Mohon tunggu...
Listhia H. Rahman
Listhia H. Rahman Mohon Tunggu... Ahli Gizi - Ahli Gizi

Lecturer at Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik ❤ Master of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine Public Health and Nursing (FKKMK), Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro ❤Kalau tidak membaca, bisa menulis apa ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Membahas Kulwap, Kuliah WhatsApp yang "Online-online" Itu

5 November 2019   21:30 Diperbarui: 7 November 2019   14:11 3845
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi | unsplash.com

Sering dianggap berisik dan gak jarang cuma sarana penyebar berita bohong alias hoaks, nyatanya grup Whatsaap bisa jadi seperti kampus, lho! Menjadi tempat kuliah.

Berkembangnya teknologi informasi membuat banyak perubahan di kehidupan kita, seperti perubahan cara kita mencari sesuatu yang belum kita ketahui yang banyak dibantui oleh gawai.

Apalagi dengan gaya hidup kita yang tidak bisa lepas dari internet, apa-apa yang ingin kita tahu memang tidak lagi perlu susah payah kita dapatkan jawabannya, cukup dengan duduk manis, lalu ketik di laman pencarian setelah itu tinggal menunggu beberapa detik. Taraa~ apa yang kamu kepo-in, terpampang nyata.

Pun yang tak kalah menarik adalah munculnya fenomena-fenomena yang tidak pernah muncul sebelum adanya telpon pintar dan internet. Seperti berjamurnya media sosial yang memunculkan aktivitas baru pula. Salah satunya sebut saja kulwap ---singkatan dari kuliah WhatsApp, selanjutnya saya sebut kulwap ya--- yang banyak ditawarkan sebagai salah satu sarana berdiskusi terkait tema tertentu lewat medsos.

Kuliah Tanpa Ruang Kelas!
Tidak seperti perkuliahan pada umumnya, yang membutuhkan ruang kelas, meja, kursi dan proyektor. Kulwap menawarkan cara kuliah yang lebih praktis. Hanya butuh grup Whatsapp (selanjutnya disingkat WA saja, ya), sudah.

Dalam melakukan kulwap, setidaknya ada 3 peran yang selalu ada yaitu pemateri (yang diundang), moderator (untuk mengatur jalannya diskusi) dan juga peserta (anggota grup WA).

Karena kepraktisan kulwap inilah, tak heran mulai banyak sekali bermunculan kulwap-kulwap dengan tema tertentu. Apalagi tidak perlu ke mana-mana untuk mengikutinya, tidak perlu juga tatap mata langsung, yang dibutuhkan hanya kuota. Semudah itu~

Penasaran, saya pun menanyakan kebeberapa teman di media sosial khususnya Instagram saya terkait keterlibatan mereka dengan kulwap. Dengan pertanyaan semacam ini: "Pernah mengikut kulwap?" Ternyata jawabanya lebih banyak yang tidak, terpaut 5 persen saja sih.

Baiklah, setidaknya hampir setengah teman-teman saya yang mau mengaku pernah mengikuti kulwap deh. Hihi.

Pengalaman Pertama Langsung Jadi Pemateri
Saya sendiri masuk ke tim yang belum pernah mengikuti kulwap. Sampai bulan Juli (kalau tidak salah), saya diajak kali pertama mengikutinya..dan bukan jadi peserta malahan disuruh jadi pemateri. Huwooow!

Karena belum pernah membayangkan seperti apa, saya iyakan saja untuk pengalaman dan menebus rasa penasaran. Sampai di hari yang ditentukan itu datang, saya mencoba untuk tetap santuy dan hadapi saja apa yang akan terjadi nanti. Apa yang terjadi terjadilah~~

Sampai diakhir saya baru merasa, "Oh begini toh, kulwap!"

Selain pertama kali kulwap malah menjadi pemateri, hal menarik saat kulwap perdana saya adalah ketika saya harus melakukannya di keramaian. Ya, saya melakukan kulwap yang --berdurasi hampir satu jam-an itu di tengah-tengah rombongan jaamah haji. Meski sempat khawatir takut kehilangan sinyal, nyatanya saya berhasil melaluinya.

Menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi datang ditengah hiruknya suasana ternyata bisa juga. Yang mudah-mudahan bisa nyambung sih, karena sistemnya yang "saat itu juga" membuat saya harus segera juga membalas.

Ohya, ternyata memang saya tidak kehilangan sinyal ditengah per-kulwap-an. Yang hilang justru jam tangan pemberian Bapak, yang tidak sadar ternyata sempat dilepaskan saudara saya ketika saya sedang asyik (dan sangat amat fokus) mengetik.

Beruntungnya, walau sempat tidak ditemukan beberapa jam, ternyata jam tersebut masih milik saya. Kok bisa-bisanya ditemukan oleh orang yang ternyata dekat dengan Om saya. Rezeki emang gak kemana ya ges~

Pertanyaan Berikutnya: Efektif Nggak Sih?
Kembali lagi soal kulwap.

Sebenarnya saya juga bertanya-tanya soal yang ini. Seberapa efektif sih adanya per-kulwap-an ini? Apakah benar ada pengaruhnya? Apakah peserta benar-benar mendapat manfaatnya. Jangan-jangan cuma di scroll-scroll ajah nih?

Ah, iya. Sepengetahuan saya, sepertinya diakhir selalu ada ringkasan dari perkulwapan itu sendiri. Jadi kalau memang benar dibaca, ya memang bermanfaat. Mudah-mudahan.

Kalau dinilai keefisienannya, sejauh ini memang efisien sih. Hemat waktu, tempat dan tenaga..tapi tidak kuota? HAHA. Hal yang saya kira menjadi pertimbangan besar mengapa kulwap harus ada dan banyak ditemui di era sekarang ini.

Butuh jasa pemateri kesehatan sampai percintaan, hubungi saja lebih lanjut! Hiyaaa~

Salam,

Listhia H. Rahman

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun