Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Special] Mata Pengganti, Pembuka Hati: Dilema Introvert

11 Januari 2018   05:55 Diperbarui: 11 Januari 2018   05:59 922
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap kau milikku

Masih berharap kau untukku (Isyana Sarasvati-Masih Berharap ost Ayat-Ayat Cinta 2).

Meski jemari tangannya tak selincah dulu, meski daya refleknya mulai berkurang, Calvin masih bisa bermain piano dengan indah. Suaranya pun sama bagusnya. Terbukti, sel-sel kanker yang mulai menyebar ke syaraf motoriknya tak menghalanginya untuk bermain musik.

Masih bisa bersyukur lantaran dirinya menjalani perawatan intensif di paviliun rumah sakit super lengkap dan mewah. Begitu lengkapnya sampai-sampai ada piano yang notabene alat musik favoritnya di sini. Walau menjalani perawatan di rumah sakit, Calvin tetap bisa bermain piano.

Beban berat di hatinya tak berkurang sedikit pun. Semua gegara hasil pemeriksaan terakhir. Ia harus menerima kenyataan bahwa ginjal sebelah kanannya telah berhenti berfungsi. Sel-sel kanker itu sangat jahat.

Ikhlas? Entahlah. Yang jelas, kini Calvin terguncang. Kemungkinan besar ia harus lebih sering menjalani cuci darah. Hemodialisa, langkah medis yang sangat menyakitkan.

Calvin sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya hemodialisa. Dia pernah mengalami sepsis/blood poisoning atau keracunan darah. Mungkinkah ia akan mengalaminya lagi? Kini, Calvin tak tahu harus bagaimana.

Waktu dan kondisi sudah mendesak. Siap atau tidak, Calvin mesti segera menjalani cuci darah. Kalau tidak, nanti terjadi penumpukan cairan dan racun lagi di tubuhnya. Efeknya bisa lebih berbahaya.

Pria bermata sipit tapi sangat tampan itu hanya bisa menyendiri. Terdiam, menyimpan bebannya sendiri. Tipe pria introvert sepertinya tak mudah berbagi. Terlebih membagi beban kesedihan dan kesakitan.

Dari pada harus berbagi dengan orang lain, lebih baik Calvin menyimpannya sendirian. Mencegah orang lain ikut merasakan. Biarlah, biarlah ia sendiri yang mengalaminya. Cukup dirinya saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun