Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Pembalasan Tersamar Iran terhadap AS Pasca-Pembunuhan Sulaimani

14 Februari 2020   15:56 Diperbarui: 15 Februari 2020   12:07 2741
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: www.independent.co.uk/+MarketWacth.com

Di dalam CIA, D'Andrea dilaporkan disebut sebagai Dark Prince atau Ayatollah Mike, nama panggilan yang diperolehnya saat memimpin pencarian Osama bin Laden dan juga ketika diarahkan serangan drone terhadap target al-Qaeda di Afghanistan, Pakistan, Suriah, Yaman dan Irak.

Sebagai seorang perokok berat dan masuk Islam D'Andrea bukan seorang agen konvensional yang duduk dibelakang meja di kantor Kedubes daripada di helikopter, dia seorang pecandu kerja dengan gaya abrasif, dilaporkan sangat sulit bekerjasama dengan dia dan tidak populer.

Sebagai mantan kepala Counter Terrorism Center CIA, dia diangkat ke posisinya saat ini sebagai Direktur Agensi oleh Mike Pompeo pada Juni 2017. "The New York Times" melaporkan bahwa penampilannya di tempat kejadian akan berarti garis keras yang jauh lebih sulit dalam menentang Iran pada pemerintahan Trump.

Iran- AS Saling Tidak Berani Berperang

Meskipun Iran telah dengan "gila' membalas dengan meluncurkan belasan rudal ke pangkalan militer AS, namun Trump menyatakan tidak ada korban dari serangan itu.

Tampaknya kedua negara ini AS- Iran akan terus memainkan permainan mereka sendiri-sendiri di tahun-tahun mendatang, dan ketegangan akan terus menghangat. Hanya saja selama kedua belah pihak tidak berusaha berperang dan mempertahankan situasi seperti saat ini masih bagus.

Situasi ini bisa bertahan terutama karena kedua negara tidak mampu menanggung akibat dari perang.

Iran saat ini tidak dapat mengambil inisiatif untuk menyerang pangkalan militer AS yang ada di Timteng dan di luar negeri, karena tidak memiliki kekuatan cukup dan modal untuk itu.

Akan banyak alasan kedua negara tidak mau berperang, AS juga tampaknya juga tidak ingin terlalu terjerat dengan masalah Iran.

Jika AS benar-benar menyerang Iran, situasi perang pasti tidak akan seperti yang dikatakan Trump bahwa Iran dapat dengan mudah dihancurkan dengan hanya mengandalkan serangan pasukan darat dengan cepat.

Secara teori, perang dengan Iran akan lebih rumit dan mengerikan daripada perang dengan Irak sebelumnya. Perlu diketahui wilayah Iran lebih luas 4 kali daripada Irak dan topografinya berupa bukit-bukuit dan pengunungan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun