Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

[Populer dalam Sepekan] Fenomena Buzzer Politik | Bicara Keadilan HAM | Kopi Asin?

13 Oktober 2019   23:59 Diperbarui: 14 Oktober 2019   02:35 0 3 0 Mohon Tunggu...
[Populer dalam Sepekan] Fenomena Buzzer Politik | Bicara Keadilan HAM | Kopi Asin?
ilustrasi. (Sumber: Kompas)

Buzzer politik kini tengah menjadi sorotan publik. Narasi yang kemudian berkembang, sayangnya, membuat aktivitas buzzing lain mendapat label buruk.

Karena, seperti yang kita tahu, bahwa apa yang mereka utaran --baik itu lewat media sosial atau tidak-- dapat memegaruhi opini publik terhadap suatu hal.

Informasi yang dibentukn oleh buzzer bisa beragam, seperti mengedukasi, meningkatnya awareness, dan membangun diskusi. Intinya, kehadiran dan aktivitas buzzing ini sesungguhnya memberi nilai positif.

Akan tetapi, bagaimana jika itu dilakukan oleh dan untuk kegiatan politik? Apa yang dirugikan jika terus dibiarkan dan dilanjutkan?

Selain ramai akan perbincangan buzzer, pada pekan ini Kompasiana juga banyak yang membahas soal peyerangan yang dialami Ninoy Karundeng, tren es kopi susu kekinian hingga catatan laga Derby d'Italia akhir pekan kemarin.

Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

1. Buzzer Bersatu, Tak Bisa Disalahkan!

Istilah buzzer atau pendengung politik memiliki peran penting. Aktivitas mereka dapat membuat, bahkan mengubah lanskap percakapan digital.

Pada praktiknya, menurut Kompasianer Yudhi Hertanto bahkan membuat ruang maya disesaki berbagai kepentingan, termasuk untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Dan yang perlu juga diperhatikan adalah bisa dengan menarasikan sebuah informasi yang kurang lengkap.

"Disinformasi yang merupakan tindakan sadar dengan sengaja kemudian ditangkap secara emosional dan dipercayai, menciptakan misinformasi," tulis Kompasianer Yudhi Hertanto.

Nah, ruang digital dengan segala keberlimpahan informasi dapat menghadirkan efek echo chamber bagi penggunanya untuk bisa mendapat informasi secara utuh. (Baca selengkapnya)

2. Bicara HAM Jangan Pilih-pilih, Ninoy Juga Manusia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3