Mohon tunggu...
Merza Gamal
Merza Gamal Mohon Tunggu... Konsultan - Pensiunan Gaul Banyak Acara

Penulis Buku: - "Spiritual Great Leader" - "Merancang Change Management and Cultural Transformation" - "Penguatan Share Value and Corporate Culture" - "Corporate Culture - Master Key of Competitive Advantage" - "Aktivitas Ekonomi Syariah" - "Model Dinamika Sosial Ekonomi Islam" Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Quiet Quitting Tidak Sama dengan Ketidakdisiplinan Pekerja

26 September 2022   10:23 Diperbarui: 28 September 2022   01:45 573
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Misalnya, mungkin karyawan/pegawai secara rutin menerima panggilan pribadi (baik telepon, WA, line, dan japri lainnya) atau memperbarui akun jejaring sosial (FB, IG, YT, TikTok, dan lainnya) pada waktu jam kerja perusahaan. Mereka melakukan hal tersebut karena pekerja lain tampaknya melakukan hal yang sama.

Buku pegangan karyawan yang diberikan oleh perusahan telah mencantumkan pelarangan kegiatan pribadi pada jam kerja. Akan tetapi, banyak karyawan yang melakukan hal tersebut, mungkin tidak jelas bagi pekerja bahwa perusahaan menganggap ini sebagai tindakan yang salah. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan karyawan buku pegangan terperinci yang menguraikan harapan disiplin, termasuk konsekuensi pelanggaran.

Jadi, yang dimaksud dengan quiet quitting sebenarnya adalah penerapan work-to-rule, di mana karyawan bekerja dalam jam kerja yang ditentukan dan hanya terlibat dalam aktivitas dalam jam tersebut. Terlepas dari namanya, quiet quitting tidak selalu terkait dengan berhenti dari pekerjaan pada berakhirnya jam kerja secara langsung, tetapi lebih tepatnya melakukan apa yang dibutuhkan pekerjaan itu.

Pendukung quiet quitting juga menyebutnya sebagai tindakan atas upah yang mereka terima, sehingga mereka tidak bekerja terlalu keras dan hanya memenuhi deskripsi pekerjaan mereka, serta lebih memilih waktu mereka di luar jam kerja untuk bersama keluarga atau menghabiskan waktu bersama para sahabat mereka atau untuk melakukan hal-hal yang bisa menghasilkan produktivitas di luar aktivitas kantor.

Menurut survei Gallup, fenomena quiet quitting berkaitan dengan penurunan engagement karyawan, terutama karena karyawan merasa kurangnya kejelasan harapan terhadap perusahaan, kurangnya kesempatan untuk belajar dan tumbuh, tidak merasa diperhatikan, tidak merasa terhubung dengan misi atau tujuan organisasi yang menandakan semakin terputusnya hubungan antara karyawan dengan manager/eksekutif perusahaan.

Survei Gallup menemukan penurunan dalam engagement dan satisfaction (kepuasan) terhadap perusahaan di antara Gen Z dan milenium yang lebih muda yang berusia di bawah 35 tahun. Penurunan tersebut merupakan perubahan yang signifikan dari tahun-tahun sebelum pandemi. Sejak pandemi, pekerja yang lebih muda merasa kurang diperhatikan dan kurang memiliki kesempatan untuk berkembang secara signifikan terutama dari manajer mereka.

Image: Sebenarnya Gen Z adalah pekerja keras (File by Merza Gamal)
Image: Sebenarnya Gen Z adalah pekerja keras (File by Merza Gamal)

Istilah quiet quitting awalnya diciptakan pada simposium ekonomi Texas A&M tentang ambisi yang semakin berkurang di Venezuela pada September 2009 oleh ekonom Mark Boldger. Istilah ini terus digunakan oleh tokoh-tokoh lain, termasuk penulis Nick Adams dan ekonom Thomas Sowell.

Meskipun istilah quiet quitting diciptakan pada tahun 2009, aspek quiet quitting sebenarnya telah ada di tempat kerja sejak dulu. Bedanya, generasi pekerja terdahulu tidak berani menyatakan bahwa mereka hanya mau berkerja sesuai dengan jam kerja dan ruang lingkup kerja yang terdapat pada job description yang telah mereka tandatangani saat Performance Contract.

Quiet quitting pada tahun 2022 mengalami lonjakan popularitas di berbagai publikasi setelah video TikTok viral. Perspektif yang membedakan "quiet quitting" dari "work-to-rule" di kalangan Gen Z adalah tujuan utama dari silent quitting bukanlah untuk mengganggu tempat kerja, melainkan untuk menghindari kelelahan kerja dan untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi mereka. 

Dengan demikian quite quitting bukanlah berarti ketidakdisiplinan perkerja melanggar peraturan perusahaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun