Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Papa dan Ayah] Ayah Tak Berguna, Sebuah Prolog

11 November 2019   06:00 Diperbarui: 11 November 2019   06:02 116
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Calvin menggunakan suara bernada tegasnya untuk membangunkan Silvi. Silvi, yang mengira Calvin sebagai Adica, akhirnya menurut. Ia bangun, menghabiskan susu coklatnya, lalu menyusul langkah Papa dan Ayahnya ke lantai bawah.

Di teras depan, Calvin berpamitan. Ia meminta Silvi untuk menemani Adica selama jam kantor. Silvi mengangguk patuh. Saat Calvin akan menutup pintu mobilnya, Silvi tersadar.

"Lho, kok Papa pakai mobilnya Ayah?"

O-ow, mereka lupa begitu detailnya Silvi. Untunglah si kembar cepat menguasai situasi. Adica berpaling, lalu berpura-pura batuk. Dia berakting persis seperti Calvin. Buru-buru Silvi meraih tangan Adica, mengajaknya masuk. Calvin tersenyum puas sebelum melajukan mobilnya.

Seharian itu, Adica dan Calvin bertukar tempat. Calvin memimpin rapat, brieffing dengan general manager terkait target tahun ini, dan bertemu klien. Adica menemani Silvi di rumah. Ia memasakkan cream soup untuk Silvi, yang hasilnya tidak terlalu enak dan membuat Silvi curiga. Demi menguatkan penyamaran, ia pun bermain piano dan mengerjakan sesuatu di laptopnya.

"Ayah, udah waktunya minum obat. Ini obatnya."

Silvi melangkah anggun menghampiri Adica. Ia meletakkan baki hitam kecil berisi beberapa pil obat dan segelas besar air putih. Adica menatap enggan obat-obatan itu. Haruskah ia meminumnya?

Ternyata bertukar tempat itu tak enak. Adica bosan. Ia terbiasa berada di kantor. Seharian di rumah membuatnya terpenjara.

Silvi merasakan keanehan. Hatinya hampa. Pria yang ditemaninya di rumah serasa bukan Ayah Calvin. Entah mengapa, Silvi merindukan Calvin. Perasaannya tak tenang. Jauh dari Calvin rupanya menghapus ketenangan Silvi.

Semula penyamaran ini berjalan lancar. Hingga sore menjelang, Adica mendapat kabar buruk. Calvin jatuh pingsan setelah brieffing dengan general manager.

"Apa? Jadi...Papa dan Ayah bertukar tempat?" tanya Silvi kaget dan sedih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun