ACJP Cahayahati
ACJP Cahayahati life traveler

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, pegiat konservasi energi dan sayang keluarga

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Rintangan Mobil Listrik di Jerman dan Indonesia

12 April 2018   15:01 Diperbarui: 13 April 2018   05:20 3483 9 3
Rintangan Mobil Listrik di Jerman dan Indonesia
Mobil listrik Jaguar di pameran Stuttgart 2018 (dokumentasi pribadi)

Tanggal 31 Mei tahun 2012 saya menulis di Kompasiana tentang Kembalinya Era Mobil Listrik, bisa diklik di sini. Saat itu motivasi saya dipicu oleh gagalnya mobil listrik buatan adik-adik SMK yang tersandung uji emisi. Lho memangnya mobil listrik ada emisinya, apa yang dibakar ???

Kemudian bulan April 2016, saya kembali menulis di Kompasiana tentang nasib mobil listrik saat harga minyak dunia jatuh, bisa diklik di sini, saat itu keinginan menulis saya dipicu oleh kekhawatiran akan nasib mobil listrik bila harga minyak bumi dunia terus jatuh. Kali ini, saya ingin menulis tentang mobil listrik atas dasar keheranan akan pasar mobil listrik Jerman dan polemik mobil listrik Indonesia. Ada apa?

Sejarah Mobil Listrik

Mengulang kembali tulisan pertama saya di Kompasiana tentang sejarah mobil listrik, yang dimulai sejak pertama kali ditemukan antara tahun 1832-1839 oleh orang Scottlandia. Lalu di Jerman pertama kali dibuat di Coburg oleh Andreas Flocken, sekitar tahun 1888. Kebetulan beberapa hari y.l. saya ke pameran di Stuttgart dan melihat sendiri prototip karya Flocken ini, bisa dilihat dalam foto di bawah hasil jepretan pribadi.

Mobil listrik pertama (dokumentasi pribadi)
Mobil listrik pertama (dokumentasi pribadi)

Sampai tahun 1900-an mobil listrik masih bisa berkompetisi dengan mobil bermesin bakar, karena motor listrik memiliki efisiensi lebih tinggi. Namun setelah tahun 1900-an motor listrik tersisihkan karena baterenya besar dan waktunya lama untuk isi ulang, sehingga kalah bersaing dengan mobil bermotor bakar yang bisa lebih lama bertahan di jalan dan lebih nyaman dalam operasi. Apalagi dengan ditemukannya busi dan bahan bakar minyak yang murah, dengan mudah mobil listrik terlupakan dari pasar.

Penjualan Mobil Listrik di Jerman dan Norwegia

Dengan gencarnya isu pemanasan global dan sekarang skandal diesel, para produsen mobil telah berinovasi menciptakan mobil-mobil alternatif, dan tentu saja salah satunya adalah melirik kembali mobil listrik. Mulai dari mobil listrik murni, hibrida atau pun plug-in hibrida mulai banyak diproduksi. Sudah sejak pameran IAA (Pameran Mobil Internasional) 2011 di Frankfurt Jerman, mobil listrik dan mobil hibrida menjadi primadona.

Namun sayangnya, antara pameran dan pasar tidak sejalan. Konsumen Jerman masih ragu dan skeptik dengan mobil listrik. Padahal penjualan mobil diesel bulan Februari 2018 berkurang 19% di Jerman, tapi tampaknya untuk membeli mobil listrik para konsumen di Jerman masih berat, karena itu penjualan mobil bensinlah yang naik. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi penjualan mobil listrik di Norwegia.

Saat ini di Eropa, Norwegia lah negara yang paling tinggi penjualan mobil listriknya. Hampir 35% dari mobil terjual adalah mobil listrik. Di ibukota Norwegia, Oslo, apalagi penjualan mobil sampai mencapai 40%.

Kenapa di Norwegia, mobil listrik diminati? Terutama karena keuntungan finansial, mobil listrik lebih murah dari mobil bensin atau diesel, karena tidak ada pajak impor, tidak ada pajak penjualan atau pun pajak kendaraan plus bebas parkir dan tidak perlu bayar tol. Dan ini tentu saja dijamin oleh DPR alias Parlemennya, yang menjamin bahwa keputusan itu tidak akan diganggugugat sampai tahun 2020, karena Norwegia memang sangat ambisius untuk mencapai target mereka di tahun 2025 yakni semua mobil baru bebas emisi !! (senang ya kalau punya DPR yang memiliki pemikiran maju ke depan)

Walaupun tentu saja semua gerakan baru itu harus melewati semua rintangan dan masalah, saya cukup optimis, orang Norwegia akan berhasil mengatasi semua masalah menuju target kendaraan bebas emisi. Pertama karena penduduk Norwegia itu hanya 5,2 jutaan jiwa, kedua sumber energi listrik mereka hampir 98% dari energi terbarukan (air) jadi walaupun mobil listrik dihitung emisi sumbernya maka emisinya ya hampir nul dan ketiga harga listrik di Norwegia dibandingkan Jerman lebih murah, hampir setengah harga listrik di Jerman.

Jerman dengan Mobil Listrik

Kembali ke Jerman, sebagai Negara yang paling banyak penduduknya se Eropa (EU). Mobil listrik di Jerman memang tidak segemilang di Norwegia. Tentu, satu dua mobil listrik sudah bisa terlihat di pojok kota Jerman sedang dicharged. Tapi harga mobil listrik di Jerman relatif lebih mahal dari mobil bensin atau diesel (kecuali mobil hasil kreasi seorang Profesor dari RWTH Aachen dan teamnya harganya cukup terjangkau) dan bila pun mampu membeli yang mahal, waktu tunggunya lama.

Dan di sisi lain, ada juga kekhawatiran dari para pakar energi Jerman bila dalam satu daerah lebih dari 100 mobil saja diisi dalam waktu bersamaam, maka kemungkinan ngejepret alias black out itu besar.

Wah ... mati lampu di Jerman sangat tidak menyenangkan. Saya pernah mengalami satu kali selama hampir 20 tahun hidup di Jerman, pada tahun 2005, karena kerusakan penghantaran listrik disebabkan oleh musim dingin yang datang tiba-tiba dan dahsyat. Lemari es mati, yang artinya semua persediaan makanan seminggu rusak, tidak bisa masak atau rebus air karena di Jerman hampir semua peralatan masak menggunakan listrik, dan karena tidak pernah mati lampu serta bukan keluarga perokok, maka tidak punya persediaan korek api atau tidak siap lilin, mau belanja pun saat itu tidak mungkin karena sudah tidak ada lagi supermarket buka.

Sangat berbeda tentunya dengan saat mengalami mati lampu di Bandung, karena sering mati lampu jadi bisa dikatakan lebih siap mental dan materil.

Indonesia dengan Mobil Listrik

Berbeda dengan DPR Norwegia yang sadar dan ambisius dengan target lingkungan di negaranya, target lingkungan DPR di Indonesia bagi rakyat seperti saya tidak transparen arahnya. Kadang terdengar gencar tapi seringnya tenggelam.

Saya cukup sedih dan kasihan bila membaca nasib mobil listrik di Indonesia, entah itu penelitiannya atau pun usaha untuk produksinya. Kesannya lebih jadi olok-olok daripada menilai usaha itu sebagai misi masa depan bangsa. Padahal bila kita mau membuka mata dan melihat masa depan bangsa. Indonesia dengan penduduk yang luarbiasa banyak, bahkan nomor empat di dunia, harusnya lebih khawatir dibandingkan negara lain, bagaimana kondisi lingkungan dan pemenuhan energi 250 juta jiwa penduduknya saat ini dan 50 tahun ke depan.

Kembali ke masalah emisi mobil listrik, tentu saja mobil listrik bila melihat di mobilnya saja an sich tidak mengeluarkan emisi, lah wong seperti nonton tivi kan tidak ada pembakaran. Tapi listrik memang dibakarnya di tempat lain. Di Indonesia, misalnya untuk pemenuhan kebutuhan listrik lebih dari 50% sumber berasal dari batu bara.

Nah ini ... yang dipermasalahkan banyak orang, emisi mobil listrik itu tergantung listrik yang masuk ke dalam mobil berasal dari mana. Seperti saya singgung sedikit di atas, untuk Norwegia yang sumber listriknya hampir 98% dari PLTA, tentu saja sangat ramah lingkungan. Tapi listrik di Indonesia, ya sebetulnya akhrinya sama saja seperti membakar lebih dari 50% batu bara di mobil.

Menurut saya, bila melihatnya seperti itu tidak fair ya. Praktik uji emisi kan biasanya juga hanya di knalpot mobil, bila ini yang disepakati ya harusnya mobil listrik ya nul emisi. Namun, bila kesepakatannya melihat dari sumbernya juga, marilah kita lihat juga dari sumbernya untuk emisi mobil bakar juga.

Bilans Ekologi Mobil Listrik

Tidak hanya di Indonesia, para skeptiker ada di mana-mana, juga di Eropa. Untuk itu, banyak penelitian untuk membandingkan mobil dengan transmisi apa lebih ramah lingkungan, mobil listrik atau konvensional (dalam hal ini diesel)?

Keramahan lingkungan ini, bisa dibagi dua kategori dalam hal ini, berhubungan dengan membahayakan kesehatan manusia (diesel dengan emisi NOx dan debu halusnya) atau memicu pemanasan global (emisi CO2).

Nah ... dalam hubungannya dengan pemanasan global, ada penelitian dari Free University of Brussels atas inisiatif dari Transport & Environment, Brussels. Sangat menarik, karena saya sudah menulis terlalu panjang, teman-teman bisa mengkliknya di sini,  jangan khawatir bukan dalam bahasa Jerman tapi dalam bahasa Inggris. 

sumber: elektroauto-news.net
sumber: elektroauto-news.net

Singkatnya, disimpulkan di sana bahwa tetap saja ternyata mobil listrik lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil diesel. 

Bisa dilihat di tabel di atas, bahkan di negara seperti Polandia yang sumber listriknya 90% dari batubara tetap saja dibandingkan dengan mobil diesel memiliki bilans ekologi 25% lebih baik, di Jerman 45% lebih baik. Apalagi di Indonesia, ya kan. Selamat berakhir minggu dan tetaplah berhati bersih. (ACJP)