Mahendra Paripurna
Mahendra Paripurna Berkarya di Swasta

Pekerja Penyuka Tulis Baca, Pecinta Jalan Kaki dan Transportasi Umum yang Mencoba Menatap Langit

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Terbangun oleh Malam

12 Januari 2019   05:26 Diperbarui: 12 Januari 2019   05:31 233 35 9
Puisi | Terbangun oleh Malam
Pixabay.com


Terbangun oleh malam
Oleh rintik hujan yang menggelitik telinga
Menutupi sepi dengan gemericik air jatuh dari langit kelam
Serupa tetabuhan turun dari angkasa

Nyanyian dalam kesunyian
Buat mata enggan terpejam
Seolah malam mengajak diskusi tentang dunia yang penuh keanehan
Tentang berbagai tragedi dan fenomena alam

Setelah ramai tingkah polah manusia
Oleh selubung prostitusi yang perlahan terbuka
Alam kembali tunjukkan taring-taringnya
Seolah protes atas peringatan yang tak jua ada imbasnya

Puting beliung melibas
Laksana tangan-tangan raksasa yang menebas
Dengan pusaran angin yang terus menerabas
Tanah sunda seolah akan berhenti bernapas

Akan kemana harus berlari
Jika tak ada lagi tempat tuk sembunyi
Akan kemana harus mengadu
Jika Kau tak lagi mau berpaling tuk bertemu

Hanya mampu renungi
Kepingan-kepingan peristiwa
Dari puzzle yang Kau sodorkan tuk di susun kembali
Membuka kitab berdebu mencari tentang sebuah makna rahasia

Seiring dzikir malam
Menyambut pagi yang kian muram

Tangerang, Januari 2019
Mahendra Paripurna