Mohon tunggu...
I Ketut Merta Mupu
I Ketut Merta Mupu Mohon Tunggu...

Alumni UNHI. Lelaki sederhana dan blak-blakan. Blog pribadi: Voice of Merta Mupu Facebook : I Ketut Merta Mupu Instagram; merta_mupu

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Tinjauan Yuridis Galian C di Songan

5 Desember 2012   02:04 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:10 0 0 0 Mohon Tunggu...
Tinjauan Yuridis Galian C di Songan
1354672930844118916

[caption id="attachment_212843" align="aligncenter" width="576" caption="Kaldera Gunung Batur (sumber/bali-travel-life.com)"][/caption]

Perusakan alam tampaknya semakin merajalela dimana-mana; pembalakan liar, pembakaran hutan, perusakan dan pencemaran lingkungan dan lain sebagainya.  Salah satu dari sekian banyak perusakan alam, khususnya penambangan adalah adanya galian C yang tak berizin seperti yang terjadi di desa Songan.

Desa Songan berada di tepi danau Batur, Kintamani, Kabupaten bangli. "Sutan Takdir Alisjahbana pernah memimpikan desa ini akan menjadi pusat seni di masa depan"  (Sakti Soediro, 2012: www.akarumput.com). Desa ini memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk hidup di hari ini dan masa depan. Bentang alam yang menakjubkan, ladang-ladang pertanian yang terhampar, pemandian air panas, hingga karamba jaring apung.

Masyarakat desa Songan sebagian besar sebagai petani holticultura. Letak desa ini di dataran tinggi vulkanik beriklim pegunungan yang sejuk membuat Songan menjadi ladang subur bagi tanaman buah dan sayuran. Hasil pertanian masyarakat setempat menjadi salah satu sumber pasokan ke pasar-pasar di Bali.

Selain sebagai petani, warga songan berprofesi sebagai wiraswasta dan ada pula sebagai penambang pasir  "Galian C" atau dalam bahasa baku disebut penambang bahan Galian golongan C. {Bahan Galian Golongan C adalah bahan galian yang tidak termasuk bahan galian golongan a (strategis) dan bahan galian golongan b (vital), sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980}.

Gunung Batur yang hingga saat ini masih aktif dan melahirkan jutaan kubik pasir, menjadi salah satu sumber utama pasir di Bali. Akibat dari penambangan pasir yang tak terkendali hingga menyebabkan kerusakan lingkungan.

Kondisi galian C Kintamani, khususnya di Dusun tabu Desa Songan sudah teramat memprihatinkan. Kubangan besar di bagian utara Gunung Batur menganga dimana-mana. Sementara persoalan ada tidaknya ijin dikeluarkan pemerintah soal hal itu masih saru gremeng (Bali Post, 2009).

Peninjauan lokasi penggalian di Dusun Tabu ini, dulunya sudah sempat masuk ke ranah meja wakil rakyat Bangli periode sebelumnya. Ketika para wakil rakyat Bangli hendak melakukan peninjauan lokasi, justru mendapat respon keras masyarakat setempat (Bali Post, Loc.Cit).

Entah oleh karena "kekeliruan" masyarakat ataukah pemerintah Bangli kurang tegas dalam mengambil sikap. Terlebih lagi Gunung Batur  telah ditetapkan sebagai Global Geopark Network (GGN) oleh badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) pada The 11th European Geoparks Conference di Arouca, Portugal pada 20 September 2012. Dalam pandangan saya, tampaknya pemerintah kabupaten Bangli kurang tegas dalam mengambil tindakan untuk menutup Galian C di Songan, padahal Galian C di Songan melanggar  perundang-undangan bahkan Undang-undang Dasar.

Berdasarkan pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang berbunyi "Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat".

Isi ayat pada pasal tersebut bermakna bahwa segala sesuatu mengenai sumber daya alam termasuk di dalamnya pasir beserta kekayaan alam lainnya milik atau berada dalam wilayah teritorial NKRI berarti dikuasai, diatur, dikelola, dan didistribusikan oleh negara atau pemerintah dengan segenap lembaga pengelolanya untuk dipergunakan untuk kemakmuran atau kensejahteraan rakyat Indonesia seluruhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x