Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Setiap Hari adalah Hari Kasih Sayang

14 Februari 2018   05:15 Diperbarui: 14 Februari 2018   05:16 738 20 14

Kompasianer, coba tebak hari ini tanggal berapa? Iya, benar sekali. Hari ini tanggal 14 Februari. Memangnya, ada apa dengan tanggal 14 Februari?

14 Februari adalah Hari Valentine, atau Hari Kasih Sayang. Berbagai versi tentang sejarah Valentine bermunculan. Ada yang bilang, Valentine dirayakan tanggal 14 Februari karena bertepatan dengan tanggal kematian Santo Valentinus. Santo Valentinus adalah seorang pastor yang diam-diam menikahkan para prajurit, karena ia memahami kasih dan cinta para prajurit Romawi dengan pasangan mereka. Lalu, masih banyak versi lainnya yang beredar.

Hingga detik ini, boleh-tidaknya merayakan Valentine masih menjadi perdebatan. Ada yang membolehkan, ada yang melarang. Pro dan kontra biasa, kan?

Young Lady cantik masih dengan kebiasaan yang sama setiap tahunnya: mengucapkan selamat pada orang-orang terdekat dan spesial. Andai saja belum pindah rumah dan masih bisa bertemu sahabat lama yang cantik itu, Young Lady tentu takkan segan merayakan Valentine bersamanya. Biasanya kami bertukar coklat. Seru sekali. Coklatnya lucu-lucu bentuknya, enak lagi. Tuh kan, jadi kepingin coklat....hmmmm. Siapa yang mau makan coklat sama Young Lady? Makan coklat sama wanita cantik nggak ada ruginya kok. Berkah malah...ups.

Ya, jadi ceritanya waktu masih Elementary School, Young Lady punya sahabat masa kecil. Kemana-mana selalu bersama. Walaupun sudah bertemu tiap pagi di sekolah, sorenya masih sering bertelepon. Dia gadis keturunan Tionghoa yang sangat cantik. Memang benar kali ya, orang keturunan campuran, atau yang punya percikan darah yang lain, selalu terlihat lebih cantik/tampan. Terasa kok oleh Young Lady, buktinya Young Lady cantik kan? Matanya biru lagi...mata yang indah. Ups, narsis lagi kan?

Walau menderita kelumpuhan sejak lahir, sahabat masa kecil ini punya semangat hidup yang tinggi. Dia anak yang rajin, pintar, dan baik hati. Young Lady senang bersahabat dengannya. Karena sangat menyayanginya, Young Lady selalu berusaha bersikap sesabar dan selembut mungkin padanya. Ibu kami pun sudah lama saling kenal juga gegara persahabatan kami. Young Lady cantik mengasihinya setulus hati.

Tuhan Maha Adil. Salah satu anggota tubuh Ia lemahkan, namun Ia berikan banyak karunia lainnya sebagai pengganti. Termasuk sahabat Young Lady ini. Dia berkebutuhan khusus, tetapi diberikan wajah yang cantik dan hati baik. Sering Young Lady temukan, orang-orang disabilitas namun berparas rupawan. Anggaplah itu kompensasi dari Tuhan.

Nah, setiap Valentine, Young Lady dan sahabat masa kecil selalu bertukar coklat. Kebiasaan yang sangat indah. Di sekolah, hanya kami satu-satunya yang punya kebiasaan itu. Lainnya tidak ada. Mungkin karena masih kecil, ceritanya kami ingin jadi anak SD yang ngehits dan gaul. Tapi percayalah, motif sebenarnya tetaplah karena rasa kasih sayang dan persahabatan.

Rasanya sudah lama berlalu. Sampai hari ini, Young Lady belum menemukan lagi orang yang bisa diajak melakukan kebiasaan itu. Tapi masih dicari kok. Masih available. Masih dibuka kesempatan. Sungguh, Young Lady cantik rindu kebiasaan itu. Barangkali ada gitu, pria super tampan dan charming, bahkan mungkin juga super kaya dan berdarah biru, yang mau bertukar coklat dengan Young Lady. Atau mungkin, ada wanita cantik jelita yang mau melakukannya.

Back to topic. Menurut Young Lady, sah-sah saja merayakan Hari Valentine. Tiap orang punya cara dan gaya sendiri dalam merayakannya. Ada yang sekadar refleksi, mengucapkan selamat, memberi kado, bertukar coklat, memberi boneka, membelikan bunga, sampai makan malam romantis. Apa pun perayaannya, jangan sampai nilai-nilai kasih sayang itu luntur. Jangan sampai makna kasih sayang dan cinta hanya terbatas pada perayaannya saja.

Tahun lalu, seorang biarawan Katolik tampan yang sangat dicintai Young Lady berkata, "Aku tidak pernah merayakan Valentine, karena bagiku setiap hari adalah hari kasih sayang". Oh my God, hati Young Lady tersentuh mendengarnya. Dalam hati membenarkan perkataannya. You're right, my dearest Frater ma rousse prince. Everyday is a lovely day.

Jika direfleksikan lebih dalam lagi, kasih sayang bisa dirayakan setiap hari. Tak perlu menunggu Hari Valentine untuk merayakannya. Rayakanlah kasih sayang setiap hari. Kasih dan cinta takkan terbatas ruang dan waktu.

Bagaimana cara merayakan kasih sayang tiap hari? Sederhana saja. Berikan perhatian, kecil ataupun besar. Hargai dan hormati orang-orang yang kita kasihi. Berkata-katalah yang lembut padanya. Minta maaflah bila salah. Itu semua sudah merupakan wujud kasih sayang yang nyata. Kalau perlu, panggillah orang-orang yang kita sayangi dengan panggilan sayang untuk menambah daya magis dari nuansa kasih yang kita berikan. Eits, jangan tertawa dulu. Mungkin kedengarannya konyol dan menggelikan. Tapi, panggilan sayang ini penting dan memberikan manfaat positif secara psikologis. Young Lady saja punya panggilan sayang dengan orang-orang yang istimewa. Dan bukan kebetulan kalau Young Lady cantik suka dipanggil sayang.

Kompasianer, coba perhatikan. Valentine's Day tahun ini jatuh berdekatan dengan Tahun Baru Imlek 2569. Sebentar lagi saudara-saudara kita yang berdarah keturunan Tionghoa akan merayakannya. Hari Kasih Sayang dan Tahun Baru Imlek. Dua momen yang sama-sama istimewa. So, ini kesempatan yang baik untuk menunjukkan rasa toleransi dan kasih sayang. Justru di kesempatan seperti inilah kita bisa menggunakannya untuk mencurahkan kasih dan toleransi.

Baru kemarin Young Lady gemas dan pecah konsentrasi karena Nyonya Besar a.k.a Mamanya Young Lady sering ikut bernyanyi saat Young Lady main piano. Bukan apa-apa, karena suaranya lebih bagus dari Young Lady. So pasti mentalnya jatuhlah. Tapi, mungkin saja itu bentuk dukungan. Bentuk kasih sayang, cara untuk menyemangati.

Inginnya "Calvin Wan" yang menyanyikan lagu Masih Berharap yang sedang dipelajari Young Lady itu. Mungkin Young Lady takkan separah ini mindernya. Tapi, Mr. Charming "Calvin Wan" pun sudah berbaik hati membacakan buku hampir setiap hari untuk Young Lady. Padahal buku itu bukan yang disukai. Itu namanya apa coba, kalau bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang bisa ditunjukkan dengan berbagai cara. Tiap individu punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan cinta kasihnya. Sayangnya, sering kali bentuk kasih sayang tidak disadari atau disalahartikan. Ada pula yang masih merasa kurang, lalu beranggapan sudah tak ada lagi kasih sayang. Saling memperbaiki dan terus mengasihi, itulah yang harus dilakukan.

Di Kompasiana ini pun, Young Lady cantik menemukan banyak kasih sayang. Teman-teman yang sangat baik. Seseorang yang mengulurkan tangan dengan penuh kasih ketika Young Lady terpuruk, yang selalu ada untuk menemani Young Lady, seorang Kompasianer pria charming bersuara bagus pembaca buku dan story teller yang baik. Seorang Bunda dari Kota Kudus yang baik dan cantik, yang lembut hatinya. Seorang Ayahanda dari Pulau Sumba yang setia mensupport Young Lady di Kompasiana. Opa dan Oma baik hati yang tinggal di Australia, yang telah menganggap Young Lady seperti cucunya sendiri.

Finally, Young Lady ingin mengajak Kompasianer bernyanyi sebelum menutup artikel ini. Ada yang tahu lagunya? Ayo, nyanyikanlah lirik lagu berikut ini.

Ada cinta yang sejati

Ada sayang yang abadi

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap kau milikku

Sejauh ku melangkah

Hatiku kamu

Sejauh aku pergi

Rinduku kamu

Masihkah hatimu aku

Meski ada hati yang lain

Ada cinta yang sejati

Ada sayang yang abadi

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap kau milikku (Isyana Sarasvati-Masih Berharap ost Ayat-Ayat Cinta 2).

Benar kata Isyana Sarasvati. Ada cinta yang sejati, ada sayang yang abadi.

Kompasianer, Selamat Hari Kasih Sayang.