Mohon tunggu...
Miftah Mareta
Miftah Mareta Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN walisongo semarang

Saya lebih suka mendengar kan dari pada membaca, saya adalah pendengar yang setia :)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Implementasi Tahapan Perjuangan sebagai Warga Dunia

27 November 2022   09:24 Diperbarui: 27 November 2022   09:35 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kita semua adalah "kosmopolit", warga dunia. Kita semua berasal dari akar yang sama, tidak ada alasan untuk membeda -- bedakan suku, agama, ras, kebangsaan untuk bersikap manusiawi. Dunia ini banyak masalahnya. Kecuali kita selama ini tinggal di gua, tanpa TV dan internet, rasanya kita tak akan tahu bahwa ada banyak masalah dan problem di dunia. Dari peperangan yang tidak pernah berakhir, kebencian antargolongan, hoaks, rusaknya lautan karna sampah plastik, sumber air yang semakin menurun, pemanasan global, cuaca ekstrim, dan masih banyak lagi.
Citizen of the world, Mungkin sebagian manusia pernah atau bahkan detik ini juga berkata dalam hati, "hidup gue sendiri aja udah ribet, ngapain sih mikirin masalah -- masalah besar?" lagi pula namanya saja masalah dunia, apa yang bisa diperbuat sendirian? Untuk apa protes dan bersusah payah? Kita terima saja keadaan planet ini yang penuh polusi, api angkara, dan kehancuran ekosistem! Apakah begitu? Kita semua memiliki kewajiban untuk turut berpartisipasi mengatasi masalah dunia.
Jika semua manusia adalah "Warga Dunia", masalah dunia bisa dihadapi bersama sebagai warga dunia juga. Some things are not in MY control, but it can be in OUR control. jika suatu kondisi tidak bisa diubah oleh satu orang, ia mungkin bisa diubah oleh 100 orang, atau 1.000 orang, atau 1.000.000 orang. Sejarah juga membuktikan bahwa banyak hal besar yang bisa diraih ketika menyisihkan perbedaan dan mulai bekerja sama. Semua itu bisa diubah ketika manusia bersama --sama sepakat untuk bergerak memperbaikinya. Sosial movement, protes, petisi, adalah sekelompok orang yang memindahkan situasi dari domain "not in control" menjadi "in control" ketika di hadapi bersama.
Besarnya dan banyaknya masalah dunia ini membuat konsep "warga dunia" yang berusia 2.000 tahun ini terasa menjadi semakin penting. Kita bisa mengawali perjuangan kita sebagai "warga dunia" secara bertahap. Adakah masalah di kota kita yang bisa kita selesaikan secara bersama? Adakah bagian dari warga sekitar yang menderita yang bisa dibantu, apapun agama dan latar belakangnya? Lebih luas lagi, adakah isu -- isu warga yang menuntut "warga dunia" bekerja sama untuk memecahkannya?  Dari isu ekonomi, politik, gender, bencana, penyakit, kekurangan gizi, sampai ke persekusi kelompok minoritas -- bahkan di Indonesia saja banyak masalah yang bisa di selesaikan oleh kita semua bersama -- sama sebagai saudara sebangsa.
Selain itu, bagaimana kita masing -- masing bisa menahan arus ujaran kebencian dan diskriminasi dari lingkungan kita sendiri? Contoh dari hal yang sangat sederhana, seperti di media sosial. Banyak dari kita yang terganggu dengan konten media sosial yang bersifat menghasut dan membenci mereka yang diam. Sebagian dari kita memilih "diam" tidak mau mencari masalah dengan orang lain. Namun ujaran kebencian tersebut tidak pernah dibahas. Pembahasan ini sama seperti kata -- kata Cania Citta mengenai analog mobil yang rusak dan ditinggal saja di jalan.  Kita semua memiliki kewajiban moral untuk membela mereka yang terzolimi, termasuk mereka yang berasal dari suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda. Karena ketika kita dan kelompok kita sendiri yang terancam, kita pun ingin dibantu orang lain tanpa di diskriminasi.
Beberapa banyak diantara kita yang hatinya tidak tergerak jika membaca, mendengar, atau mengetahui adanya penderitaan dari saudara sebangsa yang berbeda suku, agama, ras, bahkan pilihan politik? Banyak diantara kita yang tidak merasakan simpati saat membaca penderitaan tersebut. Tetapi orang bijak tidak akan berpartisipasi dalam urusan public, kecuali terpaksa. Dan orang bijak akan terus berpartisipasi dalam urusan public, sampai ia tidak mampu lagi.
Menjadi "warga dunia" artinya juga menerapkan prinsip keadilan, keberanian, kebijaksanaan, dan menahan diri, juga kepada mereka yang memiliki agama, keyakinan, suku, ras, bahkan kebangsaan yang berbeda dari kita, itulah perikemanusiaan yang sejati. Kita bisa mengawali perjuangan kita sebagai "warga dunia" secara bertahap.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun