Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Jangan Panggil Aku Indung

27 November 2019   06:00 Diperbarui: 27 November 2019   08:40 353
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: pinterest.com

Harum Paku Balai berbumbu Bekalain tercium naik ke bumbungan betang, terbang ke langit langit dan mengalir di arus sungai-sungai.

Kembung kenyang mereka dihantar Dian Kalang.

Tak pernah kudengar anak mati sia-sia. Kuberi mereka Lirang Tana, penawar maha sakit dan duka.

Kuberi cukup istanamu dengan  Belien, Kapun, dan Penjae

Dan kubiarkan perahu Saleng Tebulo berkayuh sepanjang sungai.

"Serakah!".

"Benar benar serakah!"

Kini kau rampok semua kupunya.

Kau hanya sisakan lubang menganga tepat di retakan nadi kehidupanmu saja.

Siang malam air mataku tumpah tanpa kuasa. Terjungkal tumpukan akar. Terbanting pepohonan.

Laki laki bebal itu datang lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun