Mohon tunggu...
Mei Solikhatul Latifakh
Mei Solikhatul Latifakh Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya adalah mahasiswi Sastra Indonesia di Unnes. Suka membaca apa saja termasuk komposisi makanan ringan yang tertulis di kemasan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bahasa: Sifat Kesemestaan dan Keunikannya

20 Agustus 2022   14:46 Diperbarui: 20 Agustus 2022   14:49 1415
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa kata dalam suatu bahasa tertentu juga tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lainnya hanya dengan mengubah salah satu  fonemnya secara pukul rata. Bahasa Jawa 'rame' diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'ramai' dengan mengubah [e] menjadi [ai], tetapi kata 'gering' tidak bisa diterjemahkan menjadi 'kering' dengan mengubah [g] menjadi [k] karena berbeda arti (bahasa Indonesia dari gering adalah kurus).

Verba di dalam suatu bahasa tidak semuanya cocok dengan  afiks  tertentu. Dalam bahasa Indonesia, terdapat verba yang tidak bisa mendapat afiks 'ter-'. Contohnya, kata 'lari' tidak bisa menjadi 'terlari'. Beberapa bahasa juga tidak mengenal  jenis kelamin (jantina) dalam nominanya. 

Contohnya adalah bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata 'buku' bersifat netral atau berlaku untuk semua jenis kelamin. Tidak seperti bahasa Arab, kata 'kitab' (buku) bersifat maskulin atau berjenis kelamin laki-laki. Begitu pula kata 'mata' dalam bahasa Indonesia bersifat netral. Kata 'ainun' (mata) dalam bahasa Arab bersifat feminim atau berjenis kelamin perempuan.

Di dalam bahasa Jawa, terdapat kata suwe 'lama'; dan suwi 'lama banget'; gedhe 'besar'; dan gedhi 'besar banget'; tenan 'yakin'; dan tenin 'yakin banget'. Namun, kata banter  'cepat' tidak bisa dijadikan bantir karena tidak ada artinya. Begitu juga dengan kata tuwa 'tua' tidak berkaitan dengan kata tuwi karena memiliki makna yang berbeda, yaitu menengok. Masih di dalam bahasa Jawa,  vokal /a/ yang berada dalam posisi koda atau suku akhir biasanya diucapkan  [ᴐ]. Misalnya, kata dawa diucapkan [dᴐwᴐ], kata iya diucapkan [iyᴐ], kata padha diucapkan [pᴐdhᴐ].

Di dalam bahasa Indonesia, terdapat frasa anak kecil, tetapi tidak ada frasa anak besar. Selain itu, di dalam gramatika bahasa Indonesia, frasa yang benar adalah sampai jumpa, bukan melihat kamu walaupun bahasa Inggrisnya see you

Have lunch tetap diterjemahkan menjadi makan siang dan bukan memiliki makan siang, take a nap tetap menjadi tidur siang dan bukan mengambil tidur siang, serta sometime diterjemahkan menjadi terkadang atau kadang-kadang dan bukan beberapa waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Imelwati, Sri, dkk.. 2017. Variasi Sintaksis Bahasa Inggris Para Guru Bahasa Inggris di Kota Padang, Sumatera Barat. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia V3.i2 (173-182).

Khoiri, Much. 2015. Diskusi tentang Kesemestaan Bahasa. Kompasiana, https://www.kompasiana.com/much-khoiri/diskusi-tentang-kesemestaan-bahasa

Santosah, Prayogi dan Edy Victor Haryanto. 2020. Rancang Bangun Aplikasi Pengenalan Budaya dan Aksara Hangeul Korea dengan Audio Berbasis Android. Jurnal Mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer 1 (1), 981-955, 2020.

Tarmini, Wini dan Rr. Sulistyawati. 2019. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: UHAMKA Press.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun