Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hari Ulang Tahun Bunda

24 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 24 Mei 2019   06:13 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Jose juga lukai Ayah. Ayah ikhlas dilukai berkali-kali, asalkan Jose nggak luka lagi." Anak yang mewarisi ketampanan Ayahnya itu bercerita dengan sedih.

Bunda Dinda menenangkannya. Meminta Jose berhenti melukai diri. Ketika Jose dan Tamara bermain di lantai atas, barulah Bunda Dinda bicara serius dengan Ayah Calvin.

"Calvin, bersabarlah. Kamu punya amanah luar biasa..." kata Bunda Dinda.

"Sabar? Selalu kucoba. I will do my best for my dear one."

Bunda Dinda membelai lembut punggung Ayah Calvin. Punggung rapuh itu...yang menahan beban berat dan menyimpan banyak luka.

"Mungkinkah Jose seperti itu karena tak pernah bertemu Sivia?" Bunda Dinda mengungkapkan prediksinya.

"Maybe. Dia belum setegar kamu. Kamu...yang telah lama ditinggal ibu kandungmu, dan punya ibu baru. Yang kausebut...ibu yang itu."

"Ingatanmu kuat, Calvin. Kau pasti ingat, waktu aku terisak-isak di pelukanmu saat Ayahku akan menikah lagi."

Ayah Calvin mengangguk, menunjuk dadanya. Tempat dimana dulu Bunda Dinda sering bersandar. Ayah Calvin Wan dan Bunda Dinda Pertiwi, keduanya dipersatukan nasib yang sama. Sama-sama hidup tanpa ibu, sama-sama hidup sendiri, punya hobi yang sama, dan pernah terperangkap stigma "tak punya keturunan" dalam waktu sangat lama.

"Calvin, aku pernah merawat ibu yang itu. Dia terkena stroke dan TBC. Tak ada yang memperhatikannya kecuali anak-anak ayahku. Aku dan saudara-saudaraku bergiliran merawatnya. Tamara memintaku hati-hati dan menjaga kesehatan."

"That's good. Aku yakin kamu tulus merawatnya. Kau layak mendapat hadiah untuk ketulusanmu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun