Choirul Rosi
Choirul Rosi Pegawai

Cerita kehidupan yang kita alami sangat menarik untuk dituangkan dalam cerita pendek.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Teana - Taw (Part 27)

2 Oktober 2018   16:51 Diperbarui: 2 Oktober 2018   17:12 415 0 0

       Sesampai di Penginapan Al Anbath, Teana berjalan memasuki kamarnya. Almeera mengikutinya. Almeera masih menanyakan perihal munculnya laba -- laba yang begitu banyak. Teana hanya diam. Ia tidak mempunyai jawaban yang bisa memuaskan Almeera. Sebab ia sendiri tidak mengetahui pasti dari mana asal laba -- laba itu.

"Aku tidak tahu Almeera, laba -- laba itu muncul tiba - tiba."

"Tuan benar, mereka muncul tepat saat Pendeta Samad memulai ritualnya. Saat patung Dewa Dhushara dibawa keluar kuil. Padahal sebelumnya, ketika patung Dewa Dhushara dikeluarkan dari kuil untuk acara ritual pemujaan, tidak pernah ada satu pun laba -- laba yang muncul. Tapi mengapa tiba -- tiba tadi muncul banyak sekali?"

"Aku tidak tahu Almeera." Jawab Teana singkat sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang.

       Almeera menyalakan lilin -- lilin dikamar Teana. Lalu ia membuka bungkusan kain putih. Ia mengamati patung Dewa Dhushara dalam keremangan cahaya lilin. Teana berusaha memejamkan matanya. Dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar Almeera berkata.

"Jangan -- jangan patung ini adalah memang patung Dewa Dhushara yang asli." ucap Almeera pelan.

"Tuan... Tuaaan... Apa Tuan sudah tidur?" panggil Almeera pelan. Tidak ada jawaban dari Teana.

       Almeera pun keluar meninggalkan Teana setelah ia membungkus kembali patung itu dan menyimpannya ditempat semula. Teana membuka pelan matanya.

"Sepertinya ucapan Almeera ada benarnya. Aku harus segera mengamankan patung itu." gumam Teana dalam hati. Lalu ia memejamkan matanya.

***

       Matahari muncul perlahan dari balik Gunung Hor. Dari kejauhan Kota Petra tertutup kabut tipis. Jalan utama kota masih terlihat lengang. Di kiri kanan jalan terlihat dua ekor kuda diikat di sebuah tiang kayu tanpa pemiliknya.

       Pagi itu Teana bangun lebih awal. Ia berendam di dalam bak mandi yang terbuat dari batu cadas merah berbentuk cekungan sedalam kurang dari satu meter. Di sekeliling bak mandi itu menyala beberapa lilin untuk menerangi ruangan. Hangatnya air yang bercampur aroma Myrrh membuat pikiran Teana menjadi tenang. Sambil menarik napas dalam -- dalam dan memejamkan matanya, ia menikmati uap air yang mengepulkan aroma wangi yang menenangkan pikirannya. Kali ini ia benar -- benar menikmati kesendiriannya.

"Patung itu memiliki kekuatan. Kekuatan yang akan menjadikan pemiliknya tidak terkalahkan. Kekuatan magis dalam patung itu bisa menghancurkan Bangsa Nabataea jika disalahgunakan oleh Bangsa Bawah."

       Teana seketika terbangun dari lamunannya. Ia tersentak ketika kepalanya hendak tenggelam didalam bak mandi dan air hampir saja memasuki lubang hidungnya. Suara Peramal Simkath tiba -- tiba menggema didalam telinganya. Jantungnya berdtak dengan cepat. Ia mengambil napas panjang. Dan perlahan mulai mengatur kembali napasnya.

"Patung... Kekuatan... Laba -- laba... Apa maksudnya?" gumam Teana pelan.

***

       Perjamuan makan pagi telah disiapkan. Beberapa pelayan Penginapan Al Anbath sibuk keluar masuk dapur untuk menyajikan berbagai macam makanan. Irisan tipis daging kambing bakar, ayam kalkun berbumbu rempah pedas dikelilingi aneka sayuran nampak mengkilat kecoklatan dengan lelehan madu diatasnya. Bertumpuk -- tumpuk roti gandum lengkap dengan saus lada hitam siap disantap dengan irisan tipis daging kambing bakar. Sajian itu sangat menggoda selera. Sajian untuk para saudagar kaya yang menginap disana memang tidak main -- main. Semuanya benar -- benar sempurna.

"Almeera... Siang ini kita akan ke Kota Hegra. Aku tidak mau menundanya lebih lama lagi." ucap Teana sambil mengiris daging ayam kalkun diatas meja.

"Baik Tuan, akan hamba persiapkan keperluan Tuan."

"Siapkan pakaianku yang biasa saja Almeera, aku tidak mau penampilan kita terlihat mencolok. Dan jangan terlalu banyak membawa barang -- barang."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5