Mohon tunggu...
Lalu Aziz AlAzhari
Lalu Aziz AlAzhari Mohon Tunggu... Penulis - Orang Dalam

Dalam hal apapun kita semua masih dalam proses pembelajaran

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Omong Kosong Kebebasan bagi Penganut Evolusi Darwin

16 Oktober 2021   17:44 Diperbarui: 16 Oktober 2021   19:35 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto : https://unsplash.com/s/photos/human

Pada abad ke-21 liberalisme indidualisme, Hak Asasi Manusia, dan Demokrasi menjadi buah bibir perdiskusian duniawi dikedai-kedai kopi kesayangan bahkan adapula yang membahasnya di semak-semak belukar biar esensi aktivisme dapet benget, pake be ge te. 

Kaum liberal meyakini kebebasan setiap individu begitu tinggi karena setiap manusia memiliki kehendak bebas, Hak Asasi manusia meyakini setiap orang memiliki hak-hak didalam menjalankan kehidupan salah satunya hak untuk hidup, kemudian Demokrasi mengimani kebebasan berpendapat tanpa ada interprensi dari pihak manapun. 

Namun sains modern sedang meruntuhkan tatanan fondasi-fondasi tersebut. Menurut Yuval dalam Homo Deus, sains tidak mengurusi masalah nilai, ia tidak bisa menentukan apakah kaum liberal benar dalam menilai kebebesan individu lebih tinggi dari kesetaraan, atau bahkan individu lebih penting daripada kolektif.

Masalah yang terjadi adalah sains modern tahap demi tahap sedang meruntuhkan apa yang liberal imani, apa yang Demokrasi imani. Sains modern tidak percaya keputusan atau kehendak bebas terjadi begitu saja atau hanya dengan mengikuti kehendak hati. 

"saya melakukan sesuatu atas kehendak hati, karena kebebasan adalah pilihan. Tentu hidup itu harus bebas" sebuah pernyataan yang akan menggelitik bagi penganut sains modern tulen be ge te. 

Karena sebuh keputusan atau keinginan telah melalui proses panjang, ribuan bahkan ratus juta ribu detik didalam tubuh. Penganut sains modern akan menjelasakan secara terperinci kenapa seseorang tersebut dapat mengambil sebuah keputusan untuk bebas yang tidak hadir begitu saja. 

Bahkan menyatakan dirinya bebas padahal itu tidak, sains modern akan menjelaskan bahwa fenomena itu terjadi akibat impuls yang terjadi pada otak yang mematuhi hukum elektrokimia pada manusia yang kemudian menjadikannya sebuah keputusan, tindakan, rasa dan lain sebagainya.

Menurut saya kebebasan bukan merupakan suatu hal yang sangat absolut didalam kehidupan karena sejatinya kita tidak pernah bebas.

Melainkan digerakan oleh reaksi-reaksi  elektrokimia dan sistem fisiologi didalam tubuh bahkan yang lebih ekstrim lagi bagi mereka yang meyakini sebuah kepercayaan pada dasarnya sebelum kita lahir apa yang kita lakukan didunia sudah ditentukan oleh sang kuasa. 

Hari ini bertemu dengan siapa, besok mau melakukan apa, hari ini mau makan apa, besok mau makan apa sudah ditentukan sebelum makhluk hidup itu diturunkan ke dunia. Membuktikan kebebesan hanya omong kosong belaka hanya sebagai pemanis agar supaya bumi masih tetap berputar pada porosnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun