Mohon tunggu...
Indah Shofiatin
Indah Shofiatin Mohon Tunggu... Penulis lepas, Alumnus FKM Unair

Hidup hari ini, menang di hari nanti.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Dilema Limbah Plastik Umat Muhammad

12 Juli 2019   14:09 Diperbarui: 12 Juli 2019   14:22 0 1 0 Mohon Tunggu...

Akhir-akhir ini zerowaste movement mulai nyaring terdengar di Indonesia. Di Surabaya, toko-toko dengan genre tersebut mulai bermunculan. Semakin banyak orang yang mulai sadar telah berlebihan membebani bumi dengan terlalu banyak sampah. Terutama sampah plastik yang bisa bertahan menjadi limbah selama ratusan hingga ribuan tahun. Padahal planet bernama bumi ini hanya satu, tapi tiap hari kita 'meludahinya' dengan polusi yang membuatnya semakin tak layak huni. Bagaimana nasib masa depan anak cucu kita nanti? Mungkin mereka tidak perlu mencari dan menonton film animasi Wall-E, karena bumi mereka sudah persis seperti gambaran dalam film itu. Penuh sampah plastik hingga kita yang harus mengungsi ke luar angkasa.


Lebih seram lagi, plastik yang tidak dikelola dengan bijak ini juga meneror kesehatan tubuh kita. Sampah plastik yang masuk ke laut dan sungai dan terpecah menjadi mikroplastik, mengotori sumber air dan terlarut dalam air minum kita! Dilansir dari the telegraph, rata-rata manusia mengonsumsi plastik setara satu kartu kredit lewat air minum maupun makanan yang mengandum mikroplastik. Akibatnya, kasus kanker dan mutasi genetik menjadi meningkat kejadiannya sebagai salah satu aksi yang dilakukan plastik dalam tubuh kita. (Sumber


Wajar saja bila manusia zaman sekarang gampang sakit. Belum lagi penderitaan yang dialami hewan laut. Matinya ikan paus di daerah Maluku belum lama ini menjadi kisah pilu yang terjadi di berbagai belahan bumi. Masih dari artikel yang sama, diprediksi jumlah plastik di lautan akan mengalahkan jumlah ikan pada 2050.

Di sisi yang lain, seandainya pun kita ingin berhenti menggunakan plastik, tidak bisa dipungkiri plastik selama ini menjadi pilihan praktis ekonomis setiap kebutuhan kita. Mulai packing produk hingga wrapping makanan sisa, semua pakai plastik. Bukan tidak ada pilihan lain, hanya saja pilihan lain itu lebih mahal, sulit, tidak populer dan menyusahkan. Apalagi tidak ada dukungan kebihakan negara secara wholesome dan serius, manusia negeri ini seringkali terdengar skeptik, atau malah menghina dan kesal, pada setiap usaha menghindari plastik. Rakyat belum cerdas, sementara negara tidak ada kemauan besar untuk mencerdaskan dan mengkondisikan. Jangan bilang negara tidak diperlukan dalam hal ini, silakan belajar tentang Kalifornia AS, Britain serta Jepang dan bagaimana kebijakan negara tentang plastik sedikit atau sangat banyak mengubah keadaan di sana.


Padahal, negeri kita mayoritas muslim, mengaku sebagai umat Muhammad, ahlu sunnah wal jamaah, dekat dengan Al-Qur'an. Bukankah Allah sudah memperingatkan dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum: 41, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan ulah manusia agar manusia merasakan sebagian dampak perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab atas kelestarian alam ini dan menjadikan pemberlakuan aturan Islam sebagai sumber rahmat bagi seluruh alam. Tapi apa yang terjadi hari ini saat umat Islam mengabaikan aturan ilahi? Mundur, stagnan, ekonominya lebur, politiknya kabur, sosialnya hancur, menjadi umat tak berwibawa di mata dunia, lebih-lebih malah menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Bukan karena kita secara pribadi tidak peduli, tapi karena kita sebagai sebuah jamaah, umat Islam seluruh dunia, kelompok beranggota milyaran manusia (agama kedua terbesar dunia), tidak menjalankan aturan agama-Nya dengan totalitas dan sadar.

Akhirnya, kita merasa cukup baik dengan sholat lima waktu tapi zalim terhadap bumi pada saat yang bersamaan. Kita merasa baik ketika negara meliburkan saat hari raya, tapi tidak kesal saat aturan Islam tentang pengaturan alam diabaikan. Hingga sampah plastik merusak bumi secara nyata di darat dan di laut, tidak ada satu pun negeri kaum muslimin yang takut akan hisab Allah kelak lalu kembali kepada aturan Islam hingga dapat mengatur limbah secara arif, tanpa menzalimi rakyat maupun bumi dan segala makhluk hidup di atas dan di dalamnya.


Bukan karena minimnya pilihan untuk negara dalam mengatur limbah plastik maupun limbah yang lain, ini tentang nihilnya kemauan kuat yang muncul dari keimanan. Instalasi pengolahan limbah penuh dengan inovasi hari ini, didukung banyaknya intelektual dan SDM cerdas kreatif, umat Islam mampu menyelesaikan masalah ini dengan mudah semestinya. Mulai dari inovasi gelas yang bisa dimakan, bungkus shampo dan kopi yang larut air, pengganti botol plastik hingga zerowaste lifestyle yang bisa dijalankan tiap individu muslim, pengetahuan dan teknologi tentang hal ini sangat luas dan mudah digunakan asal ada kemauan.

Namun, untuk menjadikannkannya tren yang dijalankan seluruh umat Islam, umatnya Muhammad, tidak bisa kita bergantung hanya pada individu semata. Tentu saja. Diperlukan satu negara yang membuat umat ini kembali ke jalan yang benar, jalan syariat Islam kaffah. Itulah Khilafah Islam 'ala manhaj Nabi. 

Dengannya, umat Islam akan menjadi pemimpin yang terdepan dalam melestarikan dan menjaga alam ini. Plastik tak akan jadi dilema lagi. Masih banyak pengganti. Kalaupun masih diperlukan, negara berbasis aturan Allah ini akan mengolahnya dengan bijak karena takut akan azab Allah bila sampai merusak bumi. Dengan begini, cerita plastik di atas tak akan menjadi mimpi buruk kita lagi. Yang ada adalah harapan kehidupan sehat sejahtera dengan keharmonisan alam dan ampunan Allah yang melimpah. Bukankah itu harapan setiap orang beriman?

Karenanya, perjuangkanlah Islam agar menjadi rahmat semesta dengan kembali seluruhnya pada aturan-Nya. Baik aturan bagi kita pribadi pribadi, umat ini maupun negara yang kita huni. Inilah tanggung jawab tiap kita kepada Allah di akhirat kelak.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x