Mohon tunggu...
Kristian Wongso
Kristian Wongso Mohon Tunggu...

Medical Doctor, @kristianwongso, Socially Pluralist

Selanjutnya

Tutup

Muda

Duta Wisata: Who and How?

4 Maret 2014   03:42 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:16 9265 0 0 Mohon Tunggu...

Duta wisata, sebuah sebutan yang akrab sekaligus masih asing di sebagian kalangan masyarakat. Duta wisata adalah ikon pariwisata dan kebudayaan yang terdiri dari sepasang anak muda yang terpilih setelah melewati serangkaian rangkaian seleksi yang dikemas dalam bentuk pemilihan dengan format serupa kontes kecantikan.

None Jakarta adalah ajang pemilihan duta wisata yang pertama kali diadakan di Indonesia yaitu sejak 1968. Sejak tahun 1971, None Jakarta kemudian berubah menjadi Abang None Jakarta setelah ajang ini juga membuka kesempatan bagi kontestan pria untuk ikut serta. Kesuksesan Abang None Jakarta kemudian mendorong munculnya ajang-ajang serupa di daerah-daerah lain. Sebutan untuk kontestan pria dan wanitanya disesuaikan dengan sebutan lokal daerah tersebut yang merujuk kepada kata ‘muda-mudi’ (misalkan “Jaka-Dara” di Kota Medan, “Mas-Mbak” di Jawa Tengah, “Koko-Cici” di Jakarta sebagai perwakilan budaya Tionghoa, “Nanang-Galuh” di Kalimatan Selatan dan “Teruna-Teruni” di Bali). Setiap provinsi memiliki duta wisatanya masing-masing, bahkan tidak sedikit juga kabupaten kota yang memiliki duta wisatanya sendiri.

Umumnya syarat untuk menjadi peserta dalam pemilihan duta wisata di tiap daerah hampir sama. Usia peserta biasanya dibatasi 18-25 tahun, pendidikan minimal SMA/sederajat, kemampuan berbahasa asing dan belum menikah. Masih ada syarat lain lagi, yaitu tinggi badan. Biasanya untuk kontestan pria ditentukan minimal 170 cm dan 165 cm untuk kontestan wanita*.

Awalnya seluruh peserta akan melewati seleksi administrasi. Tahap ini termasuk pengukuran tinggi dan berat badan, penyerahan dokumen-dokumen, dan tidak sedikit pemilihan yang meminta pelampiran surat izin dari orang tua untuk mencegah tuntutan di kemudian hari.

Mereka yang lolos akan diseleksi lebih lanjut. Setiap daerah memiliki kebijakan untuk tahap seleksi ini. Ada yang menggunakan psikotes, tes tulis, wawancara dan kemampuan berbahasa asing, tes bakat, atau bahkan catwalk. Semuanya tergantung figur yang sedang dicari oleh panitia pemilihan.

Mereka yang lolos akan ditetapkan sebagai semifinalis atau langsung sebagai finalis (tergantung kebijakan daerah penyelenggara).

Mereka yang masih menjadi semifinalis akan melalui tes, seperti pemotretan, unjuk bakat, fashion show busana daerah, dan tidak jarang in-depth interview (wawancara mendalam). Pada tahap ini akan diuji komitmen calon finalis. Komitmen adalah hal wajib yang harus dimiliki, karena duta dituntut untuk berkontribusi selama masa baktinya. Semifinalis yang tidak jelas komitmennya akan gugur dengan sendirinya, walaupun ia adalah seorang yang berprestasi baik akademik maupun non-akademik.

Dari sinilah dipilih siapa yang pantas menjadi finalis dan berhak merasakan kebanggaan tampil di panggung grandfinal. Jumlah finalis beragam di setiap daerah; ada yang belasan, puluhan, atau ada juga yang hanya 6 pasang (pemilihan “Nanang-Galuh” di Banjarbaru). Khusus untuk pemilihan di tingkat provinsi jumlah finalis disesuaikan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada di provinsi tersebut.

Selanjutnya adalah tahapan karantina. Durasi karantina beragam antar daerah; kurang dari seminggu hingga yang hampir tiga minggu. Selama karantina, para finalis akan dibekali ilmu, wawasan, dan juga cara bersikap yang baik. Di saat yang bersamaan mereka juga akan melewati penilaian yang dapat berupa tes tulis, in-depth interview, bakat ataupun presentasi potensi pariwisata daerah.

Tiap pemilihan duta wisata memiliki filosofi penilaiannya sendiri, namun tiga poin yang selalu ada adalah 3B: Brain, Beauty, Behavior**.

Seorang duta akan sering bertemu dengan orang banyak, sehingga diperlukan intelektualitas (brain) yang baik dalam memposisikan dirinya sebagai seorang duta.

Banyak orang yang merasa tidak aman jika mendengar kriteria beauty. Ini bukan berarti seorang duta harus ganteng/cantik luar biasa, atau memiliki tubuh seorang model, namun yang terpenting adalah ia dapat menampilkan diri dengan baik ke publik melalui kebersihan diri, kerapihan penampilan, dan tentunya senyum sebagai salah satu bahasa komunikasi yang penting untuk memberikan kesan baik pada orang lain.

Setiap duta wisata mengemban nama besar budaya yang diwakilinya, sehingga di manapun ia berada, ia harus menjaga perilakunya (behavior). Bayangkan apa kata orang jika seorang duta pada kehidupan sehari-harinya ternyata perilakunya tidak dijaga. Tentunya ia akan gagal berperan sebagai seorang duta yang santun.

Saya ganteng/cantik, prestasi akademik saya sudah terlalu banyak, tapi kenapa saya tidak menang? Mungkin jurinya ada yang tidak jujur.” Sebelum berpendapat seperti itu, alangkah baiknya menilai diri sendiri; apakah perilakunya sudah baik? Selama masa karantina, tiap finalis diperhatikan dengan saksama. Biasanya banyak yang berpura-pura baik. Tapi kepura-puraan ini akan terdeteksi dengan mudah oleh tim juri yang berpengalaman, para senior, dan psikolog. Lebih jelas lagi bila proses karantina yang berlangsung lama. Tipsnya sebenarnya mudah: tampilkan diri sendiri dalam versi terbaik secara tulus.

Seorang duta diharapkan memiliki perilaku positif yang bisa diteladani oleh lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, Asosiasi Duta Wisata Indonesia, salah satu wadah nasional duta wisata di Indonesia, berpendapat bahwa salah satu pembeda pemilihan duta wisata dengan kontes kecantikan adalah pengutamaan behavior, brain, barulah kemudian beauty.

Akhir masa karantina akan ditutup dengan malam grandfinal. Pada malam itu akan ditentukan pasangan pemenang, wakil I, wakil II, harapan I, harapan II dan pemenang atribut (kategori favorit, intelegensia, persahabatan, best performance, atau lainnya).

Namun jangan pernah disangka bahwa perjalanan akan berakhir hingga malam final; justru di sinilah awalnya. Finalis yang menang (ataupun mungkin juga yang tidak menang) akan menandatangani kontrak dengan Dinas Pariwisata langsung yang berisi kesediaan berpartisipasi aktif selama masa baktinya (biasanya satu tahun). Bahkan, ada daerah yang mengharuskan para finalisnya tidak menikah selama masa baktinya. Hal ini semata-mata agar keaktifan mereka tidak terganggu oleh kesibukan mengurus keluarga.

Banyak dari kita yang tidak tahu apa yang dikerjakan seorang duta wisata pada masa baktinya. Tentunya bukan sekedar berdiri sambil senyum-senyum tebar pesona, atau membawa baki. Tugas seorang duta wisata sangat beragam. Dari mempromosikan kebudayaan (misalkan melalui stand-stand budaya, mengadakan event budaya) baik di dalam atau luar negeri, menjadi tamu undangan pada acara-acara budaya atau sosial, hingga tugas mendampingi pejabat (walikota, gubernur, bahkan bisa saja presiden).

Tidak hanya itu, seorang duta juga secara mandiri tergabung dalam paguyuban di daerahnya untuk berkontribusi baik di bidang pariwisata, kebudayaan, sosial, dan juga pendidikan.

Percayalah bahwa pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang sangat unik karena tidak semua orang dapat mengalaminya. Pengalaman untuk bisa membagi waktu antara kewajiban belajar atau bekerja dengan tugas duta wisata, keterampilan dalam membangun relasi, tuntutan untuk melakukan berbagai tugas yang berhubungan dengan public speaking, membentuk jebolan duta ini menjadi insan yang berprestasi di berbagai bidang.

Hal berharga lain yang didapatkan adalah ‘keluarga baru’ yang tidak lain adalah rekan-rekan seangkatan, senior dan junior di paguyuban. Keluarga kedua ini tidak jarang menjadi tempat mencari dukungan moral sekaligus persahabatan.

Jadi, apakah kamu duta wisata selanjutnya ?

*Beberapa daerah mungkin saja menetapkan persyaratan yang berbeda

*Ada beberapa duta daerah yang berprinsip 3B+1T (Brain, Beauty, Behavior, Talent), 4B (Brain, Beauty, Behavior, Braveness)

A. A. Ngr. Agung Adi Pratama Wicaksana Putra, S.Psi

Ketua Umum Asosiasi Duta Wisata Indonesia 2013-2015

Duta Wisata Indonesia Provinsi Bali 2009

dr. Kristian Wongso

Wakil I Koko Jakarta 2013

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x