa harus mengeluarkan kocek banyak. Seiring perkembangan jaman banyak juga mulai bermunculan toko buku indie ataupun indie publishing dimana kemudahan semakin terasa untuk melepas dahaga untuk membaca dan mendapatkan buku yang bukan mainstream. Semakin kesini juga banyak kemudahan mendapatkan buku hanya dengan online pesan ataupun sekarang era nya ebook.

Saya masih bingung memilih printed book ataupun ebook nih… secara konvensional saya senang mengkoleksi apa yang sudah saya baca. Dan mungkin di suatu ketika saya ingin membaca lagi tinggal ambil buku nya dari rak buku. Atau saya senang memanjakan mata dengan melihat rak buku bertumpuk-tumpuk buku tersusun rapi.. seperti ada sensasi tersendiri. Saya selalu minta di buatkan rak buku di kamar untuk memajang koleksi buku saya. Dan suatu kali saya punya kesempatan main ke rumah Pak Habibie, senangnya bukan kepalang… ketika ada rasa yang berkecamuk di hati ketika memandangi rak buku nya yang demikian besar dan banyakkkkk sekali buku nya. (kalau ada yang pernah menonton film Habibie dan Ainun, kalau tidak salah spot rak buku nya itu mengambil tempat di rumah nya deh).

Kembali pada ebook, sebenarnya perkembangan zaman di era teknologi ini sesuatu bisa di buat semakin compact dan minimalis. Mungkin saya harus terlebih dahulu dilengkapi dengan GADGET yang up2date yaa… Cuma ini sih masalahnya sejujurnya… musti cari doku lebih cepat lagi heheh. Kemarin2 saya masih berdebat dengan ayah saya bahwa, masih lebih asik punya printed book dari pada ebook. Hehehe.. tapi seperti biasa ayah saya mencoba membuka pikiran saya yang sebenarnya blm mau berkata jujur kalau gadget saya masih jauh dr mumpuni hehehe… ayah saya bercerita begini,

Seorang pilot (kenapa pilot karena dunia ayah saya berhubungan dengan dunia penerbangan) dahulu harus membawa manual book ke dalam pesawat. Dahulu pilot selalu membawa koper yang salah satu nya berisi manual book dan logbook nya. Kebayang kan bagaimana ribet nya sepertinya.. dan ketika harus membuka halaman mana yang di perlukan perlu seluruh jari nya untuk bermain pada kertas. Nah coba bayangkan kalau sekarang buku menjadi digital?Mau mampir ke halaman tengah tinggal click, mau mencari topic tentang penurunan darurat tinggal browse di daftar isi digital. Akhirnya saya membayangkan kemudahan yang di dapat lewat ebook…

Tapi tetap saja saya belum bisa memilih… karena kedua2nya mempunyai karakter dan budaya yang berbeda… maksudnya… saya masih cinta printed book sebagai perlambang kebendaan, tetapi saya tak mau munafik kemudahan yang bisa kita genggam dalam ebook atau digital way. Kalau begitu saya ingin tau apa sih yang di bahas di kompasiana nangkring @IIBF 2014 yaaaa… musti hadir nihhhh… eheheh.. kopdar lagi yuk….

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x