Mohon tunggu...
Maulana M. Syuhada
Maulana M. Syuhada Mohon Tunggu... lainnya -

Founder Tim Muhibah Angklung https://www.angklungmuhibah.id Buku: 40 Days in Europe (2007), Maryam Menggugat (2013), The Journey (2019)

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih

[JTS#1] Kalau Benci Sudah Membuta (Bagian 1)

15 Maret 2019   03:14 Diperbarui: 15 Maret 2019   04:59 4569
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pertemuan Jokowi dan Prabowo | Foto: Tahta Aidila/Republika

"Kita pikirkan nasib agama kita, anak-anak kita, walaupun kita tidak menikmati. Tapi lima tahun, sepuluh tahun yang akan datang ini, apakah kita mau kalau pelajaran agama di sekolah dihapuskan oleh Jokowi bersama menteri-menterinya? Itu kan salah satu programnya mereka. Yang pertama, pendidikan agama dihapuskan dari sekolah-sekolah. Terus rencananya mereka itu, pesantren itu akan menjadi sekolah umum."

Ibu-ibu simpatisan PKS ini merasa sedang berjuang menyelamatkan Islam dari rezim Jokowi yang anti Islam. Dan itulah memang yang didoktrinkan di pengajian-pengajian, di masjid-masjid, di kampus-kampus, di grup-grup Whatsapp. Mereka dibuat membenci Jokowi dan pemerintahan sekarang ini demi memenangkan Pilpres 17 April nanti.

Tidak lama sebelumnya, tiga emak-emak di Karawang terekam kamera melakukan kampanye hitam door-to-door, menyebarkan hoaks bahwa jika Jokowi menang maka tidak akan ada lagi adzan dan pernikahan sesama jenis akan dilegalkan [19]. Berikut transkripnya: 

"2019 kalau dua periode, moal aya deui sora azan, moal aya budak ngaji, moal aya nu make tiyung. Awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin."  

(2019 kalau dua periode, tidak akan ada lagi suara adzan, tidak akan ada lagi yang memakai kerudung. Perempuan dengan perempuan boleh kawin. Lelaki dengan lelaki boleh kawin).

Video ini direkam oleh salah satu pelaku dan disebarkan lewat akun twitternya, @citrawida5, dengan caption,

"Masuk di kawasan merah, sesulit apapun akan kita coba putihkan. Si abah ini, dia tidak tau berita terbaru dan ga mengerti dengan kebijakan kebijakan apa yang bakal diresmikan 01 jika menang lagi, semoga tercerahkan @PEPESOfficial "

Jadi ketiga orang emak-emak ini mereka tidak merasa sedang menebarkan hoax, mereka dengan bangganya mengunggah di twitter dan mentag @PEPESOfficial , Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo Sandi (PEPES), kumpulan relawan emak-emak dimana Fadli Zon bertindak sebagai penasihatnya [20]. 

Seberapa pun tidak rasional-nya berita, tapi ketiga emak-emak ini percaya bahwa azan, mengaji dan kerudung tidak akan ada lagi jika Jokowi menang. Malah mereka 'gemes' dengan Si Abah yang mereka anggap tidak  mengerti dengan kebijakan-kebijakan yang akan terjadi jika Jokowi menang, dan berharap Si Abah bisa tercerahkan.

 Beginilah jadinya kalau orang bodoh mengkampanyekan kebodohan dan menganggap orang yang dikampanyekannya bodoh. 

Jangan salah, emak-emak ini, termasuk emak simpatisan PKS di Makassar, dan ustadz-ustadz yang tak henti-hentinya menebarkan kebohongan. Mereka ini merasa sedang berjuang di jalan Allah, sedang berjuang agar Adzan masih tetap berkumandang, agar anak-anak masih mengaji dan berkerudung, agar pemerintah tak melegalkan pernikahan sesama jenis, agar pemerintah tak melegalkan perzinahan, dsb.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun