Mohon tunggu...
rizqa lahuddin
rizqa lahuddin Mohon Tunggu... Auditor - rizqa lahuddin

hitam ya hitam, putih ya putih.. hitam bukanlah abu2 paling tua begitu juga putih, bukanlah abu2 paling muda..

Selanjutnya

Tutup

Beauty Artikel Utama

Tren "Fast Fashion" dan Larisnya Baju Bekas di Indonesia

18 Januari 2019   12:47 Diperbarui: 19 Januari 2019   06:47 3537
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Namanya boleh berbeda-beda di berbagai daerah. Di Jogja orang menyebutnya "awul-awul", sedangkan daerah lain baju bekas identik dengan istilah "Cakar" yang merupakan kepanjangan dari "Cap Karung". 

Yang jelas, barang-barang seperti ini adalah baju bekas yang diimpor dari luar negeri kemudian didatangkan ke Indonesia kebanyakan melalui jalur ilegal dan tidak resmi karena memang sudah tidak diperkenankan lagi mengimpor baju bekas sejak tahun 2015.

Oke, isu higienitas memang selalu yang jadi highlight saat membahas baju bekas impor. Asalnya yang tidak jelas, penanganannya yang serampangan  dan tentu saja harga diri yang kadang merasa risih saat harus memakai baju bekas orang lain jadi alasan beberapa orang tidak mau memakainya. 

Tetapi berburu baju bekas ibarat mencari harta karun terpendam. Siapa yang tidak merasakan kepuasan saat menemukan sebuah jaket "The North Face" asli dalam kondisi masih bagus hanya dengan harga Rp. 50.000an yang harga aslinya bisa 50X lipat jika dibeli dalam kondisi baru. Bahkan jaket merk yang sama kualitas KW atau palsu justru lebih mahal dari Rp. 50.000.

Tren Fast Fashion

Jika Kompasianer pernah berbelanja di outlet milik Uniqlo, H&M, Zara, atau Giordano, seperti itulah gambaran produk-produk hasil dari tren Fast Fashion. 

Semuanya dimulai dengan peragaan busana oleh desainer-desainer ternama untuk melihat tren busana ke depan, kemudian keesokan harinya desainer dari Zara tadi langsung membuat produk dengan tampilan mirip, dan dalam hitungan hari, pakaian-pakaian tersebut sudah diproduksi di rekanan-rekanan mereka yang kebanyakan di negara berkembang (seperti Kamboja, Vietnam, atau bisa juga China), dikirimkan dan tersedia di gerai-gerai mereka di seluruh dunia dan siap dibeli oleh konsumen bahkan sebelum baju dari desainer ternama di peragaan busana tadi tersedia di pasaran..

Fast Fashion memungkinkan pembeli mendapatkan barang tren terbaru dalam waktu paling cepat, harga murah dengan merk yang terkenal. 

Murah disini mungkin banyak yang berpikir bahwa standar murahnya adalah murah versi Eropa, tapi bagi yang sudah pernah masuk outletnya H&M atau Giordano akan berpikir bahwa memang produk mereka itu sebenarnya tidak terlalu mahal. Relatif sama dengan pakaian yang dijual di Matahari atau Ramayana.

Efek adanya fast fashion ini di berbagai negara, adalah begitu gampangnya seseorang untuk gonta-ganti baju. Tren sebuah busana mungkin hanya akan bertahan selama 4 bulan (karena ada koleksi untuk 4 musim) dan paling lama 1 tahun. 

Lewat dari itu, mereka sudah tidak mau lagi memakai baju yang sama karena sudah out of date, tidak musimnya lagi, walaupun kondisinya masih bagus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Beauty Selengkapnya
Lihat Beauty Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun