Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Tanpa Batas

8 Agustus 2017   08:07 Diperbarui: 8 Agustus 2017   08:18 458 15 8

"Pagi Calisa..." sapa Tuan Calvin hangat. Mengecup kedua pipi Nyonya Calisa.

"Pagi Calvin."

Pipi wanita cantik blasteran Sunda-Belanda itu memerah. Ia salah tingkah. Nampan berisi dua cangkir teh sedikit bergetar di tangannya. Melihat itu, Tuan Calvin tertawa kecil. Mengelus pipi wanitanya.

"Sini aku taruh di meja," Tuan Calvin mengambil alih nampan itu. Meletakkannya di meja, di samping kanan laptopnya.

"Tumben kamu baca koran dulu. Biasanya pagi-pagi udah nulis." Nyonya Calisa berkomentar, melirik layar laptop milik suaminya.

"Aku ingin mengubah pola jam, Calisa. Bosan dengan rutinitas." balas Tuan Calvin.

"I see. Pantas saja kuperhatikan akhir-akhir ini waktu publish tulisanmu agak lain dari biasanya."

Pagi yang dingin itu berubah hangat karena sajian black tea dan sapaan ringan penuh cinta. Sekali lagi, Nyonya Calisa memperhatikan Tuan Calvin. Ikut membaca draf artikel yang ditulisnya.

"Kamu menulis tentang perasaan bosan dan cara mengatasinya?" tanya Nyonya Calisa.

"Iya. Terkadang rutinitas itu menjemukan. Menurutku, salah satu cara untuk mengatasi kebosanan adalah liburan. Lalu..."

"Mengubah urutan kegiatan." sela Nyonya Calisa.

"Betul."

Sementara Tuan Calvin kembali menyelesaikan artikel, Nyonya Calisa tak puas-puas menatapnya. Pagi ini, Tuan Calvin terlihat sehat. Tak ada lagi lingkaran hitam di matanya. Pipinya segar merona. Wajahnya yang tampan tak sepucat kemarin. Meski demikian, sehat atau pun sakit, Tuan Calvin tetaplah rupawan. Semangat hidup dan aura positif selalu terpancar kuat dalam dirinya.

"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sayang?" Tak tahan untuk tidak bertanya, Nyonya Calisa melontarkan pertanyaan itu.

"Aku merasa sangat sehat, Calisa." Tuan Calvin menjawab sambil tersenyum.

"Syukurlah. Saat di kantor nanti, jangan terlalu memforsir dirimu ya? Ingat, kesehatan jauh lebih penting."

"Iya, Sayang. Aku akan ingat itu."

Artikel itu selesai. Tuan Calvin mempostingnya. Setelah itu membaca lagi artikel milik Nyonya Calisa. Membaca komentar-komentar di artikel itu.

"Calisa?"

"Ya?"

"Kamu tidak apa-apa kan dengan komentar di sini?"

"Komentar yang mana, Calvin?"

"Banyak yang tidak sepakat dengan pendapatmu di artikel tentang hijab itu."

Bukannya sedih, Nyonya Calisa justru tersenyum. "No problem. Beda pendapat itu biasa. Aku stay cool saja. Terserah mereka mau pro atau kontra. Toh mereka tidak dekat denganku dan tidak paham situasiku. Mereka hanya pembaca yang kebetulan lewat dan memberi opini berbeda di artikelku."

"Good. You're a strong woman." Tuan Calvin melempar pujian, tersenyum menawan.

Diberi pujian dan senyuman menawan begitu, Nyonya Calisa menatap Tuan Calvin tanpa kedip. Pria berdarah keturunan dan berparas tampan itu selalu membuatnya bahagia.

"Thanks Calvin. Respon negatif, gagal dalam ujian masuk universitas, atau hal buruk lainnya tidak masalah buatku. Stay strong saja...tapi ada satu hal yang membuatku terluka, terjatuh, dan terpuruk. Kehilangan orang-orang yang kucintai. Sebab kehilangan itu sangat menyakitkan. Entah kehilangan karena konflik atau kematian. So, aku selalu menjaga perasaan orang-orang yang kucintai." ungkap Nyonya Calisa jujur.

Jika disuruh memilih, lebih baik Nyonya Calisa menahan perasaan dan ketidaksetujuan dibanding harus terlibat konflik dengan semua orang yang dicintainya. Ia tak ingin kehilangan mereka.

Sebenarnya, masalah hijab ini sensitif bagi Nyonya Calisa. Mantan penyiar radio yang kini aktif sebagai penulis dan pengajar itu pernah mengenakannya selama setahun. Namun ia melepasnya karena alasan yang kuat. Nyonya Calisa merasa belum siap dan terbebani. Satu-dua orang bertanya, tapi lebih banyak yang diam. Nyonya Calisa menghadapi pergulatan batin yang cukup berat saat itu.

**     

Ruang terbuka di bagian belakang yang menghadap ke kebun anggrek dan kolam renang menjadi tempat favorit mereka. Clara berkeras ingin sarapan di sana. Praktis Tuan Calvin dan Nyonya Calisa meluluskan permintaannya.

Fruit loops, menu sarapan mereka hari ini. Clara terlihat senang duduk di antara Ayah-Bundanya. Seperti biasa, ia sangat manja pada Tuan Calvin. Ayah dan anak itu begitu dekat dan sulit terpisahkan.

Saat Clara meminta Tuan Calvin menyuapinya, pria itu tak ragu melakukannya. Ia menyuapi putri tunggalnya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Sesekali bergantian dengan Nyonya Calisa.

"Calvin, kamu layak masuk kategori hot daddy." kata Nyonya Calisa.

"Oh ya? Sebenarnya, apa definisi hot daddy?" Tuan Calvin tergugah rasa ingin tahu.

"Hot daddy itu pria yang tidak hanya memberi nafkah untuk anaknya. Melainkan turun tangan secara langsung untuk merawat anak itu. Hot daddy takkan canggung memeluk, mencium, menyuapi, memandikan, dan mengajak bermain anaknya. Seperti yang sering kamu lakukan pada Clara." jelas Nyonya Calisa.

"I see..."

Dering ponsel memutus perbincangan mereka. Tuan Calvin lupa mematikan telepon pintarnya. Biasanya ia selalu mematikannya setiap kali bersama Clara dan Nyonya Calisa. Ternyata ada telepon.

"Selamat pagi. Maaf Calvin, saya Chantika. Bisa saya mengganggu sebentar?"

Sapaan seorang wanita yang ganjil. Tuan Calvin menahan keinginannya untuk tersenyum dan tertawa, lalu ia menyahuti.

"Sama sekali tidak mengganggu. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya istrinya Septian. Boleh saya minta waktu buat sharing dan konsultasi?"

Pasti ini ada kaitannya dengan kasus infertilitas. Sebagai orang yang divonis mandul dengan faktor kemoterapi dan masalah kesehatan, Tuan Calvin tahu bagaimana rasanya. Ia tak memikirkan diri sendiri. Prinsipnya, jangan sampai apa yang ia alami menimpa orang lain. Alhasil ia membuat grup beranggotakan pria-pria yang mengalami masalah infertilitas seperti dirinya. Tuan Calvin memimpin grup itu. Merangkul anggotanya, mengajak mereka sharing dan terbuka soal masalah mereka, lalu mencarikan jalan keluar. Masalah infertilitas berbeda-beda pengobatannya. Tergantung faktor penyebabnya. Septian salah satu anggota grup itu.

Sulit bagi Tuan Calvin menolak permintaan orang lain. Ia pun setuju untuk bertemu sore ini. Setelah menyebutkan nama cafe dan jamnya, telepon diakhiri.

"Ada yang mau konsul lagi, Sayang?" selidik Nyonya Calisa.

"Iya. Jadi, kemungkinan aku pulang terlambat hari ini. Is it ok?"

"Aku fine-fine aja. Tapi..."

"Ayah, mau pulang telat lagi ya? Clara masih kangen sama Ayah." Gadis kecil dan cantik itu menyela. Raut wajahnya sedih.

Melihat itu, Tuan Calvin tak tega. Lembut dibelainya rambut Clara yang tumbuh semakin panjang. Diciuminya puncak kepala gadis itu.

"Hanya hari ini, Sayang."

"Ayah mau pergi kemana nanti sore? Clara ikut...biar Clara bisa ketemu Ayah terus." pinta Clara manja.

"Ada teman yang mau ketemu Ayah. Nanti sore kan Clara les piano." Tuan Calvin mengingatkan.

"Clara mau izin. Abis Clara pengen sama Ayah."

Permohonan dengan nada manja berikut wajah innocent sukses meluluhkan hati Tuan Calvin. Ia mengiyakan permintaan anak semata wayangnya. Disambuti senyum ceria dan seruan penuh terima kasih. Kalau sudah begini, siapa yang tak suka melihatnya?

**     

Tak ada omelet, fruit loops, sereal, oatmeal, sandwich, nasi goreng, roti, atau menu sarapan lezat di rumah Syarif. Sarapan bukanlah hal yang mudah ia penuhi. Ia baru akan menikmati makan di pagi hari bila malam sebelumnya masih ada sisa makanan. Itu pun sangat jarang.

Praktis Syarif terbiasa pergi bekerja dalam keadaan lapar. Ia mulai melangkah menyusuri jalan. Mengumpulkan barang-barang bekas. Kebanyakan hanya botol dan bungkus makanan yang didapatnya.

"Pagi Muka Boros." Reza menyapanya seraya menepuk punggungnya dengan kuat.

Nyaris saja Syarif menjatuhkan barang-barang yang telah dikumpulkannya. "Jangan bikin kaget, Reza."

"Kamu serius banget. Nih sarapan dulu. Aku ada sedikit rezeki."

Reza menarik tangan Syarif ke sudut jalan. Mengajaknya menikmati seporsi makanan yang dibagi dua. Porsi kecil itu tetap membuat Syarif bersyukur.

"Kamu masih kepikiran si Calvin ya? Masa terus-terusan sedih?"

"Iyalah. Siapa ayah yang rela dipisahkan sama anak kandungnya?"

Pria kurus berkulit hitam dan bermata sayu itu menunduk. Mengusapkan tangannya yang kotor ke bajunya. Masih tercermin kesedihan dan keputusasaan di sudut wajahnya.

"Memang keterlaluan si Calvin itu. Mudah-mudahan dia cepat mati kena kanker." Reza memaki. Sejak mengetahui temannya dijauhkan dari putri kandungnya, Reza berhenti memanggil "Tuan Calvin". Ia lebih suka memakai nama saja.

"Sssttt...jangan bilang gitu. Gimana pun juga, Calvin ayahnya Clara. Dia ayah yang sangat baik."

"Yee...baik apaan? Cuma menang tampang sama harta kok. Nggak ada lagi yang bisa dicontoh dari dia!" bantah Reza.

"Kalau bukan karena Calvin, Clara tidak akan hidup bahagia. Bisa hidup layak, punya fasilitas lengkap, dapat kasih sayang penuh. Biar saja Calvin menjauhkanku dari Clara. Asal Clara bahagia." ucap Syarif pasrah.

Mau tak mau Reza membenarkan ucapan Syarif. Jarang sekali menemukan ayah yang kaya dan tulus seperti Tuan Calvin. Sebenarnya, Clara sudah berada di tangan yang tepat.

"Biar kamu nggak sedih, ikut aku ke cafe yuk." ajak Reza setelah mereka selesai sarapan.

"Ke cafe?" Syarif mengangkat alisnya.

"Oh iya, hampir lupa. Kemarin aku diterima kerja di cafe. Managernya baik. Nanti aku bawain makanan buat kamu."

"Syukurlah. Aku ikut senang kamu dapat pekerjaan baru."

Perkataan itu hanya dibalas dengan seulas senyum. Reza pun mengajak Syarif ke cafe tempatnya bekerja.

**    

Wanita berwajah manis dengan slip dress berwarna grey telah menunggu. Ia tersenyum, menjabat tangan Tuan Calvin.

"Maaf mengganggu waktumu," katanya, sedikit merasa canggung.

"Tidak apa-apa. Saya senang bisa membantu."

Wanita berwajah manis itu tak lain Chantika. Meski tersenyum, masih tersisa gurat kesedihan dan keletihan di wajahnya. Tuan Calvin dapat melihat itu.

"Well, cafenya bagus. Ini milikmu, kan? Begitu kata Septian." Chantika mengedarkan pandang ke sekeliling cafe. Mengagumi cafe berinterior cantik itu.

"Iya. Project bisnis sampingan bersama istri saya."

Ditemani strawberry shortcake dan avocado juice, mereka mulai bicara. Ternyata masalahnya cukup kompleks. Selama ini, Septian merahasiakan dari Chantika jika dirinya mandul. Semula Chantika marah, kecewa, dan tak bisa menerima kenyataan. Namun ada permasalahan yang jauh lebih kompleks lagi.

"Saya pun menyembunyikan sesuatu dari Septian..." ungkapnya perlahan.

"Apa yang kamu sembunyikan?"

Chantika menarik nafas sejenak. Entah menguatkan hati, entah berkompromi dengan kelenjar air matanya agar tidak berproduksi.

"Kondisi saya tidak memungkinkan untuk melahirkan."

Tuan Calvin berhasil menyembunyikan kekagetannya. Ekspresi wajahnya tetap tenang. Ia pandai menguasai diri.

"Boleh saya tahu apa penyebabnya?"

"Saya punya masalah penglihatan...sama seperti anakmu itu." Refleks Chantika mencuri pandang ke arah pintu kaca yang menghubungkan ke kids club. Tempat Clara bermain bersama anak-anak lainnya. Tuan Calvin meminta Clara menunggunya di kids club selama sesi konsultasi.

"Seperti Clara?" ulang Tuan Calvin.

"Iya. Tak perlu saya sebutkan nama medisnya, kan?" Chantika melanjutkan lagi ceritanya.

"Kata dokter, kondisi syaraf mata dan pembuluh darah saya rawan pada tekanan. Intinya, tingginya tekanan selama proses persalinan akan berpengaruh buruk pada kondisi saya. Dokter sudah memvonis saya tidak akan bisa melahirkan."

Kesedihan terlukis sempurna di wajah Chantika. Tuan Calvin merasakan empati yang dalam. Sesaat ia teringat Clara. Akankah putri cantiknya bernasib sama saat ia tumbuh dewasa nanti? Tuan Calvin sudah divonis mandul, lantas bagaimana dengan putrinya?

"Saya memahami perasaanmu, Chantika. Yang harus kamu lakukan adalah memberi tahu Septian dan mencari jalan keluar. Saya akan bantu carikan solusinya. Tapi kamu sendiri yang harus membuka rahasia ini pada Septian." ujar Tuan Calvin lembut.

Sesi konsultasi berlangsung lancar. Chantika serasa menemukan harapan baru saat berbicara dengan Tuan Calvin. Ada kekuatan, empati, penghiburan, dan support yang tulus.

Di sisi lain, Tuan Calvin bahagia dan sedih di saat bersamaan. Bahagia karena bisa membantu Chantika. Sedih memikirkan dan mencemaskan kondisi Clara di masa dewasanya. Akankah Clara mengalami hal yang sama seperti Chantika? Benarkah Clara akan sulit memiliki keturunan seperti ayahnya?

**    

How many nights does it take to count the stars?

That's the time it would take to fix my heart

Oh, baby, I was there for you

All I ever wanted was the truth

How many nights have you wished someone would stay?

Lie awake only hoping they're okay

I never counted all of mine

If I tried, I know it would feel like infinity (One Direction-Infinity).

Tuan Calvin dan Clara bernyanyi bersama. Sebenarnya, lagu itu menjadi ungkapan hati Tuan Calvin untuk putrinya. Bahwa ia akan selalu ada untuk Clara. Mencintainya, mendampinginya, dan menguatkannya.

Pembicaraan dengan Chantika membangkitkan kecemasan di hati Tuan Calvin. Bagaimana masa depan Clara? Bisakah Clara hidup normal dan tumbuh dewasa? Menjadi wanita yang sempurna, mendapat pekerjaan yang baik, menikah, dan memiliki anak? Nothing impossible, akan tetapi Tuan Calvin harus berusaha lebih keras untuk membuat putri cantiknya hidup normal dan bisa diterima di lingkungannya. Kasus diskriminasi masih sering terjadi.

Para pengunjung cafe dibuat salut dan terpesona. Owner cafe itu memang berbakat, begitu pikir mereka. Selain itu, tak ada yang tahu betapa gundah hati Tuan Calvin.

"Ayah akan selalu ada untukmu, Sayang." janji Tuan Calvin. Memeluk Clara erat. Mencium kening gadis kecil itu.

"Love you, Ayah." Clara berbisik. Membalas pelukan Tuan Calvin. Merasakan wangi Hugo Boss dari tubuh pria itu.

Di teras cafe, langkah seseorang terhenti. Dapat tertangkap oleh indera penglihatannya sosok mungil yang ia rindukan. Dialah Syarif, ayah kandung Clara. Ayah yang sebenarnya memiliki hak untuk bersama Clara.

"Clara?" desis Syarif tak percaya. Barang-barang bekas di tangannya berjatuhan.

Ingin rasanya ia berlari ke dalam cafe dan memeluk putrinya. Merebut Clara dari tangan Tuan Calvin. Sayang sekali, Syarif tak berdaya. Kekuasaan Tuan Calvin terlalu besar.

Ia hanya bisa memperhatikan Clara dari kejauhan. Menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hanya di sinilah posisinya. Tak bisa dekat lagi. Terbatas tembok tinggi materi dan kekuasaan.

"Clara anakku...Ayah sayang sekali sama Clara. Meski keadaan Ayah terbatas, meski Ayah terhalang untuk bertemu denganmu, tapi cinta Ayah untukmu tanpa batas dan tak ternilai." lirih Syarif, terisak tertahan.

Perihnya hati seorang ayah yang terpisah dari anak kandungnya sendiri. Hanya penyesalan yang membekas di ruang hampa hatinya. Andai saja dulu ia tak menyerahkan Clara pada Tuan Calvin. Semuanya takkan begini. Tapi, apa jadinya bila Clara tinggal bersamanya? Apa yang bisa diberikannya untuk Clara? Syarif bukanlah pria tampan dan kaya seperti Calvin Wan. Ia tidak bisa memberi apa-apa kecuali cinta tanpa batas untuk Clara.

**     

https://www.youtube.com/watch?v=yIzk6bX6zJY