Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Mengamati Perang Pangan AS dan Barat terhadap Dunia Ketiga dan Tiongkok

18 Oktober 2021   16:29 Diperbarui: 19 Oktober 2021   07:23 1597
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemerintah Chili kemudian menyadari bahwa program bantuan pangan ini adalah perangkap kuda Troya yang lengkap. Yang lebih mengerikan adalah bahwa kejadian ini bukan contoh soal, tetapi pengalaman nyata di Chili.

Pada tahun 1972, karena perlawanan Presiden Chili Allende, AS mengendalikan kenaikan harga pangan di Chili, sehingga sejumlah besar devisa Chili digunakan untuk membayar bantuan ini, yang memicu inflasi.

Pada akhirnya, Allende terpaksa mundur dan bunuh diri di tengah gejolak sosial akibat kekurangan pangan.

Pinochet yang menjadi antek AS berkuasa. Setelah dia berkuasa, AS memulai kembali dengan bantuan pangannya.

Namun, uang penjualan bantuan pangan ini tidak jatuh ke tangan rakyat, melainkan dijual dengan harga tinggi oleh militer Chili, dan pendapatannya diputar untuk membeli senjata AS. 

Dengan cara ini, AS mengesahkan undang-undang bantuan ini tidak hanya menstabilkan halaman belakang AS (Amerika Latin), tetapi juga mengekspor makanan dan amunisi, sehingga tindakan ini sama dengan membunuh tiga burung dengan satu batu.

Tentu saja, biayanya ditanggung oleh rakyat Chili, dan Chili bukanlah kasus yang tunggal. AS juga membantu ADM, Bunge, dan Cargill berturut-turut dengan cara yang sama untuk mengendalikan seluruh pasar produk biji-bijian AS, seperti cerita sebelumnya.

Tiongkok Menjadi Target

Maka setelah AS berhasil mengamankan halaman belakang dengan perang pangan, maka mereka selanjutnya fokus kepada negara dengan populasi lebih lebih dari 1 miliar di Asia --- Tiongkok.

Pada tahun 1974, pada Konferensi Pangan Dunia pertama dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB diadakan. Pada saat itu, para ahli Barat sampai pada kesimpulan bahwa "Tiongkok tidak akan dapat memberi makan 1 miliar orang rakyatnya." Jika ada celah, akan ada kesempatan bagi mereka.

Sumber: agweek.com + world-grain.com + confectionerynews.com + glassdoor.com
Sumber: agweek.com + world-grain.com + confectionerynews.com + glassdoor.com
Sejak 1974, ADM, Bunge, Cargill AS, dan Louis Dreyfus Company Prancis, keempat pedagang biji-bijian yang dijuluki "ABCD" ini telah mengincar Tiongkok, tetapi dari 1974 hingga 1994, argumen bahwa Tiongkok tidak dapat memberi makan rakyatnya muncul. Dalam dua dekade terakhir, ternyata masalah pangan Tiongkok selama dua dekade terkahir ini aman-aman saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun