Wisata Pilihan

Kesibukan Si Lensa dan Si Ransel di Kota Udang

24 Mei 2018   23:12 Diperbarui: 24 Mei 2018   23:55 648 1 0

Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan dalam sebuah perjalanan jauh yang sangat mengasikan dan sangat berkesan. Ayam berkokok dan hari mulai berganti, tidak terasa sudah tanggal 3 Mei 2018 yang jatuh pada hari Kamis. Pagi itu adalah pagi yang sangat sibuk karena tidak seperti hari-hari biasa yang seenaknya mandi dan bangkit dari lelapnya tidur.

Waktu pun tidak ingin kalah cepat, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 04.00 WIB sedangkan kereta akan berangkat pukul 07.00 dari Stasiun Gambir.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dari tempat yang sangat nyaman ini. Ransel yang begitu besar dengan peralatan kamera yang begitu banyak seakan berteriak tidak kuat mengangkut beban yang ada di dalamnya, tapi apa boleh buat tidak mungkin membawa dua ransel untuk bepergian selama empat hari kedepan, karena terlalu banyak barang yang akan di taruh di dalam bagasi.

Dengan nyali yang begitu besar ransel itupun berhasil masuk ke dalam bagasi yang begitu sempit dan begitu pengap karena harus berdempetan dengan ransel yang tidak kalah besar dan bau. Mungkin mereka lelah dan tertidur lelap di dalam bagasi yang terlalu dingin untuk sebuah ransel.

"Hhooaamm" terjatuh sebuah rensel coklat dari bagasi yang menimpa salah seorang mahasiswa yang sedang tertawa dan membuat semua mahasiswa yang sedang tertawa tersebut semakin keras dan sangat bising membuat ransel besar tersebut kesal dan terbangun dari tidurnya. "Ingin berteriak rasanya mendengar semua ocehan mahasiswa yang sangat berisik tapi asik itu" cakap ransel yang besar dan berat. Ransel yang jatuh tadi dikembalikan ke tempat semula dengan posisi yang sangat nyaman karena ditaruh jauh dari ransel yang lain. 

Terlihat semua mahasiswa tertidur di atas kursi yang sangat nyaman dan sangat empuk. Namun, terlihat kamera yang tidak mau kalah dengan segerombolan ransel yang memiliki posisi yang enak di atas kabin kereta, para kamera memiliki posisi yang sangat istimewa yaitu di pangkuan para mahasiswa karena posisi ini memudahkan semua mahasiswa untuk mengambil moment yang ada di sekitarnya.

Tak terasa tiga jam sudah berlalu dengan begitu cepat, sang mentari sudah terlihat begitu panas karena posisi saat itu bertepatan dengan pukul 11.00 di daerah Cirebon yang terkenal dengan kota gersang yang banyak sekali truk berlalu lalang melewati kota tersebut. "Ada apa kita dibawa ke kota ini ransel? "tanya kamera kepada salah satu ransel, "Kita akan wisata fotografi dari kampus ATVI yang di lakukan setahun sekali oleh anak semester 2" jelas ransel.

Panas, gersang, dan haus seperti jalan di Gurun Sahara. Tapi semua terbayar dengan fenomena wisata yang begitu asri dan begitu indah di dalamnya. Semua orang yang berkunjung ke kota ini di suguhkan dengan keramahan masyarakat yang membuat siapa saja betah berlama-lama di kota udang ini.

"Cekrek " suara kamera yang mengambil momen langka yang ada di Kota Cirebon membuat semua mahasiswa ikut mengabadikan momen ini. "Sekarang kita sudah berada di Taman Budaya Hati Tersuci "terdengar suara pemandu wisata dari toa yang dia pakai. Kamera tak mau kalah cepat dengan pengumuman ini, semua mata kamera tertuju kepada spot yang sedang dijelaskan oleh pemandu wisata di sana.

Dokpri
Dokpri
Terlihat patung yang besar berbentuk seperti malaikat bersayap yang besar menjadi daya tarik sendiri, mata kamera semua tertuju kepada spot foto itu. Maka tak heran jika banyak sekali foto yang sama tentang spot ini. Tak usah terlalu lama menjelaskan spot ini karena mungkin sudah banyak yang menjelaskan tentang foto ini.

Matahari semakin condong ke arah barat menunjukan bahwa waktu sudah lewat dari pukul 13.00, tidak terasa memang jika kita berjalan di tempat yang sangat mengasikan, membuat waktu serasa cepat sekali berlalu. Namun sayang, waktu memaksa lensa kamera untuk ditutup dan kembali ke dalam bis untuk perjalanan yang sangat melelahkan tapi sungguh mengasikan .

Tertidur di dalam bis memang hal yang sangat tidak dianjurkan ketika perjalanan wisata, karena kita tidak bisa melihat tempat yang indah yang tidak bisa ditemui di Kota Jakarta. Terbangun adalah hal yang sangat menjengkelkan ketika sedang terlelap di dalam lelah dan terkantuk di dalam mimpi yang indah. Tidak terasa sudah sampai di Keraton Kasepuhan, sepertinya baru saja lensa kamera di tutup tapi kenapa sekarang sudah di buka lagi ?

Dokpri
Dokpri
Di Keraton Kasepuhan ini banyak sekali tempat yang indah dan tempat yang bagus untuk tempat berfoto, terutama di depan keraton yang menurut lensa kamera itu sangat apik untuk tempat berfoto. Tidak banyak yang diceritakan di tempat ini karena terlalu panjang dan terlalu lama jika di ceritakan keindahan di dalam Keraton Kasepuhan di Cirebon.

Sang surya sudah berada tepat 45 derajat di ufuk barat yang berarti waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB. Berarti lagi-lagi waktu memaksa kaki untuk melangkah lebih jauh lagi ke tempat-tempat selanjutnya.

Perjalanan yang begitu lelah tidak terasa sama sekali karena sepanjang jalan sang lensa bertemu dengan begitu banyak masyarakat cirebon yang begitu antusias dan begitu ramah menyambut mahasiswa dari ATVI, tak jarang beberapa mahasiswa yang berhasil mendapatkan foto bersama masyarakat yang sedang beraktifitas di wilayahnya. Masyarakat yang sangat menjujung tinggi nilai kebudayaan dan nilai agama membuat daya tarik sendiri di kota ini.

Perjalanan berlanjut dan berujung di sebuah hotel yang membuat mata lensa seakan terpejam karena tidak kuat mengambil momen keindahakan dan keramahan kota udang ini. 

Tidak mau di anggap remeh oleh ransel dan kamera, si kecil dan imut memory pun merasa dirinya lelah sangat, karena berhasil menyimpan banyak sekali data dari yang tidak jelas sampai yang benar-benar bagus. tak kalah penting peran laptop pun sangat dibutuhkan di saat-saat seperti ini, di saat ransel, kamera, lelah dan tertidur, laptop mengerjakan tugasnya sebagai mesin back up sang memory. Setelah semua selesai mereka semua tertidur dan menyiapkan tenaga untuk hari-hari berikutnya.

Morning call menjadi hal yang seakan sangat penting dan tidak pernah absen untuk terus membangunkan para mahasiswa di pagi hari.  Dering morning call  dengan kerasnya seraya membangunkan semua penghuni kamar hotel itu. Semua terbangun tak terkecuali laptop yang baru tidur pukul 02.00 WIB.

Perjalanan dilanjutkan ketempat yang sangat mengasikan lagi. Tak sabar rasanya ingin mengeker mata lensa ke tempat yang bagus  lagi. Waktu  berjalan begitu cepat, sang surya seakan tidak pernah sependapat dengan lensa. Mata belum lelah tetapi sang surya semakin redup. Terpaksa kami semua harus kembali ke hotel dan semua berlalu sama seperti hari-hari sebelumnya.

Hari yang paling mendebarkan, hari terakhir di kota udang ini membuat setiap mata lensa yang di pakai untuk berfoto seakan ingin disaksikan dan dilihat oleh orang banyak. Perjalanan terakhir menuju Car Free Day di Kota Cirebon, itu yang membuat mata lensa seakan ingin keluar dan ingin merasakan sejuknya kota cirebon ini.

Dokpri
Dokpri
Banyak sekali spot foto yang dapat memanjakan mata lensa, tapi sayang banyak mahasiswa yang tidak memanfaatkan situasi seperti ini, karena mereka tergiur dengan kondisi di sana, padahal kamera sudah berteriak minta untuk di gunakan untuk memotret moment.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2