Mohon tunggu...
Kemal Jam
Kemal Jam Mohon Tunggu... Freelancer - Belajar Menulis dan Mengamati sekitar.

Mengamati apa yang nampak, dan menggali apa yang tak nampak. Kontak langsung dengan saya di k3malj4m@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

7 Perubahan Sosial Efek Zonasi, Mencari Equilibrium Baru

2 Juli 2019   15:26 Diperbarui: 2 Juli 2019   19:51 938
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ratusan orangtua siswa rela antre demi mendaftar di SMA Negeri 3 Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (24/6/2019).(diambil dari KOMPAS.com/HENDRA CIPTA)

Tetapi dengan adanya sistem zonasi ini, penerimaan sekolah negeri didasarkan jarak antara tempat tinggal dengan sekolah. Sedangkan kita ketahui di lapangan anak-anak yang prestasi akademiknya baik, tidak semuanya jaraknya dekat dengan sekolah. Dengan demikian mereka akan lari ke sekolah-sekolah swasta. Maka sekarang tinggal bagaimana sekolah swasta mampu menjual keunggulannya sebagai sekolah yang baik bagi anak-anak cerdas tersebut.

2. Sekolah Negeri Terlanjur Favorit Berjuang Demi Prestasi
Pemahaman sebelumnya penerimaan peserta didik baru di sekolah negeri didasarkan atas nilai Ujian Nasional dan nilai rapor, sehingga siswa-siswa akan bersaing dengan kemampuan akademisnya untuk dapat masuk ke sekolah negeri. Sehingga peserta didik yang masuk adalah mereka yang memiliki prestasi akademik baik. Sedangkan sistem zonasi yang baru tidak demikian, rata-rata nilai akademik mereka yang diterima, tidak sebaik sebelumnya alias menurun.

Sehingga dalam rangka mendapatkan capaian prestasi yang memuaskan sekolah negeri yang terlanjur favorit harus berjuang lebih keras. Ini akan terasa berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena sebelumnya mereka memiliki peserta didik yang lebih unggul sehingga lebih mudah mencapai prestasi. Saat ini peserta didik  mereka bukan siswa unggul, sehingga memerlukan pelatihan, pembimbingan dan pengarahan lebih ekstra. Apabila ini gagal disadari dan tidak dilakukan maka kualitas pendidikan di sekolah negeri akan anjlok.

3. Peningkatan Kualitas Sekolah Negeri non Favorit terutama di Daerah
Di beberapa kabupaten sekolah favorit adalah di kota sebelah. Akhirnya kebiasaan dalam masa PPDB, anak-anak didik yang lulus dan nilainya baik berbondong-bondong masuk sekolah ke kota tetangga. Tetapi akibat sistem zonasi ini mereka banyak bertahan di kotanya. Fenomena ini cukup jelas dideskripsikan oleh Wistari Gusti Ayu dalam tulisannya"Terima Kasih Sekolah Pinggiran Ramai Lagi akbat Zonasi."

Mungkin secara jangka panjang, akan ada kemungkinan akan mempertahankan mereka untuk tinggal dan berkarya di daerahnya. Sehingga perekonomian di kabupaten bergeliat diisi oleh anak-anak muda yang tidak merantau.

4. Orangtua Siswa Berebut Tempat Tinggal di Sekitar Sekolah Negeri
Sudah menjad pemahaman umum menempuh pendidikan di sekolah negeri lebih murah dibandingkan sekolah swasta. Sehingga wajar kiranya orang tua akan memperjuangkan anaknya masuk sekolah negeri. Sebelumnya upaya itu dilakukan dengan mendorong agar nilai rapor sekolah dan UN anaknya bagus. Tetapi dengan adanya sistem zonasi jarak yang menentukan. Sehingga pesaingan yang muncul adalah persaingan "jengkal rumah ke sekolah".

Indikasi tersebut nampak dalam pemberitaan-pemberitaan mengenai PPDB 2019, yang menampilkan banyak orang tua yang protes anaknya tidak diterima padahal jarak rumah ke sekolah dekat. Pola pikir jarak tersebut nampaknya akan menjadi pola pikir tetap apabila kebijakan zonasi ini di berlakukan, mengingat tidak semua wilayah tedapat sekolah negeri.

Bagi yang di tempat tinggalnya tidak ada sekolah negeri yang dekat, tetapi menginginkan sekolah yang terjangkau, mereka akan pusing memikirkan bagaimana caranya agar dapat pindah tempat tinggal ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah. Mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk memindahkan anaknya di rumah kerabat, mencari rumah yang dapat disewa, atau membeli rumah yang strategis. 

5. Persaingan Antar Sekolah Bukan lagi Persaingan Input
Dalam cara pandang lama sekolah favorit terpatok pada sekolah-sekolah tertentu saja. Pandangan semacam ini dikarenakan masyarakat terlanjur terdidik bahwa hanya sekolah-sekolah tertentu saja sebagai sekolah berkualitas. Akhirnya para peserta didik yang merasa nilainya baik berebut mendaftar di sekolah favorit tersebut.

Akibat reputasi yang sudah membeku di benak masyarakat itu sesama sekolah negeri dan swasta dirugikan. Karena semua siswa kualitas berkumpul di satu atau dua sekolah, sedangkan sekolah yang lain hanya mendapatkan sisanya. Padahal sekolah-sekolah tersebut bisa dibilang bukan sekolah yang secara kualitas buruk, bahkan ada beberapa yang akreditasinya A. Oleh karena adanya pandangan sekolah favorit itu terbakukan ke sekolah-sekolah tertentu maka mereka seolah berusaha meningkatkan kualitas seperti apapun akan tetap kalah pamor.

Sebagai bukti dapat ditinjau di kota saudara masing-masing. Atau perhatikan contoh di kota Surabaya. Orang di Surabaya jika ditanya mana yang lebih baik antara SMAN 5 Surabaya dan SMAN 17 Surabaya, kebanyakan akan menjawab tentu SMAN 5 Surabaya. Tetapi jika kita mau merujuk pada penilaian BAN-SM (Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah), ternyata SMAN 17 Surabaya sama-sama telah mendapatkan akreditasi A. Berati secara perangkat-perangkat dari sekolah tersebut bisa dibilang sekolah yang baik dan tidak kalah dari SMAN 5 Surabaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun