Kompasiana
Kompasiana Official

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Menerjemahkan Rasa Bersama Sapardi Djoko Damono dan Sena Didi Mime di Kompasianival 2018

7 Desember 2018   13:06 Diperbarui: 7 Desember 2018   19:52 394 4 0

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

Kami yakin tentu Anda pernah mendengar penggalan puisi di atas. Ya, cuplikan bait-bait puisi karya Sapardi Djoko Damono tersebut rasanya cukup familiar di kalangan generasi muda ataupun generasi di tahun-tahun sebelumnya.

sumber: Kompas.com
sumber: Kompas.com
Sapardi Djoko Damono, pujangga kebanggaan Indonesia yang dikenal juga dengan sebutan SDD telah berkarya di bidang sastra sejak tahun 1969. Beliau dikenal melalui berbagai karya puisinya yang bercerita tentang hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, tentang hal-hal di sekitar kita yang seringkali terlupakan, tentang mencari jati diri, perihal Tuhan, kehilangan, jatuh bangun, sepi, dan juga kenangan.

Beberapa karya SDD antara lain Hujan di Bulan Juni, Yang Fana adalah Waktu, Duka-Mu Abadi, Mata Abadi, Hujan Bulan Juni, Ayat-ayat Api, dan Pingkan Melipat Jarak. Sampai saat ini, karya-karya SDD telah diterjemahkan ke bahasa daerah dan beberapa bahasa asing. Tak hanya puisi, SDD juga kerap menuliskan cerita pendek, esai, kritik sastra, sejumlah artikel di surat kabar, hingga menerjemahkan karya penulis asing.

Soal menuangkan sebuah rasa dan peristiwa tidak melulu hanya lewat goresan tangan atau larik-larik puisi saja. Tapi kerapkali hal tersebut diterjemahkan dalam gerak tubuh, melalui seni teatrikal misalnya.

Sumber: Sena Didi Mime
Sumber: Sena Didi Mime
Adalah Sena Didi Mime, kelompok teater pantomime yang didirikan tahun 1987 oleh Alm. Sena A. Utoyo dan Alm. Didi Petet. Pertunjukan kolosal pertama Sena Didi Mime berjudul "Becak" didukung oleh 70-100 aktor dan dibawakan dalam durasi 2 jam tanpa jeda.

Sudah hampir 30 tahun berdiri, saat ini kelompok teater pantomime Sena Didi Mime berada di bawah pimpinan sutradara Yayu Unru. Sena Didi Mime tetap memiliki jati diri dan keunikannya tersendiri, tidak hanya sebagai kelompok teater pantomim saja tetapi juga melibatkan dialog dan interaksi dalam suguhan pertunjukannya. Yang berbeda hanyalah bentuk pertunjukannya yang semakin minimalis dan efisien, tidak lagi melibatkan lebih dari 10 pemain di atas panggung.

Kepiawaian generasi penerus Sena Didi Mime dalam berkarya telah menorehkan prestasi baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Dalam ajang Istropolitana Project 2016 di Bratislava, Slovakia, Sena Didi Mime mendapatkan penghargaan "The Craziest Production" untuk pertunjukkan "Classroom" yang dibawakannya.

Di tahun berikutnya, Sena Didi Mime kembali menggelar nomor pertunjukan baru bertajuk "Mati Berdiri" yang dipertontonkan dalam ajang Hela Teater di Komunitas Salihara, dan mendapatkan respon sangat positif dari penonton saat ini.

Tentunya kalian tidak ingin ketinggalan untuk menikmati karya-karya dari kedua sastrawan dan seniman Indonesia ini kan? Yuk, kita bersama-sama menerjemahkan rasa melalui bait-bait puisi yang akan dibacakan langsung oleh Sapardi Djoko Damono dan pertunjukan teatrikal dari kelompok teater pantomim Sena Didi Mime di panggung utama Kompasianival 2018.

Segera daftarkan diri kamu di www.kompasianival.com! Ayo, kita malam mingguan bersama di Kompasianival 2018.