Mohon tunggu...
Mia Rosmayanti
Mia Rosmayanti Mohon Tunggu... Penulis - Freelancer

Menulislah dan jangan mati.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hembusan Angin Terakhir

19 September 2020   23:17 Diperbarui: 19 September 2020   23:36 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Aku melihat kaca yang tergantung takberdaya, takpunya pilihan lain selain menyatu pada dinding putih berdebu. Layaknya seorang gadis yang tinggal di dalamnya.


Gadis berkulit pucat itu duduk di hadapanku dengan rantai-rantai yang tak terlihat. Warna kulitnya hampir menyatu dengan gaun putih yang sedang sibuk Ia kibas-kibaskan dengan kasar. Bibirnya terlihat cekung, dipenuhi senyuman duka. Sesekali kulihat Ia berkedip, berusaha keras menggerakkan kelopak matanya yang rapat satu sama lain karena bengkak.


"Apakah kamu memanggilku?" Tanyanya.
Aku hanya mengangguk lemah.


Kini gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arahku, menatap wajahku dengan seksama. Dari sudut lain, aku berhasil menangkap kilau kecil pada bola matanya yang gelap dan dalam. Mataku tiba-tiba memanas, membendung perasaan rumit yang tidak kupahami.


"Aku ingin mati." Kataku serak.


Dia menarik tubuhnya ke posisi semula, "Apa dunia memang sekejam itu padamu?" Dia menarik napas berat sembari melepas sebuah mahkota kecil yang bertengger di kepalanya. Entah bagaimana sebuah sisir kecil sudah berada berada di tangannya. Kini ia memangku rambut hitamnya yang panjang sambil menyisir perlahan.


"Bukan dunia." bantahku dengan suara yang sedikit bergetar.


"Bukan dunia yang kejam padaku... tapi aku..."

Ucapanku terpotong. Rasanya seperti udara yang sudah kuhirup tiba-tiba menguap begitu saja dari paru-paruku. Aku menarik napas dengan rakus, memaksa oksigen untuk segera memenuhi rongga-rongga ini.


Aku menatap wajah gadis itu. Padahal dia sangat tahu kalau aku sedang kesakitan, tapi raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Masih tetap datar.


Aku tertawa kecil. Antara takjub dan miris. Tidak seperti kebanyakan orang yang berlomba-lomba memasang topeng khawatir, Ia justru bersikap seolah-olah sikapku adalah hal yang tidak mengagetkan lagi baginya. Seolah ini bukan pertama kalinya aku membagikan luka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun