Mohon tunggu...
Mawan Sastra
Mawan Sastra Mohon Tunggu... Koki Nasi Goreng

Penggemar Fanatik (baca; Raisa)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Tiada Setia yang Bodoh di Dunia Ini Selain Dia

4 April 2019   10:02 Diperbarui: 4 April 2019   10:06 0 2 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Tiada Setia yang Bodoh di Dunia Ini Selain Dia
pexels.com


Sepuluh tahun kemudian, ketika aku telah memiliki dua anak, bahkan saat ini menjelang kelahiran anak ketigaku, aku baru membaca surat-suratnya yang dikirim melalui email. Aku betah berlama-lama di depan monitor. Membaca kata demi kata isi suratnya itu. Kadang aku mengernyitkan dahi, tertawa atau bahkan sedih. Menjadi hiburan tersendiri buatku. Aku akan menghentikan aktivitas itu, manakala anak-anak kembali ke rumah dari sekolah.

Sepanjang waktu sepuluh tahun, setiap bulan dia mengirimiku surat. Baru tergerak hatiku untuk membacanya beberapa hari yang lalu. Kuhitung ada 120 suratnya yang masuk, tanpa satupun kubalas. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan itu. Padahal jauhjauh hari aku sudah benar-benar melupakannya.

Pada hari itu saat aku mengecek emailku. Ada dorongan dari dalam diriku untuk membuka suratnya. Kubuang egoku, tanpa ragu lagi, aku membuka surat pertama yang dia kirim. Berisi sakit hatinya atas penghianatan yang aku lakukan padanya. Surat-surat berikutnya masih senada dengan surat pertama. Betapa kehilangannya dia saat aku memutuskan pergi.

Beberapa surat yang lain bernada lain, tapi tidak kutemukan keikhlasan darinya perihal kepergianku. Di dalam surat itu menceritakan keakuannya. Hari-harinya bagaimana, betapa setianya dia menunggu kepulanganku.

Suratnya yang kelima puluh satu, pada titimangsa aku mengetahui dia tidak di Sulawesi lagi. Melainkan tertulis salah satu kota yang ada di pulau Jawa. Dia terangterangan membahas alasannya meninggalkan tanah Sulawesi.

"Untuk apa saya terus-terusan bertahan di sana. Sementara kau yang saya tunggu belum juga pulang bahkan tidak memberi kabar. Saya tidak ingin selalu terperangkap dalam kenangan kebersamaan kita dahulu. Membuat saya selalu dirundung kesedihan. Hanya kaulah satu-satunya alasan, supaya saya kembali ke tanah itu lagi. Jadi kapan kau pulang? Tidakkah kau berkeinginan melanjutkan mimpi-mimpi kita yang terlanjur diikrarkan bersama?" Begitulah penggalan isi suratnya.

Masih banyak suratnya yang belum kusentuh. Aku berharap ada satu surat berisi kabar baik untukku, bahwa dia telah menemukan penggantiku. Tapi sampai surat keseratus yang aku baca, tidak kutemukan satu nama perempuan pun yang dia sebut selain namaku.

"Di kota ini saya memiliki kenalan perempuan yang cukup dekat dengan saya. Kami sering bersama terlibat dalam suatu kegiatan. Mereka memang cantik-cantik, tetapi tidak satu pun membuat saya terpikat. Agaknya tidak ada perempuan lain yang bisa membuat saya merasakan cinta selain kau. Berilah saya kabar jika kau sudah kembali. Kemudian kita akan menikah."

Rasanya aku mau muntah membaca kalimatkalimat terakhir itu. Anak dalam kandunganku tampak menyadarinya, dia bergerak-gerak. Kutafsirkan itu adalah ketidaksepakatannya perihal kesetiaan mantan pacarku.

Lima belas surat berikutnya, tak bosan-bosannya menceritakan kesehariannya di kota itu. Dia telah sukses menjadi penulis. Katanya novel pertamannya di pasaran menjadi bestseller. Benarkah demikian? Aku belum membaca novelnya itu. Padahal setiap pekan suamiku kerap membeli buku baru.

"Novel kedua dan ketiga saya sedang diurusi penerbit, tidak butuh waktu lama akan segera terbit. Seandainya saya tahu di mana kau berada. Sudah tentu saya kirimkan padamu. Maaf jika ini lancang, kau telah kujadikan tokoh dalam novel itu. Tetapi itu bukan sepenuhnya bercerita tentang kita," tulisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x