Mohon tunggu...
Herman Wijaya
Herman Wijaya Mohon Tunggu... profesional -

Penulis Lepas.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Visualisasi Filosofi Jawa Pak Harto dalam Film "Enak Tho Zamanku, Piye Kabare?"

11 April 2018   12:06 Diperbarui: 11 April 2018   23:15 3169
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dokumentasi pribadi

Lepas Lepas dari tudingan dirinya sebagai diktator, Presiden Soeharto (Pak Harto) adalah seorang manusia Jawa yang sangat memahami perilaku dan tutur kata bahasa Jawa. Tentu saja lengkap dengan filosofi dan symbol-simbol yang ditunjukkannya.

Menurut cerita orang-orang yang pernah mengenalnya, Pak Harto adalah sosok yang santun, jarang berkata kasar dan memberikan perintah sederhana penuh makna. Kadang bawahan atau lawan bicaranya harus menterjemahkan sendiri apa makna kalimat yang disampaikan oleh Pemimpin Orde Baru itu, karena pesan atau perintah yang disampaikan tidak dideskripsikan dengan jelas.

Pak Harto merupakan tipikal orang Jawa tulen. Untuk menguak sosok jati dirinya harus memahami filosofi ajaran Jawa yang dipedomani. Sebagai panduan dalam memahami cara pandang hidupnya, dapat kita ketemukan melalui buku berjudul "Butir-Butir Budaya Jawa: Hangayuh Kasampurnaning Hurip, Berbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik" yang disunting oleh Siti Hardiyanti Rukmana dan diterbitkan oleh Yayasan Purna Bakti Pertiwi pada tahun 1997. 

Buku tersebut merupakan kumpulan nasehat ajaran bahasa Jawa yang disampaikan Pak Harto kepada putra-putrinya. Melalui pandangan-pandanganya itu kita dapat menelusuri bagaimana ia memandang Indonesia, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (Soeharto.co)

Masih terus diingat sampai sekarang pesan Pak Harto kepada orang-orang dekatnya, antara lain pernah diceritakan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Soebianto. Sebuah pesan filosofis berbahasa Jawa yang penuh makna dan masih terus didengungkan sampai sekarang, yakni . Ojo lali, ojo dumeh, ojo ngoyo (jangan lupa, jangan sombong, jangan memaksakan diri).

Pesan itu, meskipun dalam bentuk kalimat yang pendek, sangat sarat makna. Dan siapa pun yang memegang teguh pesan itu dipastikan akan selamat dalam melangkah. Bila melihat perjalanan hidup Pak Harto sampai diakhir kekuasannya, kita bisa menafsirkan sendiri apakah penguasa Orde Baru itu menjalankan pesan yang kerap disampaikan kepada orang lain, melakukannya untuk diri sendiri.

Filosofi Jawa yang kerap disampaikan Pak Harto rupanya menarik bagi sutradara Akhlis Suryapati untuk memvisualisasikannya (mengangkat ke dalam film). Hasilnya adalah sebuah film berjudul "Enak Zamanku Tho: Piye Kabare?" produksiMidessa Pictures, dengan peroduser Qdemank Sonny Pudjisasono, yang belakangan dikenal sebagai seorang politisi dari Partai Berkarya Pimpinan Tomy Soeharto.

Film produksi  Enak Tho Zamanku, Piye Kabare merupakan film aksi, drama dan komedi Indonesia terbaru 2018. Film Enak Tho Zamanku, Piye Kabareadalah salah satu film yang judulnya diambil dari jargon hits di kalangan masyarakat, seusai Bapak Soeharto lengser dari jabatan Presiden. Film ini rencananya akan beredar di 40 layar bioskop di Indonesia, mulai 12 April 2008.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa film ini menceritakan tentang kisah pak Harto, sedangkan kalangan yang lain ada yang mengatakan bahwa film ini termasuk film Drama dan Komedi. Dalam beberapa kesempatan Akhlis Suryapati, mengatakan tidak dapat mengungkapkan tafsir atas judul sekaligus isi cerita dalam film ini secara detail. Untuk menafsirkan film ini ia menganjurkan harus menontonnya terlebih dahulu.

Lantas seperti apa Akhlis Suryapati yang mantan wartawan itu menerjemahkan filosofi Jawa yang sering disampaikan oleh Pak Harto?

Film ini jelas bukan tentang Pak Harto, atau cuplikan kisah Pak Harto. Akhlis ingin menggambarkan implementasi filosifi Jawa yang kerap disampaikan Pak Harto dalam konteks kehidupan masyarakat bawah saat ini. Memang di film ini ada tokoh Pinuntun (diperankan oleh Dolly Martin) yang logat dan gaya bicaranya mirip Pak Harto: Lembut, tidak tergesa-gesa dan sesekali bergurau. Tetapi tokoh Pinuntun itu jelas bukan Pak Harto. Apalagi kalau melihat settingcerita yang diangkat dalam film ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun