Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Layanan Kesehatan Jiwa: Jangankan Papua, Jakarta pun Belum Memadai

8 Oktober 2019   20:14 Diperbarui: 12 Oktober 2022   14:40 624
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri
dokpri

Seorang dokter spesialis jiwa yang bertugas di RSUD Schoolo Keyen, Papua Barat melaporkan bahwa terdapat persoalan kejiwaan ditemui di antara korban dari kerusuhan. Pemilih ruko yang dijarah dan dibakar, misalnya, ditemukan memiliki keluhan dan trauma (Liputan6, 7 Oktober 2019).

Untuk menangani warga Papua yang memiliki trauma dan keluhan kejiwaan, pendekatan yang dilakukan perlu menggunakan aspek budaya.

Persoalan yang kompleks terkait sebab musabab konflik tidak yang tak mudah dipahami membingungkan warga. Ditambah, terminilogi "pendatang" dan "orang asli" makin mengemuka akhir-akhir ini. 

Ini tentu membuat persoalan makin kompleks. Padahal, baik pendatang maupun orang asli Papua sama-sama menjadi korban ketika terjadi konflik. 

Namun kecurigaan bahwa orang asli Papua tidak akan mendapatkan pelayanan yang sama baiknya dengan apa yang didapat oleh orang mendatang menjadi kekhawatiran warga Papua. Ini dipahami karena kebanyakan tenaga medis memang pendatang. 

dokpri
dokpri
Persoalan yang nyata adalah ketersediaan rumah sakit jiwa dan aksesibilitasnya. Ini merupakan tantangan bagi warga di kedua provinsi karena hanya ada satu RSJ yaitu yang berada di Abepura. 

Apalagi, suatu studi tentang layanan kesehatan jiwa dari desa Wutung yang berada di perbatasan provinsi Papua dengan PNG menunjukkan lebih dekat untuk mengakses RS jiwa Dian Harapan di Abepura daripada ke RS Vanimo do PNG. 

Ini tentu memuat RSJ di Abepura menampung banyak tambahan pasien dari PNG. Dalam hal ini, transportasi adalah tantangan yang utama warga Papua untuk mendapat layanan kesehatan jiwa.

Diberitakan pula bahwa daya tampung RS Jiwa Abepura tidaklah memadai. Jumlah tempat tidur yang 104 unit tidak mampu menjawab kebutuhan yang ada. Oleh karenanya, dilaporkan bahwa terdapat pula pasien yang terpaksa dirawat harus tidur di lantai yang diberi alas kasur. (Papua Antara News, 12 Febuari 2019). 

Jadi, pasien dari kabupaten-kabupaten di Papua memang harus dikirim ke RS di Abepura karena puskesmas yang ada tidak memiliki layanan untuk kesehatan jiwa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun