Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Special] Mata Pengganti, Pembuka Hati: Dilema Introvert

11 Januari 2018   05:55 Diperbarui: 11 Januari 2018   05:59 922
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Calvin menyeka sisa darah dari hidung dan sudut bibirnya. Khawatir mencengkeram jiwa. Bagaimana dengan hemodialisa? Cepat atau lambat ia akan menghadapinya.

Mungkin ia akan menghadapinya sendirian. Silvi masih menjaga jarak. Nampaknya istri cantiknya itu kecewa berat. Ia tak sekali pun mengunjungi Calvin di paviliunnya. Lebih banyak bersama Syahrena. Mengajarinya ballet dan Swan Lake.

Bukan salah Silvi sepenuhnya. Calvin memang ingin sendiri. Lebih tepatnya, ingin merasakan sakit ini sendiri. Tanpa Silvi, tanpa Syahrena, tanpa Adica, tanpa Syifa.

Beginilah rasanya jadi introvert. Hanya mampu merasakan dan menghadapi semuanya sendiri. Sulit berbagi dan terbuka dengan orang lain. Semua dirasakan sendiri, dilewati sendiri.

Lama tenggelam dalam kesendirian, Calvin meraih iPadnya. Ia mulai menulis. Menuliskan ide lamanya tentang peluang agrobisnis sebagai usaha prospektif di masa depan. Artikelnya mengalir lancar, ringan tapi berbobot seperti biasa. Calvin Wan memang blogger tampan yang aktif dan hebat. Dalam kondisi sakit pun masih bisa menulis dengan sangat bagus.

Artikelnya selesai. Posting, dan...voilet. Calvin sekali lagi menunjukkan konsistensinya. Setelah itu, ia shalat Tahajud dan memfokuskan atensinya untuk berdoa pada Illahi. Calvin berdoa meminta kekuatan. Hanya satu pintanya. Ia tidak meminta apa pun lagi malam ini. Tidak minta disembuhkan, tidak pula minta diringankan rasa sakitnya. Cukup meminta kekuatan saja.

Shalat dengan cara normal adalah ujian tersendiri. Tiap kali bergerak, punggung dan perut bagian bawahnya sakit luar biasa. Namun inilah konsekuensinya. Bukankah sudah dikatakan? Jika ingin mencintai Allah, harus siap mendapat ujian. Kini Calvin sedang menghadapi ujian yang cukup berat.

Tak sadar dirinya jika sejak tadi ada empat pasang mata yang mengawasi dari balik jendela. Empat pasang mata itu redup oleh kesedihan. Mereka sedih dan berempati pada sosok rupawan di dalam sana yang tengah merasakan sakit luar biasa dalam kesendirian.

**      

"Kak Calvin seperti kehilangan cahaya hidupnya." desah Syifa.

"Tidak, tidak. Calvin tidak seperti itu. Ia hanya butuh sendiri." bantah Silvi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun