Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mahfud MD Harap PSI Menjadi Partai Manusia dan Bukan Partai Allah atau Partai Syetan

23 April 2018   05:27 Diperbarui: 23 April 2018   05:43 916 7 5

Banyak kritikan yang disampaikan masyarakat terhadap anggota DPR termasuk  juga terhadap anggota DPRD.Inti kritikan tersebut karena menganggap sebahagian dari wakil rakyat  itu belum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Malahan bukan hanya sebatas tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab saja tetapi banyak diantara mereka  yang tersangkut dengan masalah hukum.

Muncul juga kesan yang kuat bahwa sebahagian wakil rakyat itu lebih mementingkan kepentingan partai atau kepentingan pribadinya ketimbang kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Telah banyak diskusi yang diselenggarakan untuk membahas ini.Ada yang menyebut penyebabnya antara lain karena untuk memperoleh posisi sebagai wakil rakyat itu banyak biaya yang harus dikeluarkan .

Hal ini terjadi oleh karena sistim demokrasi kita telah melahirkan sistim demokrasi kapitalis.Akibatnya di banyak tempat yang berhasil meraih predikat wakil rakyat itu hanyalah mereka yang punya dompet tebal.Sementara kader kader potensial partai menjadi tersisih karena kalah " amunisi" dengan mereka yang berdompet tebal itu.

Kemudian ada juga pendapat yang mengatakan situasi yang demikian terjadi karena sistim rekrutmen partai tidak tepat .Ada yang salah dalam sistim rekrutmen itu sehingga kader partai yang punya kualitas yang baik menjadi tersisih.

Hal yang demikian bisa juga terjadi karena adanya sikap nepotisme atau juga koncoisme yang dimiliki oleh sebahagian pimpinan parpol. Berkaitan dengan hal tersebutlah maka Partai Solidaritas Indonesia ( PSI) kelihatannya ingin membenahi sistim rekrutmen calon anggota legislatif dari partai ini.

Sebagaimana diketahui PSI adalah sebuah partai baru yang didirikan pada 16 November 2014.
Partai yang diketuai Grace Natalie ini oleh Komisi Pemilihan Umum ( KPU) telah dinyatakan lolos sebagai partai peserta pemilu 2019.

Untuk lebih menjamin kualitas kadernya yang akan duduk di lembaga perwakilan rakyat maka partai ini membentuk panitia seleksi yang terdiri dari para pakar yang mempunyai integritas tinggi. Dengan melaksanakan seleksi terbuka yang dinilai oleh panitia seleksi itulah PSI mengharapkan munculnya calon calon wakil rakyat yang berkualitas serta mempunyai integritas tinggi.

Terhadap proses seleksi yang demikianlah maka Mahfud Md menyatakan kesediaannya menjadi salah satu panelis tes wawancara bakal calon legislatif 2019.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com,22/4/2018 ,Mahfud mengatakan kesediaannya itu karena " partai ini baru maka saya dan kawan kawan tentu mendukung agar DPR dan perpolitikan diberi darah baru yang segar ,karena darahnya sudah agak kotor " ,ujar Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu di Kantor DPP PSI ,Jakarta,Minggu ,22 April 2018.

Mahfud juga mendukung upaya PSI yang mendorong politik di Indonesia terbebas dari praktik korupsi.

Mantan Menteri Pertahanan di era Gus Dur itu juga menyatakan agar PSI tidak hanya melakukan seleksi terbuka untuk menentukan calon legislatif ,tetapi juga menbuat sistim pengawasan yang ketat saat orang yang diusung telah terpilih dan menduduki jabatan sebagai wakil rakyat.
Kemudian menjadi lebih menarik lagi untuk mencermati bagaimana harapan Mahfud Md terhadap PSI.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengharapkan agar PSI menjadi partai manusia bukan

Partai Allah dan bukan partai setan." Kalau Partai Allah itu maha suci ,tidak ada salahnya,mana ada Partai Allah .Tapi, partai setan juga semua partai ada setannya".

Pernyataan Mahfud ini tentu mengingatkan kita terhadap ungkapan seorang tokoh yang menyatakan adanya Partai Allah dan partai Syetan.

Mengkaitkan atau menyebut ada nya Partai Allah di negeri ini rasanya tidak tepat juga karena seperti yang diungkapkan Mahfud kalau Partai Allah itu maha suci. Adakah partai di negeri ini yang maha suci?. Kalau kita cermati banyak sekali kader kader partai yang tersangkut masalah hukum. Banyak sekali tokoh tokoh partai yang duduk di lembaga perwakilan rakyat yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Apakah partai partai yang demikian layak disebut sebagai Partai Allah.

Rasanya tepatlah pernyataan Mahfud yang mengatakan" semua partai ada setannya".
Menurut pendapat saya kurang eloklah kalau ada yang menyebut ada partai yang menyatakan sebagai Partai Allah tetapi tingkah laku partai itu sangat jauh dari nilai nilai kesucian.

Menjadi semakin kurang tepat apabila ada yang menyatakan partainya adalah Partai Allah tetapi dengan maksud untuk menumbuhkan sentimen keagamaan yang kuat yang pada muaranya ingin menarik simpati dan suara dari ummat.Sementara perilaku yang ditunjukkannya sangat melenceng dari nilai nilai kesucian itu sendiri.

Janganlah nilai nilai kesucian itu menjadi terdegradasi dengan menggunakannya sebagai selogan untuk kepentingan politik sesaat.

Salam Demokrasi!