Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Jakob Oetama, Istilah Jurnalisme Kepiting, dan Diplomasi Media Melawan Korupsi

9 September 2020   19:58 Diperbarui: 10 September 2020   08:02 1251 59 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jakob Oetama, Istilah Jurnalisme Kepiting, dan Diplomasi Media Melawan Korupsi
Foto: Pusat Informasi Kompas

Jakob Oetama, Salah Satu Pendiri Grup Kompas Meninggal Dunia

Jakob Oetama telah meninggal dunia pada usia 88 tahun hari ini, 9 September 2020. Semasa hidupnya, Jakob Oetama dikenal sebagai pribadi sederhana, jujur, berintegrasi, bersyukur dan sangat humanis. 

Ia sering disebut sebagai orang yang memanusiakan 'nguwongke' orang lain dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya. Ini diterapkan dalam mengarahkan nilai bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

Jasa pendiri Kompas Group ini banyak sekali. Bersama P.K Ojong (alm), Jakob Oetama mendirikan Kompas Gramedia (KG) pada 28 Juni 1965. 

Selain itu almarhum adalah penerima berbagai penghargaan, termasuk di antaranya Bintang jasa "The Order of The Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Pemerintah Jepang (2010); Number One Press Card dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 2010; Alumnus Teladan dari Universitas Gadjah Mada dalam Rangka Dies Natalis ke-56, Yogyakarta (2006); World Entrepreneur of the Year Academy 2006 dari Ernst & Young, Monaco (2007), Lifetime Achievement Award dari Bank BRI (2008), dan Lifetime Achievement Award dari PWI (2009). Jakob Oetama sempat menerima Piagam Mahaputera dari Presiden pada 1973. Penghargaan-penghargaan ini sedikit banyak menggambarkan siapa Jakob Oetama. 

Jakob Oetama, Kompas dan Anti Korupsi

Ada suatu penghargaan lain yang belum saya sebut di awal tulisan yang menurut saya amat menarik, yaitu penghargaan dari Tiga Pilar Kemitraan berkaitan dengan Hari Antikorupsi. Mengapa menarik? Menarik karena di masa yang lalu sempat ada perdebatan tentang bagaimana strategi media digunakan oleh Jakob Oetama dalam melawan korupsi.

Tulisan Atmadji Sumarkidjo pada Jurnal Visi Komunikasi "Pers Nasional, Pilar Satu-Satunya Yang Konsisten Anti-Korupsi" (2013) menuliskan beberapa hal terkait konsistensi media pada gerakan anti korupsi. 

Persyaratan permintaan maaf ketika dibredel sempat menjadi suatu perdebatan dalam proses yang terjadi pada pucuk pimpinan harian Kompas, yaitu antara PK Ojong (Pemimpin Umum) dan Jakob Oetama (Sularto, 2007: 128-129). "...menghadapi kenyataan ini, Ojong dengan tegar mengambil sikap, 'Jangan minta maaf, mati dibunuh hari ini, nanti atau tahun depan, sama saja...'.

Atmadji menuliskan bahwa Jacob Oetama punya pemikiran lain. "Saya segera mengambil alih persoalan. Saya maju ke depan, memikul risiko, menandatangani pernyataan minta maaf serta janji tertulis yang diminta..." Atmadji juga menuliskan pernyataan Jacob Oetama bahwa mayat hanya bisa dikenang, namun tidak akan mungkin diajak berjuang. Sedangkan perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, antara lain media massa. Dan, pada 7 Februari 1978, ketujuh surat kabar itu terbit kembali. 

Keputusan besar Jakob Oetama itulah yang menjadikan Kompas masih ada hingga kini. Suatu keputusan penting dan sekaligus menggambarkan strategi yang didasari pertimbangan yang dalam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN