Mohon tunggu...
Muhammad Rifki
Muhammad Rifki Mohon Tunggu... Penulis

Penulis dan penikmat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kami Rindu Senyum Dunia, Kisah KKN DR

10 Oktober 2020   09:23 Diperbarui: 10 Oktober 2020   09:30 13 2 0 Mohon Tunggu...

Pertengahan Januari, merupakan kepulangan saya dari Tunisia selesai mengikuti program student exchange. Waktu itu semua masih baik-baik saja. Selayaknya mahasiswa semester enam, perbincangan KKN menjadi topik yang hangat. Awalnya, bahkan sama sekali tidak ada yang menduga, Maret menghancurkan momentum dan segala rencana panjang yang dipasang. 

Sejak Februari, sesudah liburan semester satu yang cukup lama, kehidupan 'Ciputat' kembali normal. Mahasiswa wara-wari di pesanggrahan. PPM terus mengingatkan prosedur KKN dan berbagai perabotannya. Kelompok dibagi. Wilayah ditetapkan permasing-masing kelompok. Dan hari itu, sosial perdana KKN di auditorium. Pembagian kelompok. Dan pemilihan model KKN yang akan dijalankan.

Sejak setahun lalu, saya jauh-jauh hari sudah menargetkan ingin mencicipi KKN Internasional. Bersinggungan dengan budaya di luar tanah Air, tentu menarik. Saya berpikir, akan menjadi perkawinan menarik jika saya beruntung lolos KKN Internasional dengan pengalaman yang pernah saya dapat di Tunisia.

Dan seperti kabar hebat meledak, KKN tahun ini bahkan dibuka hingga Belanda dan negeri sakura. Mahasiswa berbondong-bondong mengantri. Map warna-warni menumpuk. Sebuah upaya sederhana itu, menjadi abu seketika. Berselang dua minggu pertama kelas tatap muka di Fakultas, sejak saat itu, mahasiswa mengakhiri kehidupan Ciputat lebih cepat dari biasayanya. Kepulangan mendadak. Libur panjang tanpa tahu kapan akan selesai. Dan hal-hal baru yang lain, kelas online dengan gagap-gagap, belum sesiap panas bara api.

Sejak itu, KKN kehilangan kabar. Sampai batas waktu yang entah muncul tiba-tiba.

KKN DR, it's really?

UIN Jakarta bukan yang pertama melaksanakan KKN DR. Mungkin, semua mengira KKN tahun ini akan tidak ada sama sekali. Aturan yang berbelit-belit. Susah payah sana-sini. Dan koordinasi antar orang yang tidak efektif. Perdebatan muncul sejak PPM merilis video mengenai pengenalan KKN DR. KKN yang dalam bentuk bingkai sederhana, meski tidak cukup sederhana. Dua hari video itu diupload, ribuan komentar membanjiri termasuk ketidakinginan mahasiswa serta penolakan adanya KKN DR. Bukan tanpa alasan, sekali lagi Covid 19 benar-benar musibah melanda semua orang. Tidak hanya materi, juga mental.

Semua sektor diserang. Pendidikan, Ekonomi, pembangunan, olahraga, dan tentunya kesehatan. Awalnya, mahasiswa tentu berandai, agar semua sistem yang berlaku dipermudah. Tetapi kemudahan itu tentu relatif dan tidak bisa diukur secara merata. Sederhananya, KKN DR ini, pada akhirnya final sesudah PPM secara serempak membagikan dospem dan diskusi panjang melalui live IG mereka. 

Saya pikir, PPM adalah contoh nyata ketegaran dalam kasus selain praktisi KKN DR itu sendiri --maksud saya mahasiswa itu sendiri yang langsung terjun ke lapagan-, PPM adalah akto hebat versi saya. Di samping mendengarkan keluhan mahasiswa, juga seupaya mungkin mematuhi aturan demi aturan yang --mohon maaf- inkosisten dari pemerintah. Saya tidak ingin tulisan ringan ini akan menjadi kacang yang terlalu kaku mengkritisi, tetapi saya ingin berterimakasih ke PPM terutamanya, yang telah bersedia mendengarkan. Itu sudah cukup, dan sabar memberikan arahan.

Temukan momennya, semua akan baik-baik saja

'Temukan momennya, semua akan baik-baik saja' sebuah kalimat yang saya amini dari seorang youtuber motivasi di youtube. Sejak adanya covid 19, budaya mengeluh menjadi hal lumrah di media sosial. Yah di mana lagi, hidup bahkan lebih banyak diporsir melalui dunia maya dibanding nyata. Lockdown di kamar, momentum berlari di sosial media sudah bukan rahasia umum. Entah apa saja aktivitasnya.

Sejak pembagian dospem, setiap kelompok KKN sudah memiliki grup whatsapp masing-masing. Sebelum peliburan massal covid 19 ini, PPM sepertinya mengambil inisiatif sangat akurat dengan memagikan kelompok secara cepat, benturan musibah covid 19 pun, tidak begitu menambah beban mereka lagi.

Beberapa momen, melalui grup whatsapp, saya dan yang lainnya saling berkenalan layaknya mahasiswa baru kenal. Dan saling berbagi keluh-keluhan. Iya, budaya ini sangat tersalurkan sejak diumumkan adanya KKN DR. Grup yang awalnya sepi menjadi acara sabar massal, disamping pembelajaran jarak jauh yang dituntut banyak tugas, mahamin pelajaran serba sendiri, ya serba sendiri mandiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN