Mohon tunggu...
Masykur Mahmud
Masykur Mahmud Mohon Tunggu... Freelancer - A runner, an avid reader and a writer.

Harta Warisan Terbaik adalah Tulisan yang Bermanfaat. Contact: masykurten05@gmail.com www.collegexpedition.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pengemis Barcode, Dilema Cashless Society

21 Januari 2023   15:26 Diperbarui: 21 Januari 2023   15:32 496
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi gambar.www.twitter.com

Tren mengemis saat ini tidak lagi seperti dulu yang harus pakai ember dan berdiri di pinggir jalan. Kini, seiring canggihnya teknologi, mengemis bisa menjadi ladang penghasilan baru nan cepat.

Mengemis jaman sekarang sama efektifnya seperti inovasi pada bisnis baru, contohnya penggunaan fitur-fitur yang bisa mendatangkan uang secara cepat dan inovatif.

Kita tidak pernah tahu bagaimana teknologi masa depan akan berkembang di luar kelaziman. Dulu mungkin tak pernah terlintas di pikiran kalau pengemis bisa mendulang uang secara online.

Kalau dilihat secara sederhana, pengemis 4.0 bukan hanya pandai berinovasi dengan menggunakan smartphone namun juga lihai melihat peluangMereka tak harus ke jalan-jalan untuk meminta belas kasih, cukup dengan koneksi intenet dan akun media sosial.

Berbelanja saat ini juga semakin mudah, tinggal scan barcode bisa langsung bayar. Tak perlu lagi mengeluarkan uang dari dompet. Selain memotong banyak antrian, cara ini juga efektif untuk mempersingkat waktu transaksi demi profit yang lebih besar.

Nah, kedepannya kita akan melihat pengemis bertipe barcode berjejer di pusat pembelanjaan, layaknya diberitakan Oddity Central yang viral di Jinan, Provinsi Shandong, Tiongkok karena aksi mengemis menggunakan barcode. 

Tentu saja lambat laun hal ini akan terjadi dan menjadi hal biasa kedepannya. Teknologi memungkinkan hal-hal tidak masuk akan menjadi masuk barcode, ya begitulah jaman sekarang.

Di luar Kelaziman

Maraknya pola mengemis dengan penggunaan media sosial menciptakan sebuah tren yang akan menjadi corong kebodohan. Hal ini bisa terjadi karena pola pikir yang bergeser ke arah kemudahan tanpa mempertimbangkan sisi negatif.

Bukan hanya itu saja, banyak kanal Youtube yang juga kini mengarah kesana. Acara-acara bantuan berbungkus infotainment menjadi pasar bisnis untuk meraup dolar. Alhasil, nilai budaya membantu tidak lagi seperti dulu kala.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun