Mohon tunggu...
Meita Dwi Sadwina
Meita Dwi Sadwina Mohon Tunggu... 1995

agriculture student

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Moderenisasi Pertanian: Smart Farming Precision Agriculture 4.0

22 Mei 2019   20:15 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:32 0 3 1 Mohon Tunggu...
Moderenisasi Pertanian: Smart Farming Precision Agriculture 4.0
diunduh pada : www.pinterest.com

Selamat datang di Revolusi Industri 4.0 !!

Perkembangan industri di Indonesia memasuki tahap baru, semua industri berlomba-lomba menggunakan teknologi yang menjadi ciri khas dari revolusi industri tersebut. Untuk lebih mudah memahami Revolusi Industri 4.0 ini  cukup memahami kunci utamanya yaitu berbasis jaringan internet. Jaringan internet ini akan terintegrasi atau terhubung dengan mesin atau perangkat, karena menggunakan jaringan internet sebagai penghubung maka secara otomatis untuk mengoperasikan mesin atau perangkat tersebut dapat dilakukan secara jarak jauh.

Revolusi 4.0 pada bidang pertanian menerapkan metode "Smart Farming Precision Agriculture". Sebelum jauh membahas implementasinya dilapang mari mengenal metode tersebut. Secara garis besar metode ini terbagi menjadi 2 garis besar yaitu smart farming dan precision agriculture

a. Smart farming (pertanian pintar) yaitu penggunaan platform yang dikonektivitaskan dengan perangkat teknologi (contoh : tablet dan handphone) dalam pengumpulkan informasi (contoh : status hara tanah, kelembaban udara, kondisi cuaca dsb) yang diperoleh dari lapang dari perangkat yang ditanamkan pada lahan pertanian.

b. Precision Agriculture (pertanian presisi) lebih kepada penggunaan input berupa pestisida dan pupuk sesuai kebutuhan berdasarkan informasi olahan data pada tablet sehingga tidak ada kelebihan dalam dosis pengaplikasiannya karena dipenuhi berdasarkan kekurangannya. Dampak baik yang ditimbulkan pada pengaplikasian pupuk atau pestisida sesuai kebutuhan akan menjaga kesehatan dan kelestarian tanah, optimalisasi penggunaan input dan saving cost.

Dalam prakteknya dilapang metode smart farming precision agriculture ini menggabungkan antara platform berbasis IoT dengan alat dan mesin pertanian (alsintan). Tentunya agar hal tersebut selaras alat produksi pertanian tidak lagi dioperasikan secara konvensional namun dikendalikan dengan teknologi, oleh karena itu alsintan harus ditingkatkan atau di-upgrade.

Upgrading alat pertanian disini dapat berupa penggabungan 2 perangkat yang dirakit berdasarkan kebutuhan atau penambahan teknologi pada suatu perangkat (contoh : penambahan sensor, GPS, wifi dsb) sehingga kompatibel dengan platform yang sesuai. Kementrian Pertanian melalui Balitbangtan sangat menggenjot pembaharuan teknologi alsintan ini mengingat Alsintan merupakan hal yang sangat vital. Untuk lebih memperjelas bagaimana pembaharuan teknologi alsintan tersebut, mari kita simak contoh keberhasilan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPP Mektan) dalam peluncuran alsintan didalam workshopnya.

1.  Sprayer Drone

http://www.suarakarya.id
http://www.suarakarya.id
Sprayer Drone merupakan alat yang menggabungkan 1 teknologi dan 1 metode aplikasi, yaitu drone (pesawat tanpa awak) dan folliar application (pemupukan lewat daun). Alat ini digunakan untuk pemupukkan dan penyemprotan pestisida pada tanaman. Layaknya sebuah drone alat ini bekerja dipermukaan udara, yang dahulu penyemprotan pestisida dan pemupukan harus dilakukan dengan menelusuri lahan pertanian, namun dengan menggunakan sprayer drone ini dapat dikendalikan dengan jarak jauh karena dikoneksikan dengan wifi pada remote control operator. Drone ini juga dilengkapi dengan sensor dan GPS (Global Positioning System). Mekanisme kerja drone menyemprotkan liquid dengan wujud kabut (fog) dari udara tepat pada daun tanaman atau lebih dikenal dengan folliar application. Untuk mengetahui bagian drone secara rinci saudara dapat membaca jurnal yang saya kutip klik disini !  Menurut BPPSDMP (2018) memaparkan kelebihan yang didapatkan dengan menggunakan drone ini sangat menguntungkan yaitu dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja lapang dan pengaplikasian pestisida serta pupuk dapat menjangkau luasan area 5 hektar dalam 1 jam . 

2. CI Agriculture (HARA)

merupakan startup pertanian lokal berbasis IoT (Internet of Things), startup ini menggunakan jaringan internet baik untuk pengumpulan, pertukaran data dan kontroling alat dilapang yang terhubung dengan gadget. Fokus utama CI Agriculture yaitu pengembangan sistem manajemen pertanian dengan menggunakan big data analystic. Big data analystic adalah kumpulan data yang diperoleh dari lapang, data yang dikumpulkan dapat berupa data anomali cuaca, status hara dan kondisi tanah, serta berasal dari pencitraan satelit dan drone. Data yang diperoleh kemudian akan diolah, kemudian data tersebut akan menghasilkan informasi yang akurat dan update sehingga dapat membantu petani dalam membuat keputusan dalam proses produksi. Untuk lebih memahami startup ini silahkan tonton video dibawah ini.


Lantas bagaimanakan implementasinya pada negara lain? Saya akan mencoba mengulas dari jurnal penelitian internasional yang saya kutip mengenai Smart Faming Precision Agriculture ini. Menurut Awan dkk (2018) dari hasil penelitiannya yang berjudul Smart Farm Intelligence Model to Uplift Farmers in Rural Pakistan menyatakan bahwa dalam praktiknya, Pakistan mengembangkan model pertanian cerdas dengan menggunakan kombinasi perangkat sensor, komunikasi, sistem analisis data dan kontrol pengguna agar dapat memeriksa lingkungan pertaniannya dari jarak jauh. Perangkat yang diaplikasikan pada penelitian tersebut peneliti merancang model pertanian cerdas dengan perangkat bermodal rendah sehingga petani yang berpenghasilan rendah juga dapat merasakan manfaat dari perangkat tersebut. Kajian penelitian ini masih terus dikembangkan dinegara ini dengan harapan dapat diaplikasikan pada petani dinegara tersebut.

Untuk mempersingkat pembahasan mengenai Smart Faming Precision Agriculture sebenarnya kuncinya adalah meningkatkan produktivitas dan laba dengan penggunaan teknologi melalui minimalisasi penggunaan input produksi.

Smart Faming Precision Agriculture 4.0 merupakan teknologi yang belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia, tentunya akan terdapat banyak kesulitan untuk mengenal teknologi ini. Untuk mengatasinya kita harus sabar dan terus belajar mengadopsi teknologi ini secara mandiri ataupun pada negara yang sudah berhasil menerapkannnya. Pada hakekatnya dibutuhkan waktu yang tidak singkat, perlu ketekunan dan niat yang mantap. 

Harapan Bangsa Indonesia dengan adanya revolusi industri 4.0 dibidang pertanian tidak hanya sekedar bagaimana meningkatkan profit dengan meminimalisir penggunaan input produksi saja namun bagaimana mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri ini tentunya tidak dapat berjalan jika hanya pemerintahnya saja yang berusaha keras dalam mengadopsi teknologi ini, masyarakat indonesia tentunya juga harus mendukung dengan mengenal, belajar dan ikut mempraktikan teknologi ini bersama pemerintah.

Gotong royong dan kerja sama tentunya menjadi kunci kesuksesan Bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang kuat dan mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan !

DAFTAR PUSTAKA

Awan, S. H, Sheeraz, A dan Muhammad, A. H. 2018. Smart Intelligence Model to Uplift Farmers in Rural Pakistan. Wireless Communications and Mobile Computing. 6(4): 49-55.

BPPSDMP. 2018, 28 Agustus. Pemanfaatan Teknologi Drone untuk Bertani. diakses pada 20 Mei 2019 pada laman http://bppsdmp.pertanian.go.id/id/blog/post/Pemanfaatan_Teknologi_Drone_untuk_Bertani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2