Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Spesial] Mata Pengganti, Pembuka Hati: Demi Orang yang Lembut Hatinya

15 Februari 2018   06:23 Diperbarui: 15 Februari 2018   07:15 356 24 17

Di bawah hujan, Calvin dan Syifa berpelukan. Air mata Syifa mengalir bersama air hujan. Sesaat tadi, dilihatnya kakaknya yang tampan itu berjalan tertatih menghampirinya. Lalu Syifa menabraknya, melingkarkan tangan di perutnya, dan memeluk Calvin erat.

"Kenapa kamu lakukan itu, Syifa?" tanya Calvin. Walau pelan, suaranya dapat terdengar jelas di tengah derasnya hujan.

Di sela tangis kesedihan, Syifa menjawab. "Bagaimana mungkin aku menikah sementara kakakku yang tampan dan lembut hatinya sakit parah?"

Dada Calvin sesak. Sesak oleh kesedihan. Sesak oleh penyesalan.

"Tidak usah memikirkanku, Syifa." ujar Calvin, suaranya bergetar.

Syifa menggeleng kuat. Bibirnya terkatup rapat. Bulir-bulir bening jatuh, bergabung dengan tetesan hujan yang mengambang di permukaan.

"Aku mencintai Kakak...cinta sekali. Aku tidak mungkin meninggalkan Kakak dalam kesendirian dan kesakitan. Hipernefroma tidak ringan, Kak." Syifa terisak.

Calvin berbalik menatap Syifa. Mata gadis cantik itu sendu berselimut kepedihan.

"Kalau Syifa mencintaiku, seharusnya terima saja lamaran Andy. Berbahagialah, jangan khawatirkan aku."

"Tidak, tidak bisa. Aku pilih Kak Calvin Wan dibandingkan Andy Kartanegara."

Rasa bersalah menusuk hati. Semua ini gegara dirinya. Dirinya telah menyusahkan Syifa. Menghalangi adik bungsunya untuk bahagia.

"Maaf...maaf, Syifa." lirih Calvin.

Detik berikutnya, Syifa merasakan pelukan Calvin bertambah erat. Ya Allah, kakak super tampannya pasti kesakitan. Bila pelukannya bertambah erat seperti sekarang, itu sebuah pertanda.

Mata Calvin setengah terpejam. Menahan rasa sakit sungguh tak mudah. Refleks ia memeluk Syifa seerat dia bisa. Ia lihat pancaran kecemasan di mata adiknya.

Perlahan Syifa memapah Calvin kembali ke kamarnya. Cuaca buruk ini tak baik untuk kakaknya. Sepasang tangan halus membelai rambut blogger dan pengusaha super tampan itu.

"Aku tidak akan meninggalkan Kakak...sebelum Kakak sembuh, aku tidak akan menikah." ucap Syifa tulus.

"Bagaimana kalau aku tidak sembuh?" tanya Calvin.

"Aku tidak akan menikah." jawab Syifa yakin.

Jawaban dari seorang gadis berpendirian kuat. Ia menjawab begitu bukan lantaran emosi sesaat. Sudah ia pikirkan sematang mungkin.

"Bagaimana kalau aku meninggal?" tanya Calvin lagi, suaranya mengecil lalu menghilang.

"Aku tetap tidak akan menikah. Syifa hanya akan menikah jika Kak Calvin sembuh."

Cinta dan kasih dapat diungkapkan dengan berbagai cara. Seperti itulah Syifa membuktikan cintanya pada Calvin.

Tetes demi tetes darah mengalir dari hidung Calvin. Syifa tersentak, kaget dan tak percaya. Tangannya ternodai darah, itu sudah biasa. Namun ia tak pernah tega melihat kakak yang sangat dicintainya merasakan sakit.

**     

Karena ku sanggup

Walau ku tak harus

Berdiri sendiri tanpamu

Ku mau kau tak usah ragu

Tinggalkan aku

Kalau memang harus begitu (Agnes Monica-Karena Ku Sanggup).

**     

"Pergilah, Andy. Pergi..." desis Syifa. Kotak kecil berlapis beludru terlempar. Jatuh menghantam rumput.

Andy bukan lelaki pertama yang melamar Syifa. Sudah banyak lelaki lainnya berdatangan menawarkan pernikahan manis. Mulai dari tentara hingga dokter, model hingga pengusaha. Berjuta pilihan di sisinya, Syifa tolak semuanya.

"Kenapa, Syifa? Kenapa menolakku hanya karena kakakmu yang sakit..."

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Andy. Tangan Syifa terangkat, gemetar  sampai ke ujung-ujung jari.

"Jangan pernah...hina kakakku." Bergetar hebat suara Syifa saat mengucapkannya.

Perlahan Andy melangkah mundur. Sia-sia rencana lamarannya yang telah diatur seromantis mungkin. Melamar di Hari Valentine, dengan cincin berlian mahal, lagu cinta diiringi biola, sebuket besar mawar putih, dan kalimat berdaya magis. Semuanya sia-sia.

"Ok maaf, Syifa. Tapi...aku yakin, para perawat dan dokter yang kalian bayar mahal akan merawat kakakmu sampai sembuh. Jadi, kamu bisa menikah."

Tangan Syifa bergerak membuka tasnya. Mengeluarkan tab, memperlihatkannya.

"Bit Coin, Berkembang Sebelum Waktunya. Oleh Calvin Wan. Ini artikel kakakmu, kan?" Andy membacanya.

"Iya. Sepuluh hari lalu. Ini tulisan terakhirnya sebelum dia sakit. Sakit yang sangat, sangat parah hingga membuatnya tidak bisa menulis. Biasanya, Kak Calvin selalu kuat di tengah sakitnya. Tapi sekarang berbeda...aku tahu, ada yang berbeda. Andy, aku akan jahat sekali bila menikah dan berbahagia denganmu sedangkan kakakku sakit parah."

Mata Andy menatap Syifa lekat. Kesedihan di sana, kecewa di sana.

"Syifa Ann...sepertinya kamu jatuh cinta dengan kakak kandungmu sendiri. Apa kamu terpikir untuk inses?"

Mendengar itu, Syifa terenyak.

"Bukan cinta seperti itu, Andy. Platonik love, cinta platonik. Ccinta tanpa nafsu. Cinta yang muncul karena dorongan spiritual, bukan dorongan untuk memiliki sebagai pasangan. So, pilihanmu hanya dua: tinggalkan aku, atau tunggu sampai Kak Calvin sembuh."

Ternyata Andy memilih yang kedua. Ia tahu pasti kondisi Calvin. Syifa melepas kepergiannya dengan dingin. Kaku, tanpa rasa.

Ia lebih memilih Calvin. Cintanya untuk Calvin. Begitu pula hatinya.

Andy tak pernah mengerti isi hati Syifa. Pengorbanan Syifa untuk tidak menikah belum apa-apa dibandingkan apa saja yang telah dilakukan Calvin selama ini. Calvin yang lembut, penyabar, penyayang. Calvin yang memberikan banyak waktu dan dirinya untuk Syifa. Demi pria yang lembut hatinya, Syifa berkorban. Mengesampingkan ego dan nalurinya sebagai wanita.

**     

https://www.youtube.com/watch?v=BGxreZwSfEE